
Viola tersenyum ketika merasakan sepasang tangan memeluk pinggang polosnya. Dia mengelus punggung tangan itu lembut. Namun saat kepala laki-laki yang memeluknya bersandar di bahu Viola. Dia merasakan kalau wangi dari tubuh laki-laki itu bukanlah wangi dari tubuh Taksa.
Viola menghempaskan tangan yang memeluk pinggangnya. Dia langsung duduk sambil menarik selimut dan menatap siapa laki-laki yang tidur dengannya tadi malam.
"Siapa kau?" tanya Viola takut. Dia sedikit mundur untuk menjauh dari laki-laki yang kini sedang menopang kepalanya dengan tangannya sambil menatap Viola penuh damba.
"Aku adalah orang yang sanggup membuat mu menjerit minta ampun Sayang. Kenapa kau sangat ketakutan? Bukankah semalam kau sangat menyukainya?"
"Jangan gila. Aku tidak mungkin menerima sentuhan dari orang sepertimu. Kau siapa? Kenapa aku bisa ada di sini?" Viola melihat ke seluruh sudut kamar hotel itu. Ini bukan kamar hotel yang biasa dia pakai dengan Taksa. Jadi laki-laki brengsek ini memang telah menidurinya di tempat lain.
"Semalam kau menghampiriku lebih dulu. Kau ingat-ingat lagi bagaimana ganasnya kau semalam. Lihat seluruh tubuhku menjadi seperti kulit macan tutul."
Viola membekap mulutnya terkejut melihat bekas kemerahan di dada dan di leher laki-laki yang ada di hadapannya. Habislah dia, dia benar-benar sudah bisa ditolong.
"Aku tidak mengingat apapun. Aku anggap ini adalah sebuah kesalahan. Aku tidak mengenalmu. Dan kau juga tidak tahu siapa aku bukan? Jadi setelah aku pergi dari sini, anggaplah kita tidak pernah melakukan apapun. Kita hanya melakukan kesalahan. Anggap saja kita tidak pernah bertemu."
Laki-laki itu tersenyum kecut. Dia memperhatikan Viola yang sedang sibuk memungut pakaianya yang ada fi atas lantai.
"Kau gila!" pekik Viola melihat laki-laki itu dengan santainya terlentang tanpa mengenakan apapun."
Laki-laki itu hanya terkekeh. Selimut yang tadi dia pakai ditarik dan dipakai Viola untuk menutupi seluruh tubuhnya. Jadi jangan salahkan dia kalau dia berbaring tanpa kain penutup.
"Dasar baji**an!" umpat Viola sebelum masuk kedalam kamar mandi.
"Kau sangat menarik Viola. Aku menyukainya," gumam laki-laki itu. Dia memungut baju juga pakaian dalamnya yang ada dilantai. Setelah mengenakan semua pakaiannya, dia duduk di tepian ranjang sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Kau mau kemana?" tanya laki-laki itu melihat Viola yang baru keluar dari dalam kamar mandi.
"Kau pikir aku akan tinggal dengan orang gila seperti mu? Jangan harap!"
Viola berjalan dengan tergesa menuju pintu kamar hotel. Dia mencoba untuk membuka pintu, namun tidak bisa. Pintunya terkunci.
"Kau membutuhkan ini?" laki-laki itu memutar kunci kamar hotel di jari telunjuknya.
Viola mendengus. Dia berjalan mendekati orang itu. Tangannya hendak menyambar kunci, namun dengan gerakan cepat orang yang memegang kunci itu menjauhkan tangannya dari Viola.
"Jangan harap kau akan mendapatkan kunci ini dengan mudah." Pria itu menatap Viola tajam. " Aku tahu siapa kau Viola. Dan, aku tahu kau sudah menikah juga sudah memiliki suami namun kau memiliki selingkuhan di luar rumah. Apa aku salah?" tanya laki-laki itu memainkan rambut Viola dengan jemarinya.
Viola terdiam. Dia bingung harus mengatakan apa. Kalaupun dia berbohong, sepertinya laki-laki yang ada di hadapannya ini bukanlah laki-laki biasa. Dia tidak mungkin tahu segalanya kalau dia bukan orang yang memiliki pengaruh di kota itu.
"Apa yang kau inginkan?" Viola menatap laki-laki itu tajam.
"Aku tahu kau sangat cerdas. Kau langsung pergi ke inti percakapan padahal aku belum mengatakan apapun."
Laki-laki itu tersenyum lalu menarik pinggang Viola dan menjatuhkannya di atas ranjang.
"Kau Andreas Anderson?" gumam Viola dengan suara yang sangat pelan.
Andreas Anderson adalah salah satu keluarga chaebol yang ada di kota C. Namanya sudah sangat terkenal. Bahkan dari gosip yang ada, Andreas adalah seorang gigolo di kota itu. Dia memiliki seorang istri, namun tidak ada yang tahu, siapa dan bagaimana rupa istrinya.
Andreas mengangguk. "Hmm, kau tahu siapa aku, itu artinya kita berjodoh. Aku ingin kau menjadi wanita simpanan ku."
Viola dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau. Kau sudah memiliki seorang istri. Aku tidak mau menjadi wanita simpanan mu."
Viola memberontak supaya dia bisa lepas dari kungkungan Andreas. Bukannya melepaskan Viola, Andreas malah semakin menghimpit tubuh Viola membuat wanita cantik itu meringis menahan sakit.
"Jangan sok jual mahal. Aku akan membantumu menyingkirkan istri kedua suamimu kalau kau mau menjadi wanitaku."
Viola diam. Dia yang sejak tadi memejamkan matanya membuka matanya perlahan lalu menatap mata Andreas lekat. Andreas mengangguk meyakinkan Viola.
"Aku menjamin kalau kau akan puas dengan hasil kerjaku. Aku tidak akan mengecewakan mu Honey!"
Viola diam saat jemari Andreas menyentuh wajahnya dengan gerakan sensual. Dia harus mempertimbangkan apa yang ditawarkan oleh Andreas. Kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali.
"Aku mau menjadi wanita mu Andreas."
****
Hari sudah semakin siang. Taksa sedang kebingungan karena Viola tidak ada. Dia juga tidak bisa menghubungi Viola karena tas juga handphone Viola ada bersamanya. Dia sudah ada di kamar hotel sejak semalam. Dia juga sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Viola namun mereka tidak menemukan jejak. Bahkan setelah dia mengecek rekaman CCTV pun dia tidak menemukan apapun.
Taksa mengambil semua barangnya termasuk barang milik Viola. Dia harus mencari Viola sekali lagi. Mungkin saja Viola ada si suatu tempat yang sering dia dan Viola kunjungi. Dia masuk ke dalam mobil lalu menjalankan mobilnya untuk pergi ke tempat pertama.
"Kau kemana Viola? Aku bahkan sudah menelpon manager juga asisten mu. Tapi mereka tidak mengetahui keberadaan mu. Kau ingin main-main denganku hah!"
Taksa memukul setir mobilnya beberapa kali. Dia sudah menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencari Viola. Andai saja dia sudah tidak membutuhkan wanita itu, dia tidak akan mencarinya seperti ini. Mau Viola tenggelam di dasar samudra saja Taksa tidak akan perduli.
Matanya melihat ke berbagai arah secara bergantian. Dia sedang ada di pusat kota yang dimana tempat yang dia datangi ini adalah surganya para anak muda yakni tempat nongkrong dan lain sebagainya. Sudah satu jam dia mengelilingi area itu. Namun Taksa masih belum melihat batang hidung Viola sedikitpun.
Kitttttt ...
Taksa menghentikan mobilnya. Dia sangat terkejut karena mobilnya hampir saja menabrak seorang pejalan kaki yang hendak menyebrang. Taksa langsung keluar dari dalam mobil.
"Kau bodoh hah? Mobil sebesar ini kau masih yidak bisa melihatnya? Kau buta atau bagaimana?"
Taksa berteriak kepada seseorang yang sedang duduk tersungkur di atas jalanan. Dia sangat marah karena sedang pusing malah di tambahi masalah oleh penyeberang jalan yang menurutnya tidak memiliki mata.
"Kau!"
...To Be Continued....