Extraordinary Love

Extraordinary Love
Kepergian Kent



Camelia menggeliat ketika dia merasakan sebuah kecupan di pipi mulusnya. Wanita cantik itu membuka matanya perlahan. Dia tersenyum ketika melihat sang suami sedang tersenyum ke arahnya sembari mengusap kepalanya lembut.


"Kak!" gumam Camelia dengan suara parau khas orang bangun tidur.


"Morning Baby!"


"Heum." Camelia menyahut. "Kakak ini jam berapa? Kenapa kau sudah rapi seperti itu?"


Kent duduk di tepian ranjang di samping istrinya. Dia menarik tangan Camelia kemudian mengecup punggung tangan itu perlahan. "Aku ada tugas ke luar kota Baby, mendadak. Aku baru di kabari Devano tadi malam."


Camelia memanyunkan bibirnya. "Kenapa tidak memberitahuku?" tanya Camelia sedikit kesal. Kalau dia tahu suaminya akan pergi keluar kota, dia pasti akan bangun lebih pagi dan akan menyiapkan semua keperluan suaminya. Kalau seperti ini, dia malah terlihat seperti seorang istri yang tidak perduli kepada suaminya.


"Semalam aku ingin memberitahumu Baby, namun kau sudah tidur. Aku tidak tega kalau aku harus membangunkan mu. Lagipula aku hanya akan pergi sebentar, kalau semuanya berjalan lancar, nanti malam aku akan langsung kembali.


"Ya sudah, Kakak hati-hati. Maaf aku tidak membantu Kakak menyiapkan keperluan. Kakak sudah sarapan belum?" Camelia kembali bertanya.


"Aku sudah sarapan. Bi Indri datang lebih pagi karena semalam aku sempat memberitahunya kalau aku akan berangkat pagi-pagi sekali. Ini masih pagi. Kau tidur lagi ya! Masih jam 7, masih ada waktu 2 jam untuk tidur. Kau ada kelas jam 10 siang kan?"


Camelia mengangguk. Dia memejamkan matanya ketika Kent mengecup kening juga bibir nya sekilas. "Hati-hati, kalau ada apa-apa telepon aku segera! Kalau takut aku pulang malam, pergilah ke rumah ibu atau ajak melodi kesini."


"Iya Kak. Kakak juga hati-hati. Kabari aku kalau Kakak sudah sampai."


"Heum."


Kent beranjak dari duduknya hendak pergi dari kamar, namun baru satu langkah dia mengalihkan kakinya, sepasang tangan mungil sudah melingkar di pinggangnya dengan erat. Kent tersenyum, laki-laki itu melepas pelukan Camelia kemudian berbalik untuk memeluk sang istri.


"Aku janji aku tidak akan lama. Aku ingin mengajakmu namun waktunya terlalu mepet. Aku takut kau akan kecapean. Jangan sedih ya! Aku janji akan membelikan mu oleh-oleh yang banyak."


"Aku tidak mau oleh-oleh Kak. Aku mau kau cepat pulang. Oleh-oleh tidak berarti untuk ku. Aku lebih senang kalau Kakak kembali lebih cepat."


Kent mengangguk. Sebenarnya dia juga tidak ingin pergi jauh dari Camelia, namun karena pekerjaan ini sangat mendesak dan ini merupakan proyek yang sangat penting, Kent tidak bisa mengabaikannya begitu saja.


Setelah berusaha untuk menenangkan dan meyakinkan Camelia. Kent pergi dari rumahnya menuju ke airport. Meskipun dia hanya pergi keluar kota, itu akan memakan waktu lumayan lama jika menempuh jalur darat.


Sementara di dalam kamar. Di depan jendela kaca. Camelia memperhatikan kepergian Kent dengan mata yang berkaca-kaca. Entah kenapa hatinya terasa sangat sedih melihat Kent pergi meninggalkannya. Padahal Kent pergi tidak akan lama. Namun hal ini membuat Camelia merasa tidak nyaman dan semakin takut kehilangan Kent. Camelia sangat tahu, di kehidupan nyata dia tidak akan mendapatkan cinta seperti ini. Selain menjadi bahan ejekan dan bulian teman-temannya, tidak ada hal lain yang bisa Camelia dapatkan.


Camelia melihat jam di atas nakas. Jam masih menunjukkan pukul 7:15 dia sudah tidak bisa melanjutkan tidurnya lagi. Bagaimana dia bisa tidur kalau otaknya terus memikirkan sang suami.


"Lebih baik aku berangkat ke kampus aja deh. Sekalian ajak Melodi, kali aja dia udah bangun."


Camelia mengambil ponselnya dari atas charger wireless. Dia menekan sebuah kontak di ponselnya kemudian menelpon orang yang tadi hendak dia ajak pergi ke kampus lebih awal.


"Oke, aku akan bersiap-siap sekarang. Tidak usah, aku akan pergi dengan sopirku. Kau tidak perlu khawatir."


Camelia menutup panggilan teleponnya lalu pergi ke kamar mandi. Hari ini dia akan menyibukkan diri dengan hal-hal yang dia sukai supaya dia bisa melupakan suaminya untuk sesaat.


****


Satu jam kemudian, Camelia sampai di depan kampusnya. Dia turun dari mobil dan langsung mendapatkan sambutan hangat dari Melodi.


"Aku merindukanmu Bell, kenapa semakin sulit saja bertemu dengan mu. Kau sudah seperti anak bangsawan yang di jaga dengan ketat oleh kedua orangtuamu."


Camelia terkekeh. "Kau ini bisa saja. Kau juga tahu sendiri suamiku orangnya seperti apa. Semakin hari dia semakin bucin dan semakin protektif. Aku semakin kesulitan untuk bergerak. Namun dia melakukan itu karena dia sangat mencintaiku, aku tidak keberatan Mel."


Melodi menggelengkan kepalanya. Orang yang sedang jatuh cinta memang berbeda. Kalau Melodi, sekalipun dia di kurung di dalam sangkar emas, dia tidak akan mau. Dia lebih memilih untuk hidup bebas dan pergi kemanapun yang dia inginkan. Hidup itu cuma sekali, jadi selagi bisa, makan Melodi akan menikmatinya semaksimal mungkin.


Prinsip setiap orang berbeda-beda. Adakalanya orang mau melakukan hal-hal yang tidak ingin orang lain lakukan karena dia memiliki pandangan hidup yang berbeda dengan orang itu. Meskipun orang lain akan berpikir kalau kamu terpaksa bahagia, namun hanya dirimu sendiri yang bisa menilai apakah kamu bahagia atau tidak. Tolak ukur bahagia setiap orang itu berbeda-beda. Namun inti dari semuanya hanya satu yaitu Cinta. Baik itu rasa cinta kita kepada diri kita sendiri. Cinta dari orang tua, atau cinta dari orang yang kita kasihi.


Detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam telah berlalu. Sore hari ketika hari sudah semakin sore namun matahari masih tinggi, Camelia dan Melodi masih asyik melakukan latihan ilmu bela diri. Kedua wanita cantik itu melakukan gerakan-gerakan yang sangat indah. Bahkan, gerakan-gerakan yang Melodi ajarkan kepada Camelia sama sekali bukan gerakan ilmu bela diri yang dulu di pelajari oleh Camelia.


"Tunggu Mel!" Camelia menghentikan gerakan Melodi yang hendak melakukan penyerangan. Dia bukan takut, namun tiba-tiba saja lambungnya bergejolak. Camelia merasakan mual yang luar biasa.


"Bella! Kau kenapa?" Melodi sangat khawatir melihat Camelia berlari sembari memegangi perut juga membekap mulutnya.


"Bella!"


To Be Continued.