Extraordinary Love

Extraordinary Love
Terpaksa Menyetujui



Samuel masih kesal dengan apa yang diucapkan ayahnya.


Sam memang sudah mempunyai kekasih, ia telah menjalin hubungannya dengan Sellyn Agustin selama empat tahun, saat Sam melakukan studinya di Amerika.


Namun hubungannya sama sekali tidak mendapat lampu hijau dari sang ayah. Meskipun begitu Samuel masih tetap menjalin hubungannya dengan Sellyn diam diam.


"Sam... Buka pintunya tidak sopan kamu bersikap seperti itu kepada ayahmu." Teriak Mar sembari mengetuk pintu.


"Buka aja, ga di kunci." teriak Sam yang tengah memainkan ponselnya.


"Ayo turunlah, ayah belum selesai bicara." ucap Mar setelah membuka pintunya.


"Belum selesai apanya mam. Sam juga sudah mempunyai kekasih. Sam tetap akan menolak perjodohan ini." Jawabnya dengan kesal membantingkan HP, lalu beranjak ke kamar mandi.


"Jika itu keputusanmu. Mami akan mengusirmu dari rumah ini dan Ayahmu tidak akan memberikan mu Perusahaan satu pun." Jawab Mar dengan kesal meninggalkan kamar Samuel.


Seketika langkah Samuel terhenti dan pikirannya kosong. Mar dan Kusuma memang tidak pernah main main dengan ucapannya, sekali dibantah segala cara apapun saja akan mereka lakukan demi kebaikan kedua anaknya.


"Astaga. Masalah apalagi ini. Hufth." Teriknya memukul kaca hingga tangan kirinya penuh dengan darah.


Rasa sakit ditangannya tidak seberapa dengan apa yang diucapkan Maminya tadi. Samuel bingung harus melakukan apa, yang jelas ia tidak mau jika orang lain yang akan meneruskan perusahaan perusahaan milik ayahnya. Hanya dialah yang akan menjadi satu satunya penerus keluarga Goldwyn.


Samuel keluar dari kamarnya dan menemui ayahnya kembali untuk menerima perjodohan tetapi dengan satu syarat semua perusahaan nya hanya akan jatuh ketangan Samuel.


Tap....


Tap....


Tap....


"Baiklah akan akan menerima perjodohan ini." ucap Sam yang membuat Kusuma terkejut.


"Ayah tidak main main Sam." jawab Kusuma menghampiri Samuel dan menarik tangannya yang berdarah.


"Aku juga serius. Asal dengan satu syarat. Semua perusahaan akan jatuh ketangan Sam." Ucap Samuel.


"Baiklah itu semua bisa diatur. Obatilah tanganmu." jawab Kusuma melangkahkan kakinya menuju ruang kerja.


Setelah sampai ruang kerja, ia segera memerintah asistennya. Untuk membuat janji dengan Yoga, besok untuk menemuinya di sebuah Mall.


------------------------


Dipagi harihari...


"Rara bangun sayang ini sudah pagi. Apa anak mama ini tidak mau bangun untuk sarapan." ucap Mirina mengelus ngelus puncak kepala Haura yang masih tertidur.


"Yasudah. Tadinya mama dan papa mau mengajak mu jalan jalan loh." Ucap Mirina menggoda anaknya itu dengan kembali menyelimuti tubuh Haura.


Sontak saja yang tadinya mata Haura sulit untuk melek. Sekarang tiba tiba terbuka dengan lebar. Ini memang moment yang Haura tunggu tunggu selama bertahun-tahun.


"Yauda ayo mah. Badan Rara sudah aga enakan." Jawab Haura dengan penuh semangat, sembari mendudukan tubuhnya.


"Tadi katanya cape, terus lelah." ucap Mirina mencubit dagu Haura.


"Itu kan tadi ma, sekarang tidak." saut Haura.


"Yasudah cepat mandi papa dan mama tunggu kamu dibawah." Jawab Mirina mengelus puncak Haura dan berdiri dari duduknya


"Oke ma. Siap." jawabnya sembari mengangkat satu tangan kanannya, tepat jari telunjuknya berada diujung alis Haura.


Haura pun beranjak dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dan membersihkan badanya dengan cepat kilat, namun tetap bersih.


"Hmm... pake baju yang mana ya?" ucapnya sembari memilih milih baju. "Nah, ini aja kali ya." dipilihnya celana pendek levis dan kaos simpel berwarna rainbow.


Haura memakai sedikit polesan make up untuk menghilangkan kantung matanya yang sedikit membengkak. Kini Haura sudah berada dimeja makan bersama kedua orang tuanya.


"Wah... anak mama yang cantik ini sudah dewasa ya." ucap Mirina.


"Anak papalah masa anak mama sih kan papa yang buatnya." Saut Yoga tak mau kalah.


"Papa nii apaan sihh." jawab Mirina sembari mengambilkan nasi dan menyerahkan nya kepada Yoga.


Haura hanya tersenyum gembira melihat kedua orangtuanya kini tengah bersenda gurau.


Ditengah tengah keheningan tiba tiba hp Yoga berbunyi.


"Ya. Hallo." jawabnya mengangkat telpon.


'Pak, perjanjian bapak sudah di Acc oleh Pak Kusuma. dan bapak diperintahkan untuk menemuinya di sebuah Mall.' jawab asisten Yoga diseberang sana.


"Baiklah, kamu kirim saja alamatnya." jawab Yoga, menutup telponnya dan kembali melanjutkan sarapannya.


"Siapa pah?" tanya Mirina.


"Robi, asisten papa mah." jawab Yoga menghabiskan makannya. "Ohh ya habis sarapan kita jalan ke Mall gimana?" ucapnya lagi


"Serius pah, ayo Rara mau." ucap Haura penuh semangat.


"Yasudah habiskan dulu makananya sayang." ucap Mirina.