Extraordinary Love

Extraordinary Love
Balasan Yang Setimpal



"Apa kau baik-baik saja?" Kent menelisik setiap bagian tubuh Camelia. Tidak ada yang luput dari pemeriksaannya. Kent harus memastikan kalau Camelia tidak terluka dan tidak lecet sedikitpun.


"Aku baik-baik saja Kak Kent. Kak Samantha membantuku. Aku berhutang banyak padanya."


Kent melirik wanita yang kini sedang menenggak wine di gelasnya. Kent tidak tahu wanita itu siapa. Namun dia akan sangat berterimakasih kepada wanita itu.


"Tidak usah menatapku. Pergi dan bawa istrimu. Udara di sini tidak baik. Aku yakin kau tidak akan sudi menghirup udara yang sama dengan para sampah ini."


Kent tak bergeming. Mulut wanita itu sangat pedas. Kent saja sebagai sorang laki-laki merasa ngeri melihat gelagat Samantha. Apalagi kalau Samantha di adu dengan sesama perempuan, habislah perempuan itu.


"Terima kasih Kak Samantha. Aku akan menghubungimu lagi nanti," Camelia berteriak sembari mendorong tubuh suaminya agar segera keluar dari kamar itu. Mereka sudah tidak memiliki kepentingan di sini. "Kakak ayo!" Camelia menarik tangan Kent.


Kent mengikuti Camelia tanpa protes. Pistol yang tadi dia bawa kembali dia masukan ke dalam saku jasnya. Setelah mereka sampai di luar bangunan itu, mereka melihat beberapa mobil datang. Mobil-mobil itu berhenti tepat di antara mobil Kent juga mobil-mobil milik Samantha.


Devano keluar dengan segerombolan bodyguard di belakangnya. Laki-laki mendekat ke arah Kent. Wajahnya menunjukkan wajah keterkejutan. Mungkin karena Devano melihat Kent sudah berhasil menemukan Camelia tanpa terluka sedikitpun. Pakaiannya masih sama seperti sebelumnya. Rapih dan tidak ada noda apapun.


"Tuan Nyonya,- ucapan Devano terhenti ketika Kent menyela.


"Iya, aku sudah menemukannya. Kau terlambat Devano." Kent melengos pergi meninggalkan Devano yang kala itu masih mematung kebingungan. Setelah beberapa saat, Devano berbalik lalu berlari menghampiri Kent dan Camelia.


"Maafkan aku Tuan, tadi aku memanggil orang-orang ini dulu untuk membantu kita."


Devano menunjuk segerombolan orang yang kini sedang menunduk ke arahnya. "Cih, dasar tidak berguna. Sebaiknya kalian pulang saja! Buang-buang waktu."


Kent membuka pintu penumpang lalu membantu Camelia duduk dengan nyaman. "Sudah?" tanya Kent kepada istrinya. Camelia mengangguk. Ketika Kent berjalan mengitari mobilnya, Camelia membuka jendela kaca mobil.


"Tidak apa-apa Devano. Terima kasih karena sudah mau membantu ku. Kau pulanglah! Kak Kent tidak akan marah padamu."


"Siapa bilang aku tidak akan marah?"


Camelia sedikit terkejut karena suara Kent ada di samping telinganya. Camelia menoleh. Kent tersenyum lalu mengecup bibir Camelia sekilas. "Aku hanya ingin memakaikan sit belt untuk mu," ucapnya dengan wajah tanpa dosa.


Camelia ingin mengomeli Kent namun dia lupa kalau di sana masih ada Devano juga orang-orang yang Devano bawa. "Sudah pergi Dev!" Camelia mengibaskan tangannya ke arah Devano.


"Sudah biarkan saja. Dia mau menginap di sini juga gak perlu dihiraukan. Ini salahnya dia karena dia datang terlambat."


Kent melajukan mobilnya tanpa perduli kepada ekspresi yang ditunjukan oleh Camelia. Laki-laki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Namun ketika dia mengingat kalau dia membawa dua penumpang, dia langsung memelankan laju mobilnya.


Kent menoleh untuk beberapa saat. Bukannya dia tidak berani, namun dia takut bayi yang ada di perut Camelia pusing. Camelia juga pasti butuh istirahat, jadi Kent tidak bisa kebut-kebutan dulu untuk sementara waktu.


"Aku hanya ingin melindungi kalian berdua."


Camelia mengangguk. Setelah satu jam lebih melakukan perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan rumah. Saat itu sudah ada beberapa mobil yang terparkir di depan rumah Kent dan Camelia. Kent menoleh ke arah istrinya dan ternyata istrinya masih tertidur pulas. Kent keluar hendak membawa Camelia masuk ke dalam rumah. Belum sempat dia membuka pintu, seseorang dari dalam sudah membukakan pintu itu untuk Kent dan Camelia.


"Ayah, Ibu!" Kent bergumam melihat kedua orang tuanya juga kedua mertuanya ada di rumah itu. Dalam hati Kent menggerutu. Ini pasti pekerjaan Devano. Dia sudah mengatakan untuk tidak memberitahu semua orang terlebih dahulu, tapi Devano malah melakukannya.


"Bella kenapa Kent?" tanya Zinnia pada Kent. Kent menggelengkan kepalanya. Dia mengisyaratkan orang-orang untuk duduk lebih dulu. "Kent akan menidurkan Bella lebih dulu, nanti Kent akan menjelaskan semuanya," ucap Kent dengan suara yang sangat pelan. Kent sangat takut Camelia akan terbangun. Kejadian ini pasti telah membuat Camelia terkejut, jadi Kent akan membiarkan Camelia istirahat untuk berapa waktu.


Kedua orang tua Kent begitupun dengan kedua orang tua Camelia duduk di sofa yang bersebelahan. Mereka hanya bisa menunggu Kent turun untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah membaringkan Camelia di atas ranjang dan memastikan kalau istrinya tidur dengan nyaman, Kent kembali turun ke bawah. Namun sebelum itu dia sudah melepas jasnya dan melempar jas situ ke sembarangan arah. Suara langkah kaki yang menuruni undakan tangga membuat kedua orang tua juga kedua mertuanya menoleh ke arah Kent. Kent duduk diantara mereka dan menarik napas sebelum dia mulai menjelaskan semuanya.


"Bella tidak apa-apa Ibu, Mama, Bella sebenarnya di culik oleh orang yang bekerja sama dengan Viola. Kent juga baru tahu ini dari Bella. Dia mengatakan kalau Viola sengaja melakukan ini karena dia sakit hati dengan perlakuan kita sebelumnya. Bella merencanakan balas dendam dengan memberikan Bella kita kepada para bajingan yang tidak tahu diri itu."


Keempat orang itu menggeram marah. Bagi orang tua Kent Viola adalah mantan menantu mereka. Dan bagi kedua orang tua Camelia Viola tetap keponakan mereka. Bagaimana mungkin wanita itu dengan berani melakukan hal keji seperti ini. Viola sangat keterlaluan.


"Sekarang dimana wanita gila itu Kent? Ibu ingin mengajarkan. Ibu ingin memberikan Viola pelajaran."


Kent menggeleng. "Kalian tidak usah khawatir. Viola sudah mendapatkan apa yang harus dia dapatkan. Bella sudah mengatakan segalanya padaku. Setelah ini, Viola tidak akan berani melakukan hal yang tidak-tidak pada keluarga kita."


Beberapa orang di hadapan Kent menatap Kent penasaran. Namun Kent hanya menarik ujung bibirnya membuat sebuah senyuman sinis.


****


"Bagaimana? Apa kau sudah tahu apa arti kata ja lang yang sesungguhnya? Cih. Jangan pernah macam-macam dengan ku bocah ingusan. Kalau kau berani melakukan hal bodoh lagi, aku tidak akan segan-segan untuk menyebarkan video mu ke jejaring sosial. Kau pasti tahu apa yang akan terjadi jika sampai video itu tersebar bukan? Bersikap baiklah!"


Samantha pergi dari kamar yang ditempati Viola dengan langkah anggunnya. Wanita itu meninggalkan Viola dengan kondisi yang mengenaskan. Viola tidak bisa bersuara. Air mata mengalir dari sudut matanya. hidupnya sudah hancur. Harga dirinya sudah dijatuhkan sampai ke dasar. Tubuhnya sudah benar-benar kotor. Viola mencengkram selimut yang menutupi tubuh polosnya dengan kuat. Sementara potongan-potongan pakaian yang tadi dia kenakan sudah berserakan di atas lantai. Segerombol laki-laki itu menyerang Viola seperti sedang menyerang hewan. Benar-benar tidak beradab dan kasar.


"Arghhhhhhhhh!" Viola berteriak merasakan sesak di dada juga nyeri di seluruh bagian tubuhnya.


To Be Continued.