
Apa yang Camelia takutkan benar-benar terjadi. Setelah mereka pergi ke dokter kandungan untuk memastikan kehamilan Camelia, Kent semakin protektif. Apa yang Camelia lakukan harus seizin darinya. Bahkan kuliah saja harus selalu di dampingi pengawal. Seperti hari ini. Melodi menatap Camelia dengan tatapan meremehkan.
"Kau itu bukan anak bangsawan Bell, kenapa harus berlebihan seperti ini. Kenapa kau tidak menyuruh mereka menunggu di luar kelas. Untuk apa mereka ikut kemari."
Melodi menolehkan kepalanya ke belakang melihat dua laki-laki berperawakan tinggi besar dengan setelan jas serba hitam, juga dengan kaca mata hitam dan di lengkapi earphone di telinga mereka.
Camelia membenamkan wajahnya di atas meja. Ini bukan keinginannya. Kalau Camelia bisa menolak, Camelia akan menolak ini semua. Apa yang Kent lakukan terlalu berlebihan. Namun jika Camelia menolak perlindungan dari suaminya, dia tidak akan di izinkan untuk keluar dari rumah. Apalagi kuliah.
"Aku bukan tidak ingin Mel. Aku sudah mencobanya beberapa kali, namun mereka tetap tidak bergerak sama sekali. Mereka sangat patuh kepada Kak Kent. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi."
Melodi tertawa. Sungguh malang nasib sahabatnya ini. Dia sampai diperlakukan seperti seorang tahanan oleh suaminya sendiri. Apa yang Kent lakukan ini membuat Camelia malu karena dia menjadi pusat perhatian seluruh penghuni kampus. Kent benar-benar keterlaluan.
****
Setelah jam pelajaran selesai. Camelia memutuskan untuk pergi ke kantor suaminya. Matanya terus memperhatikan orang-orang yang ada di sekitarnya karena mereka terus memperhatikan Camelia.
Tap.
Camelia menghentikan langkahnya. Kedua orang yang sejak tadi ada di belakangnya juga ikut berhenti. Camelia menoleh lalu menarik satu ujung bibirnya. Detik berikutnya Camelia berlari membuat kedua orang itu berlari, namun beberapa saat kemudian Camelia langsung menghentikan aksinya. Kedua pengawal itupun mengikuti langkah Camelia. Wanita itu tersenyum kemudian kembali berlari. Dia menahan senyum melihat kedua pengawalnya yang sangat lucu. Kejadian itu Camelia ulang sampai berkali-kali. Pada akhirnya, mereka sampai di dekat mobil yang akan membawa Camelia pergi ke kantor Kent.
Seseorang sudah bersiap sembari memegangi pintu mobil yang sudah terbuka. Camelia masuk kemudian duduk dengan santai. Pada saat Camelia sedang asyik melamun, tiba-tiba saja sang sopir mengerem mobilnya mendadak.
"Pak! Ada apa? Kenapa tiba-tiba berhenti?"
"Maaf Nyonya, ada mobil lain yang menghadang mobil kita, jawab sopir Camelia merasa bersalah. "Apa Nyonya baik-baik saja?" tanya sopir itu khawatir.
Camelia mengangguk sembari mengusap perutnya yang mulai membuncit. "Aku baik-baik saja Pak. Lain kali hati-hati lah!"
Camelia memperhatikan mobil yang menghadang mobilnya. Mobil itu terlihat lebih besar dari mobilnya. Beberapa orang turun dari mobil itu. Camelia mendadak gugup. Dia menjadi sangat takut untuk keluar dari dalam mobil.
Pengawal yang ada di samping sopir keluar. Dia bersatu dengan beberapa pengawal yang mengikuti mobil Camelia dari arah belakang. Entah siapa orang-orang yang menghadang mobil Camelia, namun Camelia tahu bahwa mereka semua sangat berbahaya.
Camelia segera mengambil ponselnya lalu mulai menekan tombol panggilan.
"Halo! Iya, kau harus bersiap. Aku sudah mengirimkan sinyal GPS padamu Kak, jadi jangan sampai terlambat."
Tanpa Camelia sadari, ternyata dari arah samping sudah ada seseorang yang menunggu di balik pintu lalu membuka pintu mobil itu kasar.
"Ikut bersamaku," ucap orang itu menarik tangan Camelia.
Sopir Camelia terkejut, seingatnya tadi dia sudah mengunci semua pintu mobil, namun kenapa sekarang malah terbuka dengan sangat mudah. Dia segera keluar dari mobil lalu berjalan mendekati orang yang hendak menyakiti Camelia.
Set.
Bajingan kau!" Sopir Camelia menarik jas yang dikenakan orang itu lalu menghajar wajahnya dengan keras.
Bughhhhh Bugghhhh Bughhhhh.
Sang sopir berhasil membuat orang itu ambruk di jalanan. Namun sialnya, ketika dia hendak berdiri setelah menghajar orang itu, seseorang dari arah belakang datang menghampirinya sambil membawa tongkat bisbol.
Bughhhhh.
Dengan sekali pukulan sang sopir ambruk tertelungkup di atas aspal. Kedua tangannya dia jadikan sebagai tumpuan supaya dia bisa berdiri. Namun lagi-lagi orang yang membawa tongkat bisbol tadi kembali melayangkan tongkat itu dan ....
Bughhhhh! Bughhhhh!
"Tidak!" .... Camelia berteriak ketika sopirnya terbatuk mengeluarkan darah kemudian pingsan.
"Dasar bajingan!"
Camelia terpakasa turun tangan untuk membantu orang-orangnya. Dia mulai menghajar orang itu satu persatu. Camelia terus menggerutu dalam hati. Dia terus menerus meminta maaf kepada Kent. Camelia terpaksa mengingkari janjinya untuk tidak berkelahi, namun sekarang dia malah melakukan itu. Camelia bukan tidak perduli dengan kandungannya. Namun dalam kondisi seperti ini Camelia tidak bisa diam saja dan menyaksikan orang-orang nya mati.
Bughhhhh! Bughhhhh! Bughhhhh!
Ketika Camelia sedang sibuk menginjak-injaknya orang yang terkapar di atas aspal. Tiba-tiba saja dia di bekap dengan seseorang dari arah belakang. Camelia berusaha untuk meronta, namun sayang, semakin lama tenaganya semakin habis dan Camelia tidak sadarkan diri.
Tubuh Camelia terkulai. Salah satu dari para bajingan itu memangku tubuh Camelia lalu membawanya ke mobil yang lain dan pergi dari sana.
"Nyonya!" seorang pengawal berteriak melihat Camelia sudah melesat pergi entah kemana. Dia masuk ke dalam mobil yang masih utuh karena mobil lain sudah hancur akibat dari perkelahian yang mereka lakukan.
"Aku harus memberitahu Tuan Kent."
****
Brakkkkk!
"Apa maksud kalian istri saya di culik? Lalu apa yang kalian lakukan hah? Untuk apa aku mempekerjakan kalian kalau kerja kalian saja tidak becus seperti ini. Cari Istri saya sampai ketemu. Kalau tidak, aku akan memenggal kepala kalian semua."
Kent mematikan sambungan teleponnya. "Rapat kita hentikan dulu!" Kent keluar dari ruang rapat dengan segera. Dia tidak memperdulikan tatapan semua karyawan dan juga kliennya. Yang terpenting sekarang adalah Camelia. Kent tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya kalau sampai Camelia kenapa-napa.
"Maafkan Tuan Kent, sepertinya ada masalah mendesak terjadi. Saya akan menjadwalkan rapat di lain waktu.Sekali lagi saya minta maaf."
Devano membungkukkan badannya lalu keluar dari ruang rapat untuk mengejar bosnya.
"Tuan! Aku akan mengambilkan mobilnya." Devano segera berlari menuju mobil yang biasa Kent gunakan ketika ada urusan mendadak seperti sekarang. Mobil ini adalah mobil khusus untuk bepergian jauh, jadi kecepatannya jauh lebih cepat dari mobil yang sering Kent gunakan untuk pulang pergi ngantor.
Kitttt!
Sebuah mobil Devel Sixteen berhenti telat di depan Kent. Mobil ini merupakan mobil tercepat di dunia, yang mana kecepatannya hampir 500km/jam.
"Keluar Dev!" Titah Kent kepada Devano.
"Tapi Tuan."
"Aku bilang keluar!"
Devano dengan sangat terpaksa keluar dari mobil itu. Kent benar-benar sudah hilang akal. Devano tidak bermaksud untuk membiarkan Kent menyetir mobilnya sendiri karena dia tahu emosi Kent sedang tidak stabil. Namun sepertinya usaha Devano sia-sia. Semakin lama dia mempertahankan posisinya, maka Kent akan semakin murka dan itu akan semakin berbahaya lagi untuk Kent.
"Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi." Devano mengeluarkan ponselnya lalu menelpon seseorang.
To Be Continued.