
"Biarkan aku mengantarmu pulang!" pinta Melodi terlalu khawatir jika harus membiarkan sahabatnya sendiri. Wajah Camelia juga terlihat lebih pucat dari biasanya. Melodi sudah mengajak Camelia untuk pergi ke dokter karena takut Camelia kenapa-napa. Namun Camelia menolak dan mengatakan kalau dia baik-baik saja. Mungkin Camelia hanya kecapean saja, itulah sebabnya kesehatannya drop seperti sekarang ini.
"Mel, aku baik-baik saja. Aku akan mengajarimu kalau ada hal yang mendesak aku akan mengabari mu. Percayalah padaku."
Camelia berusaha untuk meyakinkan sahabatnya. Jujur saja dia tidak suka kalau harus selalu bolak balik rumah sakit untuk memeriksa keadaannya. Dia tidak apa-apa, Camelia hanya memerlukan istirahat dan dia akan kembali sehat seperti sedia kala.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi janji kalau ada apa-apa kau harus segera mengabari ku!"
"Aku janji."
Camelia masuk ke dalam mobilnya kemudian pergi meninggalkan Melodi yang masih berdiri memperhatikan Camelia dari jauh. Melodi baru mendapatkan teman yang baik seperti Camelia. Jelas saja dia merasa khawatir kalau temannya tiba-tiba sakit. Apalagi Melodi tahu kalau Camelia memang memiliki penyakit bawaan. Itu semua membuat Melodi was-was untuk hal yang sebenarnya tidak perlu. Jodoh, maut, juga rezeki sudah ada yang mengatur. Namun entah kenapa Melodi seperti takut untuk kehilangan Camelia.
Setibanya di rumah, Camelia langsung masuk dan pergi ke kamar. Wanita cantik itu masuk ke dalam kamar mandi lalu mengisi bathtub dengan air hangat sampai penuh. Dia melepaskan semua pakaiannya lalu masuk ke dalam bathtub itu. Hangat, itulah yang Camelia rasakan ketika tubuhnya sudah terendam air. Camelia merasa jauh lebih baik. Dia memejamkan mata sembari menikmati sensasi yang menyenangkan itu.
Jam sudah menunjukan pukul 8 malam. Namun belum ada tanda-tanda Camelia keluar dari kamar mandi. Beberapa menit kemudian mobil lain berhenti di depan rumah yang di tinggali Camelia. Seorang laki-laki dengan perawakan tinggi besar turun dari mobil. Laki-laki itu tersenyum ketika melihat ke lantai atas rumahnya di mana di lantai itu ada kamar dia juga kamar istrinya.
"Nyonya sudah pulang Pak?" tanya Kent kepada sopir pribadi Camelia.
"Sudah Tuan, tapi sepertinya Nyonya sedang kurang enak badan," jelas sang sopir sembari menunduk karena takut tuannya akan marah mendengar berita kurang mengenakkan tentang istrinya. Sopir Camelia jelas sangat tahu bagaimana sikap Kent kepada sang istri. Betapa protex juga perhatiannya Kent kepada Camelia memang sudah menjadi rahasia umum.
"Kenapa tidak memberitahuku? Sekarang Nyonya di mana?" tanya Kent dengan nada suara meninggi.
"Sudah masuk ke rumah sejak satu jam yang lalu Tuan."
"Cih, kalian itu benar-benar tidak berguna," geram Kent lantas bergegas masuk ke dalam rumah. Dia melepaskan jasnya kasar. Ketika sudah berada di dalam kamar Kent melempar jas itu ke sembarang arah. Kent seperti orang kerasukan kalau sudah khawatir kepada Camelia. Wajahnya sangat menakutkan. Kalian bayangkan saja, wajah yang sudah biasa dingin kini malah semakin dingin ketika dia sedang mengkhawatirkan sesuatu.
"Baby, Baby kau di mana?" teriak Kent mencari keberadaan istrinya. Kent melihat kabut di kaca kamar mandinya. Kent segera membuka pintu kamar mandi karena takut hal yang sangat dia takutkan terjadi.
Brakkkkk!
Kent membuka kasar pintu kamar mandi. Dia masuk semakin dalam ketika netra nya belum menemukan sosok Camelia.
"Baby!" Kent berteriak sembari berlari menghampiri Camelia yang kini sedang berada di dalam bathtub namun kepalanya terkulai lemas.
"Baby kau kenapa? Ada apa? Baby bangun!" Kent mengangkat tubuh Camelia lalu membawanya keluar dari dalam kamar mandi.
"Kak!" gumam Camelia dengan suara yang parau.
"Astaga Baby, kau membuatku takut, bagaimana bisa kau tidur dalam bathtub seperti itu, kau bisa sakit."
Kent membaringkan Camelia di atas ranjang kemudian mengambil handuk besar dan mulai mengelap tubuh Camelia dengan sangat telaten. "Sopir mu bilang kau tidak enak badan. Apa kau mau pergi ke rumah sakit? Wajahmu sangat pucat. Aku takut kau kenapa-napa."
Kent memeluk Camelia sembari mengusap kepalanya lembut. "Jangan lakukan hal seperti ini lagi. Kalau kau merasa tidak enak badan segera hubungi aku. Memangnya aku ini apa bagimu? Kenapa kau harus menanggung ini sendirian sementara ada aku di sini?"
Camelia tersenyum. Suaminya ini kadang-kadang suka membuat Camelia geli dengan kalimat-kalimat hangat yang keluar dari mulutnya. Laki-laki yang dulu sangat membencinya kini berubah menjadi laki-laki yang tidak mau jauh darinya. Bahkan dia sudah seperti seorang pengasuh yang selalu mendampingi Camelia dimana pun dia berada.
"Aku akan mengambil baju untuk mu Baby, tunggu sebentar!"
Kent melepas pelukannya kemudian menutupi tubuh polos Camelia dengan selimut lalu pergi ke walk in closet. Tangan cekatannya mengambil sebuah piyama tidur kesukaan sang istri.
Setelah beberapa saat, dia kembali untuk memakaikan Camelia pakaian. Lagi-lagi Camelia di buat takjub dengan apa yang dilakukan Kent. Pria di hadapannya ini bahkan tidak pernah mau di sentuh siapapun termasuk ibunya sendiri. Namun, apa yang dia lakukan kepada Camelia sangat bertolakbelakang. Ini tidak seperti Kent. Ada jelmaan lain yang wajahnya sangat mirip dengan Kent namun memiliki kebiasaan dan sikap yang berbeda.
Cup!
Camelia tersenyum mendapat sebuah kecupan dari sang suami. Kalau boleh, Camelia ingin sakit lebih lama agar Kent terus memperhatikannya seperti ini.
"Kakak sudah makan malam belum?" tanya Camelia. Kent menggeleng.
"Aku akan membuatkan Kakak sesuatu," gumam Camelia hendak bangun dari tidurnya namun Kent menahan bahu Camelia menyuruh wanita itu untuk tetap diam di tempat.
"Aku akan membuat makan malam untuk kita berdua. Indri hari ini tidak datang. Tunggu sebentar, 10 menit lagi aku akan kembali."
Camelia mengangguk. Dia tidak memiliki alasan untuk menolak. Hari ini dia akan membiarkan Kent memanjakannya dirinya sampai laki-laki itu lelah sendiri.
****
Malam telah berganti pagi. Sepasang sejoli yang ada di atas ranjang king size milik mereka masih terlelap sembari memeluk satu sama lain. Ketika suasana sangat hening dan tenang, tiba-tiba Camelia terbangun dari tidurnya. Wanita cantik itu langsung melompat dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Kent terkejut merasakan Camelia yang tiba-tiba melepaskan pelukannya dan melesat pergi tanpa mengucapkan apapun. Karena khawatir, Kent segera beranjak dari atas tempat tidur. Langkah kakinya semakin cepat tat kala telinganya menangkap suara Camelia yang sedang memuntahkan isi perutnya.
"Baby!" panggil Kent.
Brukkkkk!
Mata Kent langsung terbelalak melihat wanita yang begitu dia cintai ambruk di depan matanya.
"Baby!" teriak Kent dengan tubuh yang bergetar.
To Be Continued.