
Sekarang Camelia, Kent maupun Viola sudah ada di dalam rumah keluarga Kent. Susana di dalam rumah itu belum terlalu ramai karena keluarga mereka masih banyak yang belum datang.
"Ibu!" teriak Viola pada Ashana ibunda dari Kent. Dia berjalan dengan tergesa lalu memeluk Viola dan mengecup pipi Ashana sekilas.
"Apa kabar Viola? kau baik-baik saja bukan? apa Kent memperlakukan mu dengan baik?" tanya Ashana kepada menantu pertama nya.
"Kak Kent masih sama seperti dulu Bu. Dia masih dingin dan cuek. Terkadang juga sangat acuh. Tapi Ibu tenang saja. Viola akan berusaha untuk membuat Kak Kent jatuh cinta kepada Viola."
Ashana mengangguk menanggapi apa yang di katakan Viola. Dia memang sudah dekat dengan memantu pertamanya karena mereka sudah saling mengenal sejak lama. Mereka juga selalu berhubungan baik meskipun Kent tidak pernah menyukai kedekatan mereka.
"Ibu!" panggil Camelia. Dia melakukan hal yang sama seperti apa yang di lakukan Viola pada Ashana. Namun entah kenapa, Camelia merasa kalau sikap yang di tunjukkan oleh Ashana sangat berbeda . Tadi dia sangat hangat ketika menanggapi apa yang di lakukan Viola. Tapi sekarang, dia memperlakukan Camelia seolah Camelia tidak di harapkan keberadaannya.
"Ibu sehat?" tanya Camelia tulus.
Ashana tersenyum tipis. Dia mengangguk kemudian mengajak Viola untuk masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu.
Camelia tersenyum getir. Dia sama sekali tidak pernah keberatan menerima sikap cuek dan acuh tak acuh dari mertuanya. Dia tahu dia salah, dahulu, dia menjebak Kent supaya Kent mau menikah dengannya. Tapi bukankah Ashana tidak tahu? lalu kenapa dia harus marah dan memperlakukan Camelia tidak adil.
"Jangan di masukkan ke dalam hati. Ibu bukan orang jahat, lambat laun dia akan tahu dan akan mengerti mana yang benar dan mana yang salah."
Camelia menoleh. Sosok Kent berjalan melewatinya menuju lantai atas. Dia tidak ikut berkerumun dengan orang-orang yang lain.
Sebenarnya Camelia ingin mengikuti Kent. Tapi, dia masih punya misi untuk menaklukan ibu mertuanya. Dia tidak boleh kalah dari Viola. Viola itu cuma domba betina, dia pasti akan mengalahkan Viola dalam hal apapun.
Camila berjalan menuju dapur. Setelah menyimpan tasnya di atas pantry, dia mulai membantu para koki di rumah itu. Para koki awalnya menolak karena mereka pikir tidak baik kalau seorang nyonya seperti Camelia berkutat dengan wajan dan panci bersama mereka di dapur.
"Apa yang kau lakukan di sana Camelia?" tanya Viola sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Camelia tidak menggubrish Viola, dia malah asyik melanjutkan acara masak-memasak nya dengan khusu. Baginya Viola itu tidak ada, jadi tidak usah menganggap dan mendengarkan ocehannya yang tidak penting itu.
"Cih, dasar sombong. Baru bisa masak gitu aja udah songong. Kita lihat saja, apa kau mampu memasak dengan baik? dan, aku berani jamin kalau rasa.masakan mu itu tidak enak ."
Viola berlalu pergi meninggalkan Camelia. Dia merasa sangat kesal karena harus di acuhkan oleh sosok Camelia, bocah kecil yang sudah mengganggu hubungan rumah tangganya dengan Kent. Coba saja kalau Kent tidak menikah dengan dia, pasti sekarang kehidupan Viola akan baik-baik saja.
"Apa yang sedang kau lakukan Nak?" tanya Navarro ayah dari Kent.
Camelia mendongakkan wajahnya. Dia tersenyum lalu menjawab pertanyaan dari Navarro dengan riang.
"Aku lagi bantu paman-paman ini memasak Ayah. Aku juga akan membuat masakan kesukaan Ayah. Ayah harus mencicipi nya!" titah Camelia sopan.
Di banding dengan Ashana, sebenarnya Navarro tidak pernah membandingkan dia dengan Viola. Baik itu padanya atau pada Viola, dia akan bersikap baik dan adil.
"Mana? sini Ayah cobain."
Camelia semakin tersenyum bahagia. Dia sangat senang melihat antusias yang di tunjukan Navarro padanya.
"Ini enak," ucap Navarro sambil mengunyah makanan nya.
"Benarkah?" tanya Camelia dengan binar di matanya. Dia ikutan menyendok makanan di atas wajan lalu menyuapkan nya ke dalam mulut.
"wah, ini beneran enak Yah," ucap Camelia memuji makanannya sendiri.
Dia melirik lantai atas rumah itu. Kent belum ada tanda-tanda akan turun. Apa dia tidur, atau sedang bekerja? atau Kent sedang melakukan hal-hal yang berbahaya. Tapi ini tidak mungkin bukan?...
Tak Tak Tak..
langkah tergesa Camelia membawanya ke lantai atas rumah itu. Dia melihat satu pintu yang tertutup rapat.
"Apa yang sedang kau lakukan Kak Kent. Kau membiarkan aku tinggal bersama orang-orang yang tidak menyukai ku. Aku akan membuat perhitungan dengan mu," ucap Camelia sebelum mengetuk pintu kamar itu.
Tok Tok Tok
Camelia mengetuk pintunya beberapa kali. Namun entah kenapa Kent masih tidak membukakan pintu untuknya.
Tok Tok Tok
Karena Kent masih tidak mau membuka pintu, Camelia mencoba untuk menggerakkan handle pintu itu perlahan.
Cklekkkk...
"Ternyata tidak di kunci."
"Kak!" panggil Camelia ketika dia sudah berada di dalam kamar.
"Kak!" panggilannya lagi. Masih tidak ada jawaban.
Dia menelusuri setiap sudut ruangan untuk mencari sosok Kent. Ruang kerjanya, walk in closed nya. Bahkan dia mengetuk pintu kamar mandi, tapi tidak ada tanda-tanda kalau Kent ada di kamarnya.
"Dia kemana?" batin Camelia yang sudah merasa lelah mencari. Dia sudah berdiri sekitar satu jam di dapur, dan sekarang dia masih harus menggunakan kakinya untuk mencari Kent.
Tak...
Langkahnya terhenti ketika hembusan angin menerpa wajah cantiknya. Dia menoleh ke arah samping. Hembusan angin itu menerbangkan gorden warna abu tua di kamar Kent dengan sangat indah.
Punggung lebar seseorang membuat bibir Camelia tertarik ke atas. Dia tersenyum lalu berjalan mendekati orang itu.
"Kakak!" panggil Camelia.
Dia mendekati Kent dan memeluk laki-laki itu dari belakang.
Kent merasa terkejut ketika sepasang tangan mungil melingkar indah di atas perutnya. Dia ingin melepas pelukan itu, namun saat melihat jemarinya dengan seksama, sepertinya di tahu siapa yang melakukan hal ini padanya.
"Kak, aku merindukanmu. Kenapa kau malah menghindar saat aku mengatakan kalau aku mencintaimu? apa aku terlalu jelek sampai kau tidak mau menerima cintaku?" tanya Camelia dengan mata yang terpejam dan sebagian wajah yang dia sembunyikan si punggung Kent..
"Aku tahu aku salah Kak, tapi jangan bersikap dingin seperti ini, aku takut, aku hanya memiliki Kakak di dunia ini, aku tidak memiliki siapapun lagi. Tolong jangan diamkan aku Kak!"
Kent menautkan kedua alisnya. Dia menyentuh tangan Camelia lalu memutar tubuhnya. Tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Camelia yang teduh juga sangat menyilaukan.
"Kau.....
...To Be Continued....