
Haura masih dengan tangisnya yang tidak berhenti, bahkan kini tangisnya sampai sesenggukan. Haura masih tidak percaya dengan keputusan kedua orang tuanya itu.
"Apa mah... apa alasannya? Sampai mama dan papa mengambil keputusan sepihak tanpa memberitahuku terlebih dahulu?" Ucap Haura terengah-engah.
"Mama saja tidak menanyakan terlebih dahulu apa aku sudah mempunyai kekasih? Apa pernah mama dan papa memikirkan perasaan Rara? Rara pikir mama dan papa pulang untuk menanyakan keadaan Rara, ternyata Rara salah mama dan papa hanya memikirkan diri sendiri." ucapnya lagi dengan air mata yang tak terbendung.
Memang benar selama ini Mirina tidak pernah memberi perhatian lebih layaknya seorang ibu, menanyakan kondisinya saja bahkan Mirina tidak pernah, memang sampai sekarang Mirina tidak tahu jika Haura sudah memiliki kekasih. Hanya tante Siska lah yang tau banyak hal tentang Haura.
Kini dipeluknya Haura dengan erat, timbul sebuah penyesalan dari hati kecil Mirina.
"Maafkan mama nak, mama memang egois" ucap Mirina mengelus pelan puncak kepala Rara.
"Baiklah mama akan membicarakannya lagi dengan papamu. Agar mempertimbangkan keputusannya untuk menjodohkan mu." Ucapnya lagi sambil mengusap air matanya yang berjatuhan dipipi Rara.
"Benarkah ma?" ucap Haura dengan menatap erat mata Mirina
"Iya sayang, tapi mama tidak janji, jika papa akan membatalkan perjodohanmu." Saut Mirina.
"Setidaknya mama sudah berusaha untuk membujuk papa pun, Rara sangat berterima kasih." ucap Rara kembali memeluk erat tubuh Mirina.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat sudah malam." ucap Mirina melepaskan pelukan Rara.
"Iya ma..." saut Rara sembari membaringkan tubuhnya.
Ditariknya selimut Rara oleh Mirina, kemudian mematikan lampu lalu mengecup kening Rara dengan pelan.... 'Tidur yang nyenyak sayang, maafkan mama yang egois ini.' gumamnya.
Kemudian Mirina pun pergi meninggalkan kamar Haura. Kini Haura sudah tertidur dengan lelap dan mata yang masih sembab.
---------------------------
Disisi lain
Diruang tamu Mirina mencoba membicarakan lagi masalah perjodohan anaknya. Namun keputusan papanya sudah mutlak tidak bisa dibatalkan mengingat masalah perjanjian dulu sebelum Haura lahir.
"Tidak ma, kita tidak bisa membatalkannya. Apa kamu tidak ingat kejadian 17 tahun yang lalu. Kita sudah membuat perjanjian dengan keluarga Goldwyn." ucapnya.
"Sudah pah.. jangan dibahas lagi mengenai masa lalu, kita bisa membicarakannya lagi dengan keluarga Goldwyn secara baik baik, mungkin mereka bisa membatalkan perjanjiannya, atau mungkin mereka sudah lupa akan perjanjian ini." saut Mirina.
"Baiklah besok Papah akan membuat janji dengan Pak Kusuma Goldwyn, semoga saja dia ada waktu kosong ma." ucap Yoga sambil meminum kopi yang telah dibuat oleh Mirina.
Dalam benak Yoga memang benar dia sama sekali tidak pernah memberikan kasih sayang lebih kepada Haura anak semata wayangnya setelah anak pertamanya Zaidan meninggal.
Sama halnya dengan Mirina ada sedikit penyesalan dalam diri Yoga, dia sama sekali tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk anaknya. Kini dia mencoba menelpon asistennya Robi untuk membuat janji dengan Pak Kusuma.
"Halo Rob, tolong kamu buat janji besok dengan Pak Kusuma." ucap Yoga.
"Baik Pak, saya akan segera membuat janji dengan Pak Kusuma." jawab Robi dari seberang sana.
"Segera kabari aku jika sudah." ucap Yoga menutup telpon nya.
Memang sulit untuk membuat janji dengan Keluarga Goldwyn. Karena mengingat mereka adalah keluarga terpandang di negara nya. Apa lagi kekayaannya yang melimpah. Mereka bisa saja membuat ribuan Perusahaan bertekuk lutut untuk meminta bantuan menyuntikkan dana dari Perusahaan Lion Goldwyn milik Kusuma Goldwyn. Meskipun begitu Kusuma masih mempunyai hati untuk tidak membuat perusahaan rapuh berkeping-keping jika membuat kesalahan yang fatal.
-----------------------------------------------------------
Dikawasan Anggrek
Rumah bak Istana Raja dengan dinding yang dipenuhi dengan chat berwarna Gold. Begitu mewah dan elegan, memberikan kesan estetik.
Kusuma Goldwyn memang sudah berumur, namun dia masih ingat akan janji 17 tahun yang lalu akan menjodohkan anaknya dengan putri dari Yoga. Dan saatnya ia memberi tahu Samuel Goldwyn Pranata yang merupakan anak sulungnya yang kini berusia 27 tahun dan sudah matang untuk menikah.
Diruang keluarga Goldwyn. Sudah ada Kusuma dan istrinya yaitu Mar, Samuel dan Reisha anak bungsu dari kusuma yang baru menginjak usia 15 tahun.
"Sam Ayah ingin berbicara dengan mu." ucap Kusuma sembari menyeruput teh hijaunya.
"Bicaralah ayah." saut Samuel yang tengah asik menjahili adiknya.
"Kak gelii..... Kakkk. Mami liat kakak jahil sekali" ucap Reisha yang merasakan kegelian akibat ulah Samuel yang tak henti menggelitik Reisha.
"Sam berhentilah, kasian Isha." Bentak Mar.
"Dengarkan ayah ingin berbicara serius dengan mu." ucapnya lagi.
"Baiklah mam, ayah ingin berbicara apa, bicaralah biasanya juga langsung ngomongkan." jawab Samuel.
"Ayah akan menjodohkan kamu dengan anak teman ayah." ucap Kusuma.
"Apa Sam ga salah denger yah. Ini tuh udah bukan zamannya Siti Nurleha yah. Sam juga punya pilihan sendiri yah." ucap Samuel meninggalkan ruang keluarga tersebut dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya.