
"Kak Taksa!"
"Hmmmm."
"Apa rencana kita selanjutnya? apa tidak apa jika kita menunda semuanya? sebenarnya apa yang kau khawatirkan Kak?" tanya Viola. Dia memainkan jemarinya di atas dada polos Taksa. Ini akhir pekan, mereka memang selalu menyempatkan waktu untuk bertemu.
"Bersabarlah Vi, semuanya akan berjalan seperti apa yang telah kita rencanakan. Cepat atau lambat kita akan membuat Kent hancur. Saat itu terjadi, aku akan menjadi orang paling berkuasa di kota ini."
Mereka kembali bergelut di dalam selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka. Mungkin ini sedikit aneh. Viola adalah istri Kent, tapi dia malah melakukan hubungan intim dengan Taksa. Ketamakan dirinya dan Taksa membuat mereka lupa kalau apa yang mereka lakukan ini adalah hal yang sangat merugikan orang lain. Untuk apa Viola menikahi Kent kalau dia menyerahkan tubuhnya pada pria lain.
Lain dengan Viola, lain lagi dengan Camelia. Gadis cantik itu terus tersenyum cerah di samping suaminya. Kali ini mereka tidak menggunakan sopir karena Kent mau menyetir mobilnya sendiri. Mereka tidak tahu akan seberapa lama mereka berkunjung ke rumah orang tuanya Camelia, jadi lebih baik sopir tidak ikut supaya dia tidak menunggu lama.
"Kak!" panggil Camelia. Kent hampir saja di buat jantungan karena Camelia mendekatkan wajahnya ke wajah Kent.
"Apa?" tanya Kent dingin.
"Terimakasih, aku sangat bahagia karena Kakak mau mengantarku bertemu dengan Mama dan Papa."
Deg.
Deg.
Deg.
Jantung Kent berdetak kencang saat matanya tidak sengaja menatap manik mata coklat nan bulat milik istri kecilnya. Mata berbinar Camelia, senyum di bibirnya, bahkan lesung pipinya membuat Kent oleng untuk sesaat. Perasan kagum yang sebelumya belum pernah dia rasakan kini dia bisa merasakannya. Bahkan deru nafas Camelia seakan terdengar sangat jelas di telinganya.
"Kak!" panggil Camelia sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Kent.
"Di depan ada pohon," ucap Camelia santai.
Kitttttt....
Kent refleks menghentikan mobilnya. Lagi-lagi dia di buat terkejut. Namun, ekspresi datar yang di tunjukan Camelia membuatnya sedikit bingung. Kenapa istri kecilnya bisa se santai ini? padahal mereka hampir saja ke celakaan bukan? tapi?...
Camelia tidak memperdulikan Kent. Dia malah melepas sepatu heels hak tahu lima senti nya kemudian membuka kaca jendela mobil dan menyumbulkan kepalanya ke luar.
Glekkk....
Kent menelan salivanya dengan susah payah. Pemandangan di hadapannya ini sungguh sangat luar biasa, Kent ingin mengalihkan pandangannya tapi otak kecilnya menolak untuk melakukan itu. Dres selutut yang di kenakan Camelia, bahkan bagian tubuh teratas Camelia yang sedikit terbuka membuat fokus Kent sulit untuk beralih.
"Bella!" panggil Kent akhirnya.
"Bella!" panggil Kent lagi...
Settttt... Brukkkk....
Camelia langsung terduduk menghadap Kent saat suaminya itu menarik tangannya dengan sangat keras.
"Kau mau mati hah?" seloroh Kent. Camelia mengerutkan keningnya bingung. Kenapa Kent tiba-tiba menanyakannya hal yang tidak penting. Kalau orang di tanya mau mati atau tidak, jawabannya pasti tidak bukan? lalu kenapa Kent menanyakan itu padanya.
"Apa maksudmu Kak?" tanya camelia.
Kent memalingkan wajahnya. Pose Camelia saat ini membuat otak Kent traveling kemana-mana. Sebenarnya apa yang terjadi, biasanya melihat wanita telanjang pun Kent tidak akan bereaksi. Tapi kenapa saat melihat Camelia dengan segala pesonanya, Kent se akan lupa pada jati dirinya sendiri. Otak bejatnya mendorong dia untuk memikirkan hal-hal yang tidak perlu.
Camelia mendengus. Dia mengambil sepatunya lalu mengenakan sepatu itu di depan Kent. Lagi-lagi perbuatan Camelia itu membuat Kent panas dingin. Kenapa Camelia harus memakai sepatunya menghadap Kent. Alhasil mata tajam Kent bisa melihat paha terdalam Camelia. Gadis yang ada di hadapannya ini bodoh atau bagaimana. Apa dia memaksa Kent untuk menggaulinya secara paksa?
Kent melepas jaketnya lalu melemparkannya ke arah paha Camelia supaya paha putih nan mulus itu tidak mengganggu otak nya lagi.
"Kau ini kenapa Kak? dari tadi aku melihat gelagat aneh. Apa kau sedang tidak enak badan?"
Kent menggeleng. "Kita akan melanjutkan perjalanan."
Camelia hanya mengangguk. Dia tidak ingin bertanya lebih banyak karena Kent juga tidak pernah mau menjawab pertanyaannya dengan jelas.
Tiga puluh menit kemudian, Kent dan Camelia sudah sampai di kediaman Davindra dan Zinnia. Mereka masuk dan langsung di sambut hangat oleh kedua orang tua mereka. Ya, Kent juga sudah menikah dengan Camelia, itu artinya orang tua Camelia juga orang tuanya. Begitupun sebaliknya.
"Mama!" teriak Camelia. Dia berlari dan langsung menghambur ke pelukan Zinnia.
"Papa juga ingin di peluk Sayang," ucap Davindra yang cemburu karena Camelia langsung memeluk Zinnia sedangkan dia di diamkan begitu saja.
"Papa jangan cemburu," pinta Camelia
Dia melepas pelukan Zinnia lalu beralih ke pelukan Davindra.
Kent yang melihat adegan itu hanya tersenyum tipis. Dia tidak bisa melakukan apa yang Camelia lakukan karena dia adalah seorang penggila kebersihan. Dengan orang tuanya saja Kent jarang bersentuhan. Apalagi dengan orang lain. Sangat tidak mungkin.
"Masuklah Nak!" titah Zinnia pada Kent. Kent mengangguk. Dia mengekori tida orang yang sudah berjalan di depannya lebih dulu.
"Kalian sudah makan siang belum?" tanya Zinnia pada Camelia dan Kent.
"Sudah."
"Belum."
Jawaban Kent dan Camelia yang berbeda membuat kedua orang tua Camelia saling pandang. Jadi mana jawaban yang benar.
"Akh, Kak Kent sudah makan Ma, tapi Camelia belum. Kakak punya riwayat Mag, jadi dia tidak bisa makan telat."
Kent tersenyum kecut. Bisa-bisanya Camelia mengatakan kalau Kent sakit Mag. Dia hanya tidak bisa makan di sembarang tempat.
Setelah Camelia selesai makan siang. Dia melirik Kent dan Davindra yang sedang bermain catur. Hatinya menghangat, andai Kent tidak gila kebersihan. Dia pasti akan berbaur dengan sangat baik bersama keluarganya. Hanya saja, harapan itu hanyalah harapan. Entah apa yang harus Camelia lakukan supaya Kent bisa merubah sikap nya yang terlalu cinta kebersihan itu.
"Hai!" teriak Camelia. Dia menepuk bahu Kent lalu memeluknya dari belakang. Lebih tepatnya dia menyandarkan dagunya di bahu sang suami. Sementara kedua tangannya sudah melingkar indah di depan leher Kent.
"Jangan protes. Kita hanya sedang berakting," bisik Camelia di telinga Kent.
Kent yang tadinya hendak melepas pelukan Camelia dengan terpaksa mengurungkan niatnya.
Davindra dan Zinnia tersenyum ketika melihat kedekatan Camelia dan Kent. Apa yang mereka takutkan tidak terjadi. Mereka pikir Camelia akan tersiksa karena Kent tidak mencintainya. Tapi ternyata, hubungan Camelia dan Kent sudah sebaik ini. Mereka harus bahagia. Meskipun Camelia hanya menjadi istri kedua, asal Kent mencintainya dan memperlakukan Camelia dengan baik, Zinnia maupun Davindra akan merasa lebih tenang.
"Kedua bola ping pong mu itu membuatku tidak bisa fokus Bella," gumam Kent dalam hati. Kent semakin tidak nyaman karena ada sesuatu yang menegang di balik celana yang dia kenakan. Bahkan semakin lama semakin sesak dan menyakitkan.
"Aku akan membunuh mu Bella," gerutu Kent lagi.
...To Be Continued....