
"Aku tidak mau ikut lomba itu," ucap Kent yang langsung mendapat pelototan dari Navarro. Camelia menarik tangan Kent lalu mengajaknya untuk berbicara di tempat yang agak jauh dari ayahnya.
"Kakak! Kenapa kau menolak permintaan Ayah? Aku sudah bilang kau akan mengikuti lomba ini. Aku yakin kau akan menang."
Camelia melirik Navarro sekilas lalu kembali berbicara kepada Kent dengan suara yang sedikit berbisik. "Aku sidah bilang kalau aku ini seorang cenayang. Aku tahu, Kakak tidak akan menang kalau hanya mengandalkan kemampuan Kakak. Kakak itu harus lebih cerdik. Aku akan membantu Kakak memenangkan lomba ini, kita berdua akan memulai proyek ini bersama."
Kent terdiam. Dia tidak ingin mempercayai ucapan Camelia tetapi Camelia sudah menjadi istrinya, percaya tidak percaya, yakin tidak yakin, dia harus mendengarkan apa yang di katakan Camelia padanya.
"Aku akan mengambil proyek ini, aku sendiri yang akan menggambar desain nya. Tapi kau harus janji, kau harus menemaniku menyelesaikan proyek ini sampai akhir."
Camelia mengangguk. Dia menarik Kent untuk duduk kembali di sofa.
"Aku akan mengikuti lomba itu Ayah," ucap Kent yakin. Dia melirik Camelia dan tersenyum mm melihat wanita cantik itu mengangguk sambil tersenyum.
Navarro sangat puas. Dia menepuk kedua pahanya lalu berdiri. "Aku yakin kau akan memenangkan lomba ini. Dan untuk Bella, terimakasih karena sudah membantu Ayah membujuk Kent."
Camelia mengangguk. Dia menemani Navarro keluar dari ruangan Kent. Sementara Kent menelpon seseorang untuk mencari tahu siapa yang membuat lomba ini dan apa konsep dari lomba yang akan dia ikuti. Meskipun Kent adalah seorang CEO di perusahaan nya, dia juga merupakan seorang arsitek yang handal.
"Serahkan semua informasinya malam ini Devano!"
"Baik Tuan!"
"Kakak!" panggil Camelia menghampiri Kent dan memeluknya dari belakang.
Kent menarik tangan Camelia. Camelia yang mengerti akan isyarat yang di berikan Kente berjalan mengitari sofa dan duduk di pangkuan sang suami.
"Ada apa lagi Kak? Kau belum kapok setelah kepergok Ayah?" tanya Camelia mengalungkan tangannya di leher Kent.
"Sekarang katakan apa yang kau rencanakan heum?"
Kent menatap Camelia lekat. Orang yang di tatap menjadi tersipu dan membuat pipinya mengeluarkan semburat merah alami. Kent yang gemas mencubit pipi Camelia membuat wanita cantik itu semakin malu dan membenamkan wajahnya di bahu Kent.
"Kenapa? Kau malu?" tanya Kent sambil mengusap punggung Camelia lembut.
Dengan polosnya Camelia mengangguk. Dan itu membuat Kent semakin gemas dan ingin menerkam Camelia saat ini juga.
Brukkkk...
Camelia membulatkan matanya ketika sang suami membaringkannya di atas sofa dan menindih tubuhnya meski tidak sepenuhnya.
"Apa yang ingin kau lakukan Kak?" tanya Camelia gugup. Kent mendekatkan wajahnya ke wajah Camelia membuat istri cantiknya itu semakin gugup dan takut.
"Kakak aku akan menjelaskannya semuanya!" ucap Camelia langsung mendorong bahu Kent. Dia sendiri berlari sampai kedua sepatu yang tadi dia kenakan berhamburan kemana-mana. Kent terkekeh meskipun dia sangat terkejut dengan sikap Camelia yang tiba-tiba.
"Kau mau ke mana hmm?" tanya Kent mengambil sepatu Camelia dan membawanya mendekat ke arah wanita itu.
Camelia sedang duduk santai di kursi kebesaran Kent. Dia duduk dengan posisi yang angkuh. Persis seperti seorang bos mafia yang kejam dan menakutkan.
"Jadi apa yang ingin kau katakan Sayang?" tanya Kent. Dia menyandarkan pantatnya di meja kerja. Kedua tangannya dia silangkan lalu menatap Camelia lekat dengan wajah yang serius.
Camelia tersenyum. "Jadi begini Kak," Camelia membuat ancang-ancang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kau kerjakan saja dulu arsitektur nya."
Kent melongo melihat Camelia melesat pergi keluar dari ruangannya. Dia tidak habis pikir, kenapa sulit sekali mengorek informasi dari istrinya itu. Padahal Kent sangat penasaran dengan apa yang di ketahui Camelia.
"Awas saja, nanti malam aku akan mengurung mu di ruangan ini Bella, kau tidak akan bisa pulang."
Sementara di tempat lain, Taksa sedang berada di ruangan ayahnya.
"Jadi maksud Ayah aku harus mengikuti lomba ini?" tanya Taksa menatap Wanbli dengan tatapan yang sulit di artikan. Wanbli tidak tahu Taksa senang atau justru malah keberatan dengan permintaannya.
"Aku akan mengikuti lombanya Ayah. Tapi jangan terlalu berharap. Aku yakin perusahaan yang mengikuti lomba ini bukan hanya perusahaan kecil. Ini adalah lomba tingkat global, jadi perusahan yang mengikuti lomba inipun pasti bukan perusahaan kecil."
Wanbli mengangguk. Meskipun Taksa tidak memberitahunya, dia sudah tahu. Dia yang menawarkan lomba ini kepada Taksa sudah pasti dia tahu apa yang harus dia persiapkan untuk mengikuti lomba ini.
"Ayah tahu apa yang di inginkan mereka. Kau hanya perlu membuat arsitektur yang bagus. Masalah yang lainnya, biar ayah yang urus."
"Baiklah Ayah. Aku percayakan ini padamu. Aku yakin kita akan menang jika kita bekerja sama dengan baik."
Taksa keluar dari ruangan ayahnya. Dia sebenarnya sangat malas untuk mengikuti lomba ini. Akan lebih menyenangkan kalau dia main di klub malam selama berbulan-bulan daripada harus sibuk dengan urusan pekerjaan yang tidak pernah ada ujungnya.
"Sebelum aku sibuk menyiapkan berkas untuk lomba, sebaiknya aku memuaskan diriku terlebih dahulu dengan para dayang sialan itu."
Taksa masuk ke dalam mobilnya. Dia berencana untuk pergi ke sebuah klub malam langganannya. Dia harus mengisi energi sebelum mulai bertarung. Jika lomba sudah di mulai, dia yakin, dia tidak akan punya waktu untuk bersenang-senang.
Setelah hampir stau jam berkendara, Taksa akhirnya sampai di depan sebuah club malam terbesar di kota C. Dia keluar dari mobil lalu masuk ke dalam klub itu dengan langkah yang riang. Dia akan melakukan hal-hal yang menyenangkan, tentu saja dia harus bahagia untuk itu.
"Viola!" gumam Taksa ketika melihat wanita yang selalu menemaninya di atas ranjang ada di club itu sedang menari dengan heboh seperti orang yang sedang kesetanan.
"Kau baik-baik saja!" pekik Taksa membuat Viola langsung menoleh dan melihat ke arah sumber suara.
"Kak Taksa!"
Wanita itu berteriak dan langsung menghambur ke pelukan laki-laki yang selalu ada di dalam hatinya. Dia memeluk Taksa sambil menciumi anggota tubuh Taksa mulai dari tengkuk, leher, dan turun ke dada Taksa meskipun laki-laki itu masih mengenakan pakaian.
Taksa tersenyum menyeringai. Dia menarik tangan Viola dan membawanya ke dalam KTV VVIP yang selalu dia pesan jika dia datang ke klub ini.
Viola hanya menurut. Pengaruh alkohol yang dia minum membuatnya hilang akal dan hanya bisa pasrah mendapat perlakuan apapun dari taksa.
"Kau harus menuruti ku Vi, setelah ini pergilah kepada Kent dan katakan padaku kalau kau memiliki informasi yang penting."
...To Be Continued....