Extraordinary Love

Extraordinary Love
Materi Untuk Mengikuti Lomba



Hari sudah semakin malam. Sudah seminggu sejak Kent memutuskan untuk mengikuti lomba. Dia semakin sibuk dan semakin sulit untuk di ganggu. Camelia menghentak-hentakkan kakinya di atas lantai. Dia sedang menunggu Kent menyelesaikan gambar arsitektur nya. Setelah mereka selesai makan malam Kent menganggur kan Camelia karena dia sangat fokus pada pekerjaannya.


"Kakak!" panggil Camelia.


Kent tidak bergeming. Dia malah menjauhkan wajahnya dari meja dan membetulkan posisi kacamatanya lalu memeriksa kembali hasil kerjanya dengan seksama.


Camelia semakin memanyunkan bibirnya. Dia berjalan mendekati Kent lalu duduk di atas pangkuan suaminya itu. Dia menarik kaca mata yang di kenakan Kent lalu menaruhnya di atas meja.


"Kau sudah mengabaikan ku semalaman ini Kak. Aku tahu kau sedang berusaha. Tetapi, aku harus mengatakan kalau kau tidak bisa hanya terfokus pada desain saja. Karya kali ini harus memiliki arti yang dalam, seindah apapun karya yang Kakak buat, kalau Kakak tidak memakai hati dan tidak membuat filosopi untuk karya Kakak ini, semuanya akan sia-sia. Yang desain arsitektur nya bagus pasti banyak. Sangat banyak malah. Kalau Kakak hanya fokus menggambar, Kakak tidak akan menang."


Kent tersenyum. Dia mencubit hidung Camelia gemas."Kau sudah sangat pandai hmm, kau istriku bukan? Kenapa semakin lama kau semakin pintar? Apa aku melewatkan sesuatu?" tanya Kent yang langsung di beri gelengan oleh Camelia.


"Kakak jangan seperti itu. Aku hanya memberikan Kakak saran, aku tidak bermaksud menggurui Kakak. Asal Kakak tahu, aku ini memang sudah pandai sejak lahir."


Kent terkekeh. Dia menarik pinggang Camelia lalu memeluknya erat. Sebenarnya apa yang di katakan Camelia itu ada benarnya. Sebuah lomba besar seperti ini tidak mungkin hanya menilai dari hasil gambar desain saja. Pasti banyak hal yang mereka tinjau.


"Lalu aku harus bagaimana hmm? Haruskan kita jalan-jalan dulu besok?" tanya Kent yang langsung membuat Camelia tersenyum sumringah.


"Aku ingin pergi ke taman bermain Kak. Bolehkan?"


Kent mengangguk. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Camelia. Hari ini dia sudah sangat lelah, seharusnya mereka memang sudah pulang sejak sore.


"Sekarang kita pulang dulu ya!"


"Ayo Kak!" ajak Camelia langsung berdiri dan mengambil jas yang ada di belakang kursi kebesaran Kent. Dia membantu Kent berdiri lalu memakaikan jas itu pada sang suami.


Kent hanya tersenyum melihat tingkah Camelia yang sangat riang. Gadis cantik itu berlari ke arah sofa lalu menyambar tas yang tadi dia bawa dan menarik tangan Kent untuk segera keluar dari perusahaan.


Setelah ada di dalam mobil, Camelia menyuruh Kent untuk menyandarkan kepalanya di bahu Camelia. Meskipun Kent sudah menolak, Camelia terus memaksanya sampai mau tidak mau Kent melakukan apa yang Camelia minta.


Gadis itu menepuk kepala Kent perlahan. Dia juga bersenandung seperti seorang ibu yang sedang berusaha untuk membuat anaknya tertidur. Kent terbuai dengan apa yang dilakukan Camelia. Secara perlahan matanya tertutup.


Pak Indro yang melihat adegan tidak biasa di belakang nya menjadi salah tingkah. Dia tersenyum-senyum seperti orang yang sedang jatuh cinta. Apa yang di lakukan Kent dan Camelia saat ini adalah pemandangan yang tidak biasa. Selama hampir 10 tahun Pak Indro bekerja untuk tuannya itu, baru kalai ini dia melihat Tuannya seperti seorang bayi yang penurut.


"Kita sudah sampai Nyonya," ucap Indro ketika mereka sudah ada di depan rumah.


Camelia mengangguk. Dia menepuk pipi Kent beberapa kali. Kent sepertinya sangat kelelahan sampai dia sulit untuk di bangunkan.


"Kakak!" panggil Kent. "Kak!" panggilnya lagi. Kent masih tidak bergeming. Dia masih tidur dengan pulas di bahu sang istri. Apa posisi seperti itu memang nyaman? Sepertinya tidak.


"Sayang!" panggil Camelia.


"Kau bilang apa barusan?" tanya Kent sambil menempelkan keningnya dan kening Camelia.


"Sayang!" Ucap Camelia polos.


Kent tersenyum. Dia kembali menautkan bibirnya, membungkam bibir ranum Camelia yang sejak tadi terus bergumam melantunkan nyanyian-nyanyian indah dari bibirnya.


"Kakak hentikan!" Pekik Camelia mendorong bahu Kent dengan sangat kuat. "Nanti kalau Kak Viola melihat bagaimana? Kita sudah sepakat kalau kita akan merahasiakan bubungan ini darinya. Kakak lupa ya?"


Kent menggeleng. Dia tidak lupa. Dia hanya ingin mencicipi bibir Camelia yang sudah menjadi candu untuknya. Berhubung melakukan hal yang lebih dari itu tidak boleh, menciumnya saja tidak apa bukan? Camelia sudah menjadi istrinya. Wajar kalau Kent mau menyentuhnya di mana saja dan kapan saja.


"Aku tidak bermaksud seperti itu. Sekarang keluarlah! Aku akan masuk sebentar lagi."


Camelia mengangguk. Setelah merapikan rambut dan juga bajunya, dia turun dari dalam mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


Matanya sudah di suguhkan dengan istri pertama suaminya yang sedang berdiri di depan tangga sambil menyilangkan tangannya dan menatap Camelia tajam.


"Dari mana aja lo burik?" hardik Viola yang langsung membuat Camelia memutar bola matanya.


"Wajah semulus ini dibilang burik. Apalagi kalau dia tahu aku yang sebenarnya seperti apa, habislah sudah aku di hinanya," gumam Camelia dalam hati.


"Aku kerja lah, masa mau numpang hidup sama suami. Kalau Kak Viola bisa kerja, aku juga bisa. Memangnya kenapa? Gak boleh?" tanya Camelia membuat Viola berjalan semakin dekat ke arahnya.


"Aku tahu otak mu ini otak udang. Jadi jangan berusaha untuk bersikap seperti orang pintar dihadapan ku. Aku tahu, kau bisa masuk ke universitas saja itu semua atas dukungan dari orang tuamu. Kalau mereka tidak menyuap para petinggi, kau pasti tidak akan bisa kuliah di sana."


Camelia diam untuk sesaat. Apakah Garbera memang sebodoh itu? Tetapi kalaupun iya, dia buka Garbera, dia adalah Camelia yang memiliki otak encer se encer air mineral yang jernih dan bersih.


"Apapun yang Kak Viola katakan, aku tidak perduli. Memang kenapa kalau aku masuk ke sana atas bantuan orang tuaku? Toh mereka tidak meminjam uang Kakak kan? Kenapa harus repot mengurusi hal yang tidak penting?"


Viola menggeram. Dia sudah berusaha mencari kalimat yang akan menjatuhkan semangat Camelia. Tapi perempuan itu malah bersikap biasa saja malah terlalu santai. Viola menggeram. Dia menyenggol bahu Camelia lalu berjalan menuju pintu.


Wajah yang tadinya galak seketika berubah menjadi sangat cerah. Dia sedikit berlari untuk menghampiri Kent. Suaminya sudah pulang, dan dia harus menyambutnya dengan baik.


"Kenapa baru pulang Kak? Apakah pekerjaan di kantor terlalu banyak? Kau membutuhkan bantuan ku tidak?" tanya Viola sambil bergelayut manja dilengan Kent.


Kent tersenyum. "Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan penting Vi. Kenapa kamu belum tidur?"


...To Be Continued....