
Kent menggerutu di dalam hati. Dia sangat tidak suka Viola menempel padanya. Hanya saja, karena Camelia terus mintanya untuk bersikap baik pada Viola agar rencana mereka bisa berjalan dengan lancar, Kent tidak bisa menolak. Dia hanya bisa menurut dan mengikuti apa yang diminta Camelia padanya.
"Aku ke kamar lebih dulu," ucap Camelia tanpa suara. Kent mengangguk. Camelia naik ke lantai atas memberikan waktu untuk Kent dan Viola supaya mereka bisa mengobrol dan Viola bisa semakin yakin kalau Kent sudah berubah dan mulai mengakui keberadaan Viola.
Camelia masuk ke dalam kamarnya. Sambil menunggu Kent, dia membersihkan diri dan berdandan sangat cantik. Sebenarnya ini tidak bisa dikatakan berdandan. Camelia hanya mengenakan skin care rutin dan juga sebuah lip serum serta body mist supaya Kent bisa betah saat mereka sedang bersama.
Drtzzzzz... Drtzzzzz...
Camelia menoleh ke atas ranjang saat ponselnya berdering. Dia mengambil ponsel itu dan langsung mengangkatnya saat melihat nama Melodi tertera di atas layar ponselnya.
"Ada apa Mel?" tanya Camelia pada orang di sebrang telepon.
"Kau di mana? Kau sudah pulang belum? Kenapa aku tadi mendengar suaramu?"
"Aku memang sudah pulang. Aku tidak bisa pergi ke kamar mu. kak Viola masih belum tidur. Aku takut kalau aku masuk ke kamar mu aku tidak akan bisa keluar lagi. Jadi aku harus langsung masuk ke kamar Kent saat ada kesempatan. Aku masih harus menyembunyikan hubungan ku dengan Kent dari Kak Viola. Maafkan aku. Kau sudah makan malam?"
"Aku mengerti. Aku juga sudah makan malam. Kau tidak perlu khawatir."
"Ya sudah kalau begitu. Aku tutup teleponnya dulu ya!"
Brakkkkkk...
Camelia sangat terkejut begitu melihat Kent masuk ke dalam kamar dan langsung berlari ke arah kamar mandi. Camelia mengikuti Kent dan menggedor pintu kamar mandi itu beberapa kali.
"Kak! Apa kau baik-baik saja?" tanya Camelia menempelkan telinganya pada pintu kamar mandi.
"Kakak! Buka pintunya! Biarkan aku membantumu."
Krieetttt..
Pintu kamar mandi terbuka. Camelia langsung memegang lengan Kent dan membantunya untuk duduk di atas ranjang. Suaminya terlihat sangat tersiksa. Dia memang selalu memuntahkan semua isi perutnya setelah bercengkrama dengan Viola. Padahal Kent tidak pernah menyentuh Viola. Mendapat sentuhan saja dia bisa tumbang seperti ini. Apalagi kalau dia balas menyentuh. Habislah sudah dirinya.
"Maafkan aku Kak. Kau harus menderita seperti ini karena permintaan ku yang terlalu berat."
Kent menggeleng. Dia menarik pinggang Camelia dan memeluknya erat. Camelia tidak salah. Kent tahu, Camelia memintanya melakukan ini karena dia ingin membantu Kent. Kent saja yang tidak bisa mentolerir sentuhan dari orang lain. Kalau saja dia normal, permintaan Camelia ini bukalah permintaan yang sulit.
Camelia mengusap punggung Kent perlahan. Bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis. Syukurlah Kent bisa menerima apa yang dia minta. Kent juga tidak menunjukkan reaksi yang sama saat dia menyentuh Kent.
"Aku akan membuatkan teh hijau untuk Kakak. Kakak duduk dulu sebentar ya!"
Camelia sibuk dengan aktivitasnya menjadi seorang istri. Dia melayani Kent dengan sangat baik. Meskipun dia baru berusia 17 tahun, setidaknya karena dia sering melihat apa yang dilakukan oleh ibunya pada ayahnya di kehidupan Camelia yang asli, dia bisa mengerti dan tahu bagaimana cara untuk melayani seorang suami dengan baik.
"Apa yang sedang kau lakukan Ibu, Ayah? Apa kalian baik-baik saja," gumam Camelia dalam hati.
Camelia bukan tidak merindukan kedua orangtuanya. Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia sangat ingin bertemu dengan kedua orangtuanya. Tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tuhan memberikannya takdir seperti ini. Lantas dia harus apa? Memberontak? Mendemo Tuhan? Tidak mungkin bukan?
"Kenapa kau malah melamun?" tanya Kent melingkar kan kedua tangannya di perut ramping Camelia. Dia menyandarkan dagunya di bahu sang istri. Meskipun Camelia jauh lebih pendek darinya. Kesenjangan dalam tinggi badan mereka tidak lantas membuat Kent merasa kurang nyaman. Asal dia bisa bersentuhan dengan Camelia, posisi seperti apapun itu, dia akan sangat menyukainya.
Camelia mengusap punggung tangan Kent. Dia tersenyum lalu memutar tubuhnya menghadap laki-laki yang sangat dia cintai itu.
"Aku merindukan kedua orangtuaku Kak. Entah kenapa aku merasa khawatir dan sangat ingin bertemu dengan mereka," ucap Camelia lirih. Dia memeluk Kent dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
Kent mengusap punggung Camelia lembut. Dia mengecup pucuk kepala Camelia beberapa kali.
"Kalau kau sangat merindukan kedua orangtuamu, besok kita akan pergi menemui mereka setelah kita pulang dari taman bermain."
Camelia mengangguk. Meskipun bukan Zinnia dan Davindra yang dia rindukan, tetapi jika bertemu dengan mereka bisa sedikit meredakan rasa rindunya pada kedua orangtuanya di dunia nyata, Camelia akan melakukan itu.
Camelia dan Kent masih terhanyut dalam pelukan masing-masing. Sementara di tempat lain. Lebih tepatnya di kamar Taksa, dia sedang melamun memikirkan bagaimana caranya supaya dia bisa mengambil cetak biru yang di miliki Kent. Ayahnya Wanbli sudah mengatakan kalau Kent mengikuti lomba itu. Taksa tidak menutup mata.
Kent memang sangat berbakat, dia sudah mengalahkan Taksa dalam berbagai ajang perlombaan. Meskipun dia juga selalu masuk ke dalam jajaran tiga besar pemenang lomba. Dia tidak pernah merasa puas karena Kent selalu lebih unggul darinya.
Kali ini dia harus menang. Meskipun dia harus menggunakan cara yang licik. Dia tidak keberatan dengan hal itu. Yang penting menang. Jalan seperti apapun yang harus dia tempuh, dia akan melakukannya.
Taksa merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya. Dia menelpon seseorang yang mungkin saja bisa dia andalkan. Viola adalah kekasih sekaligus partner untuknya. Selain bisa di manfaatkan di atas ranjang, dia juga sangat mudah untuk di suruh ini dan itu.
"Halo Kak!" ucap Viola di sebrang telepon.
"Bagaimana kemajuan hubungan mu dengan Kent?" tanya Taksa.
Terdengar suara tawa dari orang yang di tanyai. "Kau tidak perlu khawatir Kak. Sepertinya Kent mulai menyukaiku. Aku yakin, cepat atau lambat, dia akan masuk ke dalam perangkap kita. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan melakukan tugasku dengan baik. Kau bisa mengandalkan ku Kak. Seorang Viola tidak akan pernah gagal."
Taksa ikut tertawa mendengar apa yang dikatakan Viola padanya. Dia dan Viola sangat yakin kalau Kent akan masuk ke dalam perangkapnya.
"Setelah ini akulah yang akan memenangkan setiap perlombaan yang kita ikuti Kent."
...To Be Continued....