
Ashana menyambar tasnya kemudian keluar dari rumah Kent dengan tergesa. Susana hatinya sangat buruk saat ini. Semua yang dia harapkan dari Viola hancur begitu saja. Padahal dia selalu ribut dengan suaminya hanya karena memperebutkan siapa yang lebih baik antara Viola dan Bella, tapi sekarang buktinya apa, orang yang selama ini dia bela meskipun harus ribut dengan suaminya sendiri malah mengecewakannya seperti ini. Sungguh sangat luar biasa.
"Sekarang apa yang kau lakukan di sini Viola? Pergilah! Aku sudah mengurus surat perceraian kita, dalam beberapa hari surat perceraian itu akan sampai di rumahmu."
Viola mendengus. Dia menghentakkan kakinya di atas lantai dengan kuat. "Awas saja kalian! Aku janji, aku akan menghancurkan kalian semua, dan kau Bella, jangan senang dulu, aku pasti akan kembali untuk merebut apa yang seharusnya jadi milikku."
Kent menarik pinggang Camelia saat Viola berusaha untuk mencakar wajah Camelia. "Dasar rubah betina, sebaiknya kau jaga dirimu baik-baik, dengan perangai mu yang seperti ini, kau akan mendapatkan banyak musuh di luar sana Viola."
Kent menatap Viola dengan kilatan api di matanya. Ada sedikit rasa kecewa di dalam hatinya. Selama ini dia berpikir kalau Viola bersikap baik padanya karena Viola memang mencintainya. Tapi ternya dia salah. Wanita rubah itu tidak bisa dipercaya.
"Bella, Kent, aku juga harus pergi dari rumah kalian. Aku sudah berjanji pada Mommy kalau aku akan pulang hari ini. Tidak apa-apa bukan?" tanya Melodi merasa sedikit ragu mengatakan ini. Sebenarnya dia masih sangat betah tinggal di rumah Kent, namun sepertinya dia memang harus segera pergi agar tidak menganggu Camelia dan Kent.
"Kenapa sangat buru-buru Mel? Bukankah kita masih ada proyek bersama?" ucap Camelia menghampiri Melodi lalu memeluk wanita itu lama.
Melodi tersenyum. Dia mengusap punggung Camelia lembut. "Kau tenang saja. Kita masih bisa bertemu setiap hari. Aku janji, aku akan mengajarkan semuanya padamu saat kita sedang senggang."
Anggukan dari Camelia membuat Melodi menjadi lebih mantap untuk segera keluar dari rumah Kent.
****
Beberapa saat kemudian, Melodi turun dengan membawa tas dan juga beberapa barangnya.
"Kamu sudah mempersiapkan ini bukan?" tanya Camelia. Melodi baru sebentar naik ke lantai atas, tapi dia sudah turun lagi membawa semua barang miliknya.
"Aku sudah mempersiapkan ini sejak dua hari yang lalu, tapi karena kau sangat sibuk, aku baru mendapatkan waktu untuk bicara padamu hari ini," ujar Melodi.
"Sudahlah Baby, jangan buat Melodi bimbang. Dia mempunyai keluarga. Sudah seharusnya dia pulang. Dia sudah beberapa Minggu di sini. Kasihan keluarganya."
Camelia mengangguk. Meskipun dia tidak rela, dia memang harus melepaskan Melodi. "Hati-hati di jalan Mel! Apa aku harus mengantar mu? Barang mu banyak begitu, apa kau bisa membawanya sekaligus?"
"Aku bisa Bell, jangan khawatir. Aku pergi ya!"
Camelia tersenyum lalu melambaikan tangannya kepada Melodi. Matanya berkaca-kaca. Dan setelah Kent memeluknya air mata yang sejak tadi sudah berusaha Camelia tahan kini meluncur dengan bebas.
"Aku tidak punya teman lagi di rumah Kak. Hikssss ... Kenapa kau tidak melarang Melodi pergi?"
Kent memeluk Camelia semakin erat. Usapan demi usapan dia berikan di punggung Camelia. "Kau harus mengerti Baby, kita tidak punya hak atas Melodi. Kalian masih bisa bertemu di lain waktu bukan? Tidak perlu sedih seperti ini."
Camelia mengangguk di dalam pelukan Kent. " Kak, jangan pernah berpikir kalau masalah kita sudah selesai. Ini baru dimulai, masih banyak hal yang harus kita lakukan."
Camelia tiba-tiba mengusap air matanya saat sekelebat bayangan muncul di kepalanya.
"Apa maksudmu Bella?" tanya Kent.
"Aku rasa Viola akan semakin terang-terangan mengganggu ku. Banyak hal yang akan terjadi. Aku pikir masalahnya akan berakhir di sini, tapi aku salah."
Kent hanya diam. Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang Camelia ucapkan padanya. Viola? Masalah lain? Apa dia masih harus melewati hari-hari yang berat?
"Apapun itu, aku pasti bisa melewati semuanya kalau kau ada di samping ku Baby," ucap Nathan pada Camelia.
"Aku harap aku bisa membantumu Kak," gumam Melodi dalam hati.
****
Camellia hanya mengangguk sambil terus mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya. Dia sudah berusaha untuk tidak mengingat-ingat Melodi juga masalah yang lain. Namun entah kenapa dia merasa tidak tenang. Camelia selalu di hantui ingatan-ingatan yang sebelumnya tidak ada.
"Aku ingin menanyakan sesuatu Baby," ucap Kent menatap Camelia dengan senyum di bibirnya.
"Hah, ada apa Kak?" tanya Camelia.
"Sebenarnya proyek apa yang sedang kau lakukan dengan Melodi? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Kent sambil menopang dagunya dengan tangan kanannya di atas meja makan.
"Ekhemmmmm. Jadi seperti ini Kak, aku dan Melodi itu sebenarnya sedang belajar ilmu bela diri. Aku sudah mengerti dasar-dasarnya. Dan Melodi hanya mengajariku hal-hal yang selama ini belum pernah aku pelajari."
Kent menautkan alisnya. "Sejak kapan kau belajar ilmu beladiri? Kau itu memiliki penyakit. Tidak mungin Ayah dan Ibu mengijinkan kamu untuk melakukan hal-hal yang bisa membuatmu lelah."
Camellia menggelengkan kepalanya. "Aku melakukan ini secara diam-diam. Kakak jangan memberitahu Ibu dan Ayah untuk masalah ini, aku tidak ingin membuat mereka khawatirkan."
Kent memanyunkan bibirnya. Tiba-tiba saja selera makannya hilang.
Camelia melihat wajah murung Kent. Dia berdiri lalu duduk di atas pangkuan suaminya dengan melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami.
"Kakak, kenapa Kakak bad mood seperti ini? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?" tanya Camelia menatap mata suaminya lekat.
Kent menarik napas panjang lalu menghembuskan-nya perlahan. "Kau mengatakan kalau aku tidak boleh memberitahu kedua orang tua mu karena takut mereka akan menjadi sangat khawatir. Tapi kau tidak takut kalau aku juga akan khawatir padamu."
Camelia terkekeh. Jadi ini hal yang membuat selera makan suaminya hilang. Kent benar-benar sangat lucu. Semakin lama Camelia berada di dekat Kent, dia semakin tahu kalau Kent tidak sedingin yang di tuliskan di novel yang sangat dia sukai.
Cup ...
Camelia mengecup bibir Kent sekilas. "Jangan marah karena hal kecil seperti ini. Aku sengaja memberitahu Kakak karena Kakak adalah suamiku. Kakak harus tahu apa yang aku lakukan karena aku adalah tanggung jawab Kakak. Jangan marah lagi ya suamiku?" ucap Camellia mengecup bibir Kent untuk yang kesekian kalinya.
Namun saat Camelia ingin beranjak dari paha Kent, laki-laki itu malah menarik pinggangnya membuat dia kembali terduduk di pangkuan sang suami.
"Kak! Apa yang kau lakukan? Aku ingin makan lagi "
Kent tidak menggubris permintaan Camelia. Dia malah menarik tengkuk Camelia lalu menempelkan bibirnya di bibir milik wanita yang sangat dia cintai itu.
Drtzzzzz ...
Kent mematikan panggilan yang masuk ke ponselnya.
Drtzzzzz ...
Ponsel Kent yang ada di atas meja kembali bergetar. Dengan kesal Kent mematikan panggilan itu lagi.
Drtzzzzz ...
Camelia mendorong bahu Kent membuat tautan mereka terlepas. "Angkat dulu Kak! Siapa tahu penting."
Dengan kesal Kent mengangkat panggilan itu meskipun tangannya masih belum membebaskan Camelia. Camelia hanya tersenyum sambil memperhatikan ekspresi suaminya.
"What? Apa maksudmu?" teriak Kent dengan rahang yang mengetat menahan marah.
...To Be Continued....