
Malam hari sudah berganti pagi. Camelia menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Semalam dia tidur sangat pulas. Camelia bahkan tidak tahu kalau kedua orang tua dan mertuanya datang ke rumah. Pagi ini Camelia membuat berbagai macam masakan untuk suaminya. Wanita cantik itu menata semua makanan juga piring yang akan Kent gunakan dengan baik dan rapih.
"Morning Baby!" Kent melingkarkan kedua tangannya di perut Camelia. Laki-laki itu menyesap wangi tubuh Camelia cukup lama.
"Kakak geli!" Camelia berusaha melepaskan diri dari kurungan suaminya. Namun bukan Kent namanya kalau dia tidak bisa membuat Camelia diam.
Cup!
Camelia mematung ketika mendapat kecupan di leher. Darahnya mengalir sangat deras. Jantungnya berdegup tak karuan. Setelah Kent tahu kelemahan Camelia, dia sudah semakin pandai mengendalikan wanita itu.
"Kenapa diam hmm?" Kent berbisik di samping telinga Camelia. Napas hangat Kent membuat Camelia semakin terbang ke awang-awang. Kent benar-benar sudah tahu dimana titik-titik kelemahan Camila.
Kent terkekeh. Dia memutar tubuh Camelia lalu mengecup bibir sang istri untuk memberikan obat penawar. "Sudah," ucap Kent. "Sekarang duduk! Kita sarapan, setelah itu aku akan mengantarmu ke kampus."
Camelia memukul bahu suaminya beberapa kali. Semakin hari Kent semakin jahil. Dia tidak segan-segan menggoda Camelia di manapun mereka berada. Otak mesum Kent membuat Camelia kesulitan dalam beberapa keadaan.
Gelak tawa keluar dari mulut laki-laki tampan yang sudah hampir berkepala tiga. "Maafkan aku Baby, aku tidak tahan kalau tidak menggoda mu. Kau itu sangat lucu sayang."
Camelia mengerucutkan bibirnya. "Ya sudah, Kakak makan dulu saja! Nanti aku berangkat ke kampus sendiri. Aku gak mau Kakak antar."
Kent langsung merubah raut wajahnya. "Kenapa begitu Baby, aku janji aku tidak akan sering mengganggu mu lagi. Biarkan aku mengantar mu ya."
Camelia menggelengkan kepalanya. "Sekali tidak, tetap tidak. Aku akan lebih marah kalau Kakak memaksa. Sekarang sudah tidak akan ada yang bisa mencelakai ku Kak. Kakak tenang saja."
"Tapi-"
"Tidak ada tapi. Pokonya hari ini aku mau berangkat sama sopir aja."
Kent menurunkan bahunya lemah. Bukan ini yang dia inginkan. Kenapa Camelia harus marah karena hal kecil seperti itu, apakah karena dia sedang hamil? Kenapa orang hamil sangat sensitif. Kent jadi tidak leluasa menggoda istrinya.
"Jangan menekuk wajahmu seperti itu Kak."
Kent tidak menggubrish Camelia. Dia memasukan makanan ke mulutnya dengan malas. Kalau ini bukan masakan Camelia, Kent tidak akan memakannya. Moodnya melarang dia untuk makan sembarangan sekarang. Hanya makanan yang Camelia buatkan yang akan dia makan.
Kent sedang terhanyut dalam emosinya. Namun ketika itu terjadi, Kent tiba-tiba mengingat sesuatu. Kemarin ada yang ingin dia tanyakan kepada Camelia. Namun karena Camelia tidur sangat pulas. Kent menunda keinginannya.
"Baby!" Kent berseru.
"Iya Kak!"
"Ada yang ingin aku tanyakan. Tapi kali ini jawab jujur ya!"
Camelia hanya mengangguk. Dia kembali menaruh beberapa lauk di piring suaminya.
"Ada apa Kak? Tanyakan saja!"
Camelia membatu. Detik berikutnya dia menaruh sendok yang tadi sedang dia pegang lalu menatap mata sang suami.
"Kakak yakin kalau aku mengatakan apa yang sebenarnya Kakak akan percaya?"
Kent mengangguk. "Aku akan mempercayai mu. Aku janji."
Camelia menghembuskan napas kasar sebelum dia mulai berbicara. "Kakak tahu tidak, kalau aku ini bukan Bella yang asli?"
Kent mengerutkan keningnya bingung. Maksudnya Bella yang asli itu seperti apa. Apa yang sedang terjadi.
"Sebenarnya dunia kita berbeda Kak." Camelia menjeda kalimatnya untuk beberapa saat. "Kita sekarang sedang ada di dalam sebuah cerita novel. Aku tahu mungkin ini terdengar sangat aneh bangi mu. Kakak mungkin tahu, selama ini aku selalu bertingkah aneh. Aku bahkan tahu segala kekurangannya dan kelebihan Kakak. Apa yang akan terjadi di kehidupan Kakak aku tahu semuanya."
Kent masih diam. Dia berusaha keras untuk mencerna setiap kalimat yang Camelia lontarkan. Beda dunia? Dunia novel. Apa itu masuk akal?"
Aku tahu Kakak tidak akan percaya. Namun aku sudah menunjukkan beberapa bukti. Tentang pernikahan Kakak dengan Kak Viola, rencana bisnis yang tidak bagu, lomba, dan yang terakhir adalah Samantha. Aku mendapatkan bukti dari anak buah Kakak yang Kakak kirim untuk membuntuti Kak Viola. Sebenarnya aku sudah tidak tahu alur novel yang selanjutnya akan seperti apa. Ada beberapa kejadian yang sudah aku rubah. Namun, entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu mendapatkan gambaran tentang apa yang akan terjadi, sejak awal aku sudah tahu kalau Andreas adalah topeng untuk Samantha. Mangkanya aku membiarkan dia bersekutu dengan Kak Viola. Kak Viola tidak tahu kalau Andreas itu hanya anjing peliharaan untuk Kak Samantha. Ketika aku akan di culik, sebenarnya aku sudah tahu. Aku sengaja menghubungi Kak Samantha untuk menolongku. Hari itu aku mau menyerahkan diri kepa mereka, namun karena aku melihat sopir kita hampir mati di tangan anak buahnya Samantha, aku membalas mereka. Namun naasnya aku malah dibius. Mereka menyerang ku dari belakang."
"Tunggu- maksudmu, kita ini tidak nyata?"
Camelia mengangguk lalu menggeleng. "Sejujurnya aku juga tidak tahu. Pada awalnya aku juga meyakini kalau ini tidak nyata. Tetapi sepertinya dunia ini juga ada."
Kent semakin dibuat bingung. Dia memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja berdenyut. "Lalu kenapa kamu mengatakan kalau kamu bukan Bella yang asli?"
"Aku Camelia Kak, namaku Camelia divara Elvina. Aku ini manusia, namun entah bagaimana caranya aku bisa masuk ke tubuh Garbera. Di dunia nyata aku tidak secantik ini Kak. Aku sangat jelek dan gendut."
Kent diam sembari menundukkan kepalanya dalam. Kenapa ini menjadi sangat rumit. Apa yang salah sebenarnya. Haruskah dia mempercayai ucapan Camelia?
"Kak. Aku tahu kau tidak akan percaya padaku. Jika kau tidak percaya tidak apa-apa. Jangan memikirkan ini terlalu berlebihan. Aku tidak mau Kakak sakit."
Kent mendongak. Dia menatap Camelia dengan wajah sendunya. "Lalu, jika benar apa yang kau katakan ini, kau pasti sudah membaca novel itu bukan? Apa yang terjadi dengan endingnya? Apa kita akan tetap bersama?"
Camelia bergeming. Ludahnya mendadak kelu. Tangannya sudah berkeringat dingin. Apa yang harus dia katakan, kenapa Kent menanyakan hal seperti ini.
"Sebenarnya, sebenarnya aku ...."
"Apa? Katakan yang sebenarnya Bella! Aku ingin tahu."
"Sejujurnya aku belum membaca lembaran-lembaran akhirnya. Aku berhenti membaca tepat di bagian kau terpuruk karena bangkrut, dan Kak Viola juga Kak Taksa tertawa di atas kehancuran Kakak. Aku belum berani menuntaskan bacaan ku sampai akhir karena aku takut kecewa. Sebagai pembaca, jujur saja aku sangat menyukai karakter mu Kak. Aku sudah mencintaimu sebelum kita bertemu."
"Camelia?"
To Be Continued.