
Kent tidak mengambil kotak makan itu, dia menarik tangan Camelia dan membawanya ke suatu tempat.
"Kau mau membawaku ke mana Kak?" tanya Camelia.
Kent tidak menjawab. Dia masih menarik tangan Camelia sampai pada akhirnya mereka sampai di dekat kolam renang yang ada di rumah itu. Kent mendudukkan Camelia di kursi yang ada di sana.
Selanjutnya dia membuka kotak makan yang tadi di sodorkan Camelia. "Aku tidak suka makan di tempat yang terlalu ramai. Lebih baik kita menghindar dari kerumunan orang-orang itu. Aku malas menanggapi ocehan mereka."
Camelia mengangguk paham. Dia memperhatikan Kent yang sedang makan dengan lahap. Apa makanan yang dia buat memang se enak itu? padahal dia hanya masak makanan sederhana, tapi suaminya itu makan seolah dia makan makanan mewah yang di beli di restoran bintang lima.
"Makan perlahan!" ucap Camelia. Jemarinya terulur mengusap sisa makanan di sudut bibir Kent.
Kent di buat mematung ketika jemari kecil Camelia menyentuh bibirnya lembut. Dia semakin di buat cengo saat istri kecilnya itu menjilat ibu jarinya.
"Apa makanan yang ku buat seenak itu?" tanya Camelia.
Kent terperanjat. Dia meruntuki dirinya sendiri yang sudah berpikiran terlalu jauh. Sebelum bertemu dengan Camelia, dia tidak pernah membayangkan hal-hal aneh. Tapi kenapa setelah bertemu dengannya, pikiran-pikiran seperti itu terus muncul. Apa yang harus dia lakukan? semetara dia sendiri tahu kalau Camelia masih belum siap melakukan hubungan seperti itu dengannya. Haruskah dia pergi ke psikiater untuk berkonsultasi?...
"Kak!" panggil Camelia sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Kent.
"Ahhh, ada apa?" tanya Kent yang masih belum sadar kalau sejak tadi dia sudah melamun. Camelia sampai di buat bingung. Sebenarnya suaminya ini kenapa, dia selalu bertingkah aneh ketika mereka sedang bersama. Apa dia melakukan suatu kesalahan yang membuat Kent kepikiran. Tapi kalau iya, dia bisa membicarakan nya langsung ketimbang diam seperti itu bukan.
Makan siang hari itu sudah selesai. Pertemuan keluarga pun sudah usai. Kent dan Camelia masih bersikap acuh di depan ibunya Kent. Dan ibunya pun masih tidak tahu kalau sebenarnya anak dan memantu keduanya sudah saling mencintai. Dia masih berusaha mendekatkan Viola dengan Kent.
Padahal Kent sendiri sudah menunjukkan sikap tidak sukanya. Tapi Ibunya itu masih gigih dan tidak mau menyerah.
"Kita pulang dulu ya Bu, Ayah!" pamit Kent pada kedua orang tuanya.
Ini sudah malam. Dan sudah waktunya mereka untuk pulang.
"Eumm, hati-hati sayang, tolong jaga menantu Ibu, Viola sangat mencintaimu Nak. Jangan acuhkan dia ya!" ucap Ashana.
Kent tidak menanggapi ibunya. Dia malah melirik Camelia yang sedang berdiri tak jauh dari dia dan juga Ashana. Kent merasa sangat tidak enak hati. Ibunya pasti sengaja melakukan ini untuk membuat Camelia sedih dan menyerah pada pernikahan mereka.
"Jaga diri baik-baik ya Nak, sering-sering mampir ke sini, masakan kamu sangat enak, Ayah menyukai nya."
Camelia tersenyum mendengar ucapan ayah mertuanya. Meskipun Ashana tidak menyukainya, tapi paling tidak, Navarro menyukainya. Dia tidak bisa mengharapkan yang lebih, mendapat pengakuan dari salah satu mertuanya saja dia sudah sangat bersyukur.
"Terimakasih Ayah. Ayah selalu menghargai apa yang Camelia lakukan," ujar Camelia memeluk Ayah mertuanya sebentar.
Asahana dan Viola menatap tidak suka kedekatan Navarro dan Camelia. Mereka selalu berharap kalau Navarro akan ada di pihak mereka. Tapi apa yang mereka inginkan tidak terjadi, Navarro lebih menyukai Camelia. Dan itu tentu saja membuat mereka tidak suka dan semakin membenci Camelia.
****
Kent tersenyum tipis. Kali ini mereka hanya berdua di kursi belakang, bertiga dengan Indro yang sedang menyetir mobil. Viola tidak pergi bersama mereka karena tiba-tiba mendapat job untuk melakukan sebuah pemotretan.
"Jangan terlalu banyak berpikir. Dia tidak akan sebanding dengan kita, lagipula, bukankah kau adalah seorang cenayang? kau tahu bukan apa yang akan mereka lakukan sebelum mereka melakukannya?"
Camelia agak menjauhkan tubuhnya. Dia menatap Kent dengan tatapan heran. Bukankah saat itu laki-laki ini tidak mempercayainya. Kenapa sekarang dia malah bertingkah seolah dia sudah yakin dan menjadikan kata cenayang sebagai perisai untuk mereka.
"Bukankah duku kau tidak percaya kalau aku Cenayang Kak? kenapa sekarang berubah pikiran?" tanya Camelia.
Kent menarik pinggang Camelia membuat mereka kembali berpelukan. Camelia bersandar pada dada bidang suaminya. Dia mendongak menatap wajah Kent menantikan jawaban yang akan di berikan Kent padanya.
"Aku dulu memang tidak mempercayai mu. Tapi sekarang sudah berbeda, kau adalah istriku. Aku audah seharusnya mempercayai setiap ucapan mu."
Camelia terkekeh. Dia menepuk dada Kent cukup keras. Laki-laki itu meringis sambil memegangi dadanya.
"Apa sesakit itu?" tanya Camelia, dia menjauhkan dirinya kembali tapi Kent dengan sigap menarik pinggang Camelia membuat wanita cantik itu terduduk di atas pangkuan Kent.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Camelia. Dia menatap Horor Kent dengan mata bulatnya.
"Kau mengerjai ku hah?" tuduh Camelia, Kent hanya terkekeh. Dia menarik tengkuk Camelia membuat bibir mereka berdua bertemu dan saling beradu.
"Aku benar-benar kesakitan. Dan sekarang aku ingin meminta obat penawar untuk rasa sakit ku padamu."
Sura decapan dan lu matan terdengar seperti sebuah kilat yang menakutkan untuk Indro. Keringat dingin mengucur dengan deras dari pelipisnya. Kenapa sepasang suami istri ini tidak bisa melihat tempat ketika sedang bermesraan. Indro juga laki-laki, dia bisa saja menginginkan hal yang sama seperti apa yang sedang di lakukan kedua majikannya ini.
Belum lagi status mereka yang merupakan bos dari Indro. Dia takut melakukan kesalahan, seharusnya dia tidak mendengar apapun. Tapi ya mau bagaimana, kegiatan yang mereka lakukan terjadi di belakang Indro. Jadi kalau dia bisa mendengar semuanya, itu bukan salah dia dong.
"Astaga, aku lupa kalau di mobil ini ada sekat, matilah aku," gumam Indro dalam hati. Dia langsung memencet sebuah tombol yang membuat sekat itu muncul.
"Syukurlah.. Ku pikir aku akan mati karena terlalu gugup," ucap Indro yang sudah bisa bernafas lega.
"Eumhhh.... "Kakak!" gumam Camelia, dia melengguh nikmat antara kehabisan nafas dan menginginkan yang lebih.
"Panggil namaku Sayang!" titah Kent yang sudah semakin gencar mencecar tubuh Camelia, dia meraba setiap jengkal dari tubuh istrinya itu.
"Kent!"...
"Aku,.. Aku sudah tidak tahan."
...To Be Continued....