
"Hai semuanya," sapa Camelia. "Hari ini aku akan membuat sebuah permainan. Supaya kita gak bosan, kita bikin challenge yang seru."
Semua karyawan yang tadinya sedang sibuk dengan pekerjaan mereka mendadak berkumpul untuk memenuhi keinginan istri bos mereka.
"Yang mau ikutan angkat tangan!" titah Camelia.
Hampir semua orang mengangkat tangannya. Hanya beberapa orang yang tidak mau mengangkat tangan entah karena terlalu capek atau bagaimana.
" Baiklah sekarang kita akan buat sesuatu dahulu. Kak A, kau buat line di dinding menggunakan selotip berwarna, buat tiga atau empat line."
Beberapa orang menuruti apa yang di perintahkan Camelia. Mereka membuat line sesuai dengan peraturan yang di buat oleh istri bos mereka. Masing-masing line berjarak 20 cm. Dan di line pertama di isi dengan uang 50 ribu 5 lembar. Line ke 2 di isi dengan uang 100 ribu 4 lembar, di line ke 3 di isi dengan uang 100 ribu 10 lembar dan di line yang paling atas di isi dengan sebuah handphone mahal keluaran terbaru.
"Nah, selesai," ucap Camelia menepuk kedua tangannya.
"Apa yang harus kita lakukan Nyonya?" tanya para karyawan.
"Ini gampang, kalian hanya harus melompat di dekat tembok itu, semakin atas kaki kalian maka semakin banyak juga uang yang kalian dapat. Jadi melompat lah yang tinggi agar kalian bisa lebih banyak dapat uang."
Semua karyawan bersorak gembira. Ini bukan karena hadiahnya saja yang menggiurkan, tapi karena mereka telah di tekan dengan pekerjaan seperti ini selama hampir dua hari, mereka membutuhkan waktu untuk healing.
"Oke, kita akan mulai."
Semua orang berbaris untuk menunggu giliran. Suara riuh di ruangan itu membuat Kent yang baru saja selesai meeting menghentikan langkahnya dan berjalan menuju kerumunan para karyawannya.
Dia tersenyum ketika melihat semua orang tertawa bahagia, sebelumnya tidak pernah ada hal seperti ini terjadi di perusahaan. Sebenarnya siapa yang membuat permainan ini.
"Maaf Tuan," Ucap Devano. " kata para karyawan, Nyonya kecil yang membuat permainan ini, kalau kau tidak suka, aku akan membubarkan semua orang," ucap Devano.
Kent mengangkat tangannya seolah mengisyaratkan kalau Devano tidak harus melakukan itu. Devano mengangguk.
Kent semakin menarik ujung bibirnya ketika melihat Camelia ingin berpartisipasi dalam permainan itu. Dia semakin mendekat ke arah kerumunan.
"Baik, kita hitung sekarang," ucap salah seorang karyawan yang ketika Camelia hendak melompat.
"Satu, dua , tiga."
Hap ...
Semua orang melongo melihat sesuatu yang terjadi di hadapan mereka. Camelia yang saat itu tidak mengetahui kalau Kent juga ada di sana di buat terkejut lantaran Kent yang tiba-tiba menangkap tubuhnya.
"Hati-hati!" ucap Kent menurunkan Camelia dari gendongan nya perlahan.
"Kakak mau ikutan?" tanya Camelia dengan senyum bahagia di bibirnya.
Kent menggeleng. "Kalian lanjutkan saja! aku masih ada pekerjaan," ucapnya . Dia mengusap kepala Camelia sebentar lalu pergi dari kerumunan itu.
"Nah, siapa yang dapat uang paling banyak?" tanya Camelia kepada para karyawan yang ikut berpartisipasi dalam permainan.
"Seperti yang pernah kita perkirakan sebelumnya Tuan, ternyata orang yang menyerang kita sekarang adalah orang yang sama dengan orang yang pernah ingin mendiskualifikasi anda dari lomba yang sebelumnya."
Kent tersenyum sinis dia menopang kedua tangannya dan menautkan jemari-jemarinya.
"Sekarang semuanya sudah lebih jelas Devano, mulai hari ini tugas kau adalah mengumpulkan semua bukti dan membuat mereka semua yang berani mengusik kehidupanku berada di dalam kehancuran. "
"Tuntutan apa yang akan kita berikan kepada Wanbli dan juga orang-orangnya Tuan?" tanya Devano kepada Kent.
"Atur saja semuanya sesuai hukum. Namun jika bisa beratkan hukuman mereka! Selama ini aku sudah berbaik hati. Jika mereka menyentilku sebanyak ini maka kita harus memberikan yang lebih banyak lagi."
Devano mengangguk. Dia menyerahkan beberapa dokumen kepada Kent lalu keluar dari ruangan itu, dan saat Devano hendak keluar, ternyata Camelia sudah ada di depan pintu dan kini giliran wanita cantik itu yang masuk.
"Kak!" panggilnya dengan suara yang sangat nyaring. wanita itu tersenyum sambil berlari ke arah suaminya. Kent memutar kursi kebesarannya lalu Camelia pun duduk di atas pangkuan suaminya itu.
"Apakah semuanya berjalan dengan baik? kau sudah menemukan orang yang sudah mengganggumu?" tanya Camelia di depan wajah Kent.
"Kent mengangguk. "Tentu saja. Aku sudah bilang kalau aku tidak akan membiarkan orang-orang ini lolos. Mereka pikir dengan mereka bekerja sama dan melakukan kebodohan-kebodohan seperti ini mereka akan menang, jangan panggil aku Kent kalau aku tidak bisa membereskan masalah seperti ini.
"Kakak itu, kemarin saja Kakak marah-marah. Sekarang percaya dirinya tingkat tinggi, tapi nggak papa Kak, aku menyukainya. Kakak memang selalu menjadi yang terbaik," puji Camelia yang mana pujiannya itu membuat Kent tersenyum.
"Kak! Aku lapar, Kakak lapar tidak? Kita makan malam di luar yuk! Lagi pula masalahnya kan sudah jelas kita tinggal membereskan masalah ini secara terperinci. Iya Kan?"
"Baiklah, kalau kau yang mengajak, aku tidak bisa menolak. Kau mau makan di restoran yang mana Baby?" tanya Kent sambil memainkan rambut istrinya.
"Kita makan di tempat Kakak biasa makan saja, kalau misalkan aku makan di tempat lain nanti Kakak tidak makan. Aku maunya kita makan bersama."
Kent tersenyum lalu memangku tubuh Camelia dan mendudukkannya di atas meja. Karena ini adalah permintaan dari Camelia Gen tidak bisa menolak meskipun tadi dia memiliki beberapa dokumen yang harus ditandatangani, untuk sementara waktu dia menunda pekerjaan itu dan lebih memilih untuk mengajak istrinya makan malam di luar. Namun ketika mereka sampai di depan sebuah restoran yang memang restoran itu adalah restoran andalan Kent. Camelia mencondongkan badannya ke jendela mobil. Dia memperhatikan seseorang yang sedang duduk di dalam restoran tersebut dan sepertinya orang itu sedang membicarakan hal yang serius.
"Ada apa?" tanya Kent mengikuti arah pandang Camelia.
Camelia menarik tangan Ken meminta laki-laki itu untuk mendekat ke arah jendela kaca mobil. Kakak, Kakak lihat itu tidak? Sepertinya itu adalah kak Viola, namun siapa laki-laki yang ada di depannya? Dia bukan Kak Taksa kan? Apa yang sedang mereka bicarakan?"
"Memangnya kenapa? Mau Viola makan dengan siapapun aku tidak perduli, toh sekarang dia kan sudah bukan istriku lagi."
Camelia mendengus "Kakak itu ya, kebiasaan. Kakak terlalu menganggap semua hal itu mudah. Aku mencurigai sesuatu. Kak Viola itu bukan tipikal orang yang akan menyerah ketika dia kalah, dia pasti akan berusaha untuk membalas dendam dan merebut apa yang sebelumnya tidak dia dapatkan. Kakak mengerti maksudku tidak?
Kent mengangguk. "Kalau memang kau merasa curiga, sekarang katakan! Menurutmu siapa laki-laki yang ada di depan Viola! Bukankah kau adalah seorang cenayang Baby? Seharusnya kau sudah tahu bukan?"
Camelia menggeram dalam hati. Bisa-bisanya dia memiliki suami yang menyebalkan seperti ini. Kalau Camelia sudah tahu, dia tidak akan bertanya.
"Tapi tunggu!" ucap Kent kembali memperhatikan orang yang ada di depan Viola dengan seksama.
"Dia ... Dia adalah ..."
...To Be Continued....