
Hari ini acara konferensi pers akan segera dilakukan. Semua wartawan dari berbagai perusahaan berita datang. Puluhan jurnalis duduk di kursi yang telah Kent siapkan. Namun masih banyak di antara mereka yang berdiri menunggu Kent keluar.
Jepret! Jepret! Jepret!
Puluhan plash kamera menyala ketika orang yang sedang mereka tunggu muncul di depan semua orang. Kent melangkah dengan gagahnya. Dia sedikit membungkuk kemudian duduk setelah Devano membersihkan meja dan kursi yang akan Kent pakai.
Semua orang terlihat sangat kagum melihat betapa tampan, gagah juga berwibawa nya sosok Kent Malory yang namanya sudah melanglang buana di dunia bisnis internasional. Meskipun dia masih sangat muda, namun melihat apa yang telah dia capai selama ini, semua orang pasti akan di buat insecure dengan pencapaian laki-laki 28 tahun ini.
Kent mulai mengatakan apa yang ingin dia sampaikan, tentang kasus plagiarisme dan juga sabotase cetak biru ketika dia mengikuti lomba. Semua bukti dia tampilkan di layar kertas berukuran besar. Keluarga Taksa juga para pengikutnya sudah tidak bisa mengelak lagi. Mereka semua sudah hancur dengan kelakuan mereka sendiri. Seharusnya mereka memikirkan konsekuensi terberat yang akan mereka dapatkan jika melakukan berbagai macam kecurangan, namun namanya juga orang serakah, tidak mungkin mereka memikirkan hal itu bukan?
"Masalah ini sudah selesai. Mereka semua yang harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka telah menerima hukuman. Aku harap kedepannya tidak ada perusahaan lain yang bersikap bodoh dengan mencoba untuk menghancurkan perusahaan ku. Dan satu hal lagi, aku ingin mengenalkan seseorang yang sangat berharga dalam hidupku. Dia adalah wanita tercantik dan terhebat yang selalu mendukungku dalam kondisi apapun."
Semua jurnalis juga wartawan menjadi sangat heboh. Selama ini mereka memang tahu kalau Kent telah menikah, namun siapa istri yang dia nikahi mereka tidak tahu karena pihak Kent selalu menutupi latar belakang istrinya dengan sangat baik.
Kamera semua orang beralih kepada seorang wanita cantik yang baru saja memasuki ruangan. Wanita cantik itu tersenyum ke arah Kent dan laki-laki yang menerima senyuman dengan segera menjemput sang istri untuk naik ke atas panggung sembari mengulurkan tangannya supaya Camelia bisa menggenggam tangannya.
"Terima kasih karena sudah mau hadir di sini Baby," bisik Kent di samping telinga Camelia.
Camelia hanya tersenyum menanggapi perkataan suaminya. Dia membungkuk ke arah para wartawan dengan senyum manis di bibirnya. Puluhan plash kamera itu membuat Camelia pusing. Dia mengangkat tangannya agar bisa menghalau kilauan plash kamera yang menyakiti matanya.
"Oke, cukup! Sepertinya istriku tidak terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Jangan memotret lagi! Kalian semua menyakiti mata istriku."
Semua orang yang ada di ruangan itu menurut. Mereka menurunkan kamara yang sejak tadi ada di depan wajah mereka. Kini semua orang hanya fokus mendengarkan apa yang akan di sampaikan oleh Kent.
"Ini Adalah Garbera Mirabella Kirey. Dia merupakan anak dari seorang pengusaha terkenal bernama Davindra Emilio pemilik perusahaan xxx."
Terlihat wajah takjub dari para reporter dan para jurnalis. Orang kaya memang berjodoh dengan orang kaya lagi. Pantas saja istri Kent terlihat sangat cantik dan elegan, ternyata dia berasal dari keluarga kaya raya yang juga sangat terkenal di kota itu.
****
Kent memeluk pinggang Camelia posesif. Semakin hari pria ini semakin bucin. Dia semakin agresif dan tidak pernah membiarkan Camelia pergi sendirian, bahkan ketika Camelia ingin berlatih ilmu bela diri dengan Melodi, Kent akan dengan senang hati menemaninya tanpa mengeluh.
"Kak!" panggil Camelia dengan wajah sendunya.
"Heum."
"Kakak benar-benar mencintaiku?" tanya Camelia ragu.
Camelia dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Apa Kakak akan sedih kalau aku tiada?" tanya Camelia yang membuat Kent menjauhkan tubuhnya beberapa senti.
"Apa yang kau katakan? Kenapa kau mengatakan itu? Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku. Aku tidak akan pernah membiarkan mu pergi. Aku tidak akan mengijinkannya."
Camelia diam, dia tidak sanggup berbicara jujur pada Kent. Beberapa hari yang lalu, Camelia sempat merasa pusing dan tidak bisa merasakan seluruh tubuhnya. Bahkan ketika mengisi soal-soal ujian, dia mendadak lupa dan malah mengerjakan soal-soal itu sembarangan. Camelia ingin menghentikan tangannya, namun tangan itu seolah bergerak sendiri dan tidak mau berhenti. Dia sudah merasa tidak enak untuk ini. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi yang memang tidak bisa dia kendalikan.
"Kak!" panggil Camelia lagi.
"Apa Baby?"
"Apa benar Taksa di tempatkan di penjara yang sangat jauh? Di mana? Apakah dia aman? Bagaimana kalau dia kabur dan kembali menyerang Kakak?"
Kent tersenyum. "Kau tidak perlu khawatir. Taksa juga ayah dan orang-orang yang membantunya sudah di tempatkan di tempat yang paling aman. Mereka semua tidak akan bisa kabur Baby."
****
Di tempat lain, di sebuah pulau terpencil, sebuah bangunan yang cukup luas berdiri tegak di tepian tebing bebatuan yang terjal. Jika di amati lebih dekat, di dalam bangunan itu terdapat banyak orang yang berpakaian sangat lusuh, mereka semua adalah tahanan-tahanan yang menerima hukuman terberat dari jaksa. Merea semua seperti hewan peliharaan. Manusia-manusia itu terdiri dari berbagai jenis, seperti koruptor, pemerkosa, pembunuh berantai. Dan masih banyak lagi.
"Ayah, kenapa kita harus berakhir di tempat seperti ini? Daripada tinggal di sini, aku lebih baik mati. Tidak ada gunanya kita tinggal di tempat penangkaran hewan. Kita ini bukan reptil mematikan, kenapa kita harus di kurung sini?"
"Kau pikir Ayah mau tinggal di sini hah? Ayah juga sudah tidak tahan. Orang-orang di sini sangat bau dan jorok. Mereka tidak higienis."
Buahahahaha ...
Terdengar suara gelak tawa dari belakang Taksa dan Wanbli. Kedua orang itu menoleh. Seorang pria dengan tubuh tinggi besar dan beberapa pengikutnya berjalan mendekati Taksa dan ayahnya.
"Kalian itu sangat lucu. Kalian mengatakan kami bau , jorok dan tidak higienis? Hahaha. Aku rasa otak kalian ini sudah pindah ke dengkul, bagaimana mungkin kita bisa berpenampilan rapih bak orang kantoran. Dahulu kita juga sama seperti kalian. Jangan pernah menghina kami kalau kau tidak mau menerima akibatnya, jika satu kali lagi kami mendengar mulut busuk mu berbicara tidak jelas, aku pastikan, kalian tidak akan bisa berjalan kembali.
Dua orang dihadapan Taksa dan Wanbli memperagakan gerakan hewan yang sedang kawin. Taksa jelas saja membelalakkan matanya. Dia bukan tidak tahu kemungkinan apa yang akan terjadi kalau sampai dia kehilangan kendali atas mulutnya.
Buahahaha ...
Orang-orang itu pergi sembari menertawakan Taksa dan Wanbli yang ketakutan. Kini, Wanbli dan Taksa tidak bisa melakukan apa-apa selain menerima hukuman yang harus mereka jalani.
To Be Continued.