
Camelia menuntun Kent untuk duduk di pinggiran ranjang. Dia menatap Kent dengan wajah yang sebenarnya dia juga agak malu untuk mengatakan ini.
"Ada apa?" tanya Kent.
"Kak, aku gak tahu Kakak bakal percaya atau enggak sama apa yang bakal aku bilang ke Kakak. Tapi, Kak Viola itu menaruh dupa perangsang di kamar Kakak. Dia ingin menjebak Kakak. Tadi aku melihat Kak Viola mengenakan lingerie. Kakak tahu kan lingerie?" tanya Camelia menatap dalam mata Kent.
Kent menggeleng kepalanya. Apa yang di lakukan Kent itu refleks membuat Camelia menepuk jidatnya keheranan.
"Kak, kau itu sebenarnya laki-laki normal atau bukan. Masa udah 28 tahun masih gak tahu lingerie. Itu lho, baju tidur seksi yang suka di pakai wanita-wanita kalau sudah bersuami."
"Aku bukan tidak tahu, hanya saja, aku memang belum pernah melihat wanita mengenakannya."
"Oke lah, terserah Kakak. Aku pusing. Dan ya, Kakak tidur di sini saja malam ini, kamar Kakak biar di bersihkan sama Bibi Indri besok."
"Tapi aku mau mandi, aku juga butuh pakaian ganti," ucap Kent lagi, dia melirik Camelia yang masih menatapnya.
"Aku akan mengurus semua, Kakak mandilah di kamar mandi ku! aku mau membuatkan makan malam sekalian mau liat Pak Indro."
Camelia keluar dari dalam kamarnya, dia membuka kamar Kent perlahan, Camelia belum berani masuk. Dia turun ke lantai bawah untuk mengambil makan malam untuk Kent. Sebenarnya Camelia sengaja membuka pintu kamar Kent supaya udara-udara yang terperangkap di dalam kamar bisa keluar.
"Halo Pak, Bapak gak papa kan?" Tanya Camelia pada supir pribadi suaminya.
"Saya tidak apa-apa Nyonya. Hanya sedikit pusing saja."
"Oh baiklah, makasih ya Pak. Maaf karena saya Bapak harus melewati ini semua."
Setelah menelpon Pak Indro, Camelia menelpon sopir pribadinya dan menyuruh sopirnya itu untuk membawa masuk semua barang belanjaannya.
Lima belas menit kemudian, Camelia kembali ke lantai atas membawa sebuah nampan yang berisi roti selai kurma dan juga susu hangat untuk suaminya.
Dia meletakan makan malam untuk Kent di atas nakas, matanya melirik ke arah pintu kamar mandi. Pintu Kamar mandi itu masih tertutup, berarti suaminya masih ada di dalam. Dia kembali ke kamar utama untuk mengambil baju yang akan di pakai Kent. Belum sempat dia kembali ke kamarnya, sayup-sayup telinganya mendengar seseorang sedang marah-marah di kamar paling ujung.
"Itu pasti Kak Viola, gumamnya mendekati pintu kamar madunya itu.
"Kau bilang ini akan berhasil. Aku sudah mempertaruhkan harga diriku untuk ini Taksa, kau, kau membuat ku malu setengah mati."
"Apa? salah ku? kau bilang aku tidak becus? hey. Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tapi entah kenapa yang masuk ke dalam kamar itu bukan Kent melainkan sopir sialan itu."
Camelia terkekeh, syukurlah rencananya berhasil. Apa jadinya kalau Kent yang ada di kamar itu, dia pasti sudah habis di lahap domba betina ini.
"Rasakan Kak. Siapa suruh kau membuat rencana licik seperti ini."
Setelah puas mendengar Viola marah-marah. Camelia kembali ke kamarnya . Beberapa baju yang Kent butuhkan masih ada di tangannya.
Balmmmm...
Pintu kamar itu tertutup.
"Kak, kau sangat lucu mengenakan handuk itu." Ya, Kent keluar dengan hanya menggunakan sepotong handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya, sementara tubuh bagian atasnya dia biarkan terbuka begitu saja. Seperti sebuah toples transparan dengan tutup toples berwarna pink.
Kent menghampiri Camelia, dia di buat terheran-heran dengan kelakuan istri kecilnya itu, apa Camelia tidak merasa takut atau malu, dia bahkan tidak mengenakan dalaman, seharusnya Camelia merasa waspada karena Kent bisa saja menerjangnya bukan? tapi apa yang dia lakukan? dia malah tertawa terbahak-bahak.
"Maaf Kak, aku tidak bermaksud untuk menertawakan mu," ucap Camelia yang masih berusaha untuk menghentikan tawanya.
Kent tersenyum menyeringai, dia berjalan mendekati Camelia, gadis itu terkejut ketika melihat Kent sudah ada di hadapannya. Jarak yang Kent buat antara dia dan laki-laki itu terlalu dekat, Camelia mundur satu langkah, semakin Camelia mundur, Kent semakin berjalan maju mendekatinya.
"Kak. Maafkan aku, aku tidak bermaksud sepeti itu," ucap Camelia gugup. Dia tahu dia salah, tidak seharusnya dia membuat Kent tersinggung. Entah apa yang akan di lakukan laki-laki itu padanya.
"Kau takut sekarang?" gumam Kent dengan suara seksih nya. Camelia menelan ludah dengan susah payah.
Brukkkk..
Karena kaki Camelia terkatuk pinggiran ranjang, dia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya sampai dia terlentang di atas ranjang itu.
Kent semakin gencar mengerjai Camelia. Dia merangkak ke atas ranjang dan menindih tubuh Camelia. Dia menggunakan kedua tangannya untuk menahan tubuhnya supaya tidak terlalu menekan tubuh mungil itu.
"Kak!" panggil Camelia gugup. Apa yang harus dia lakukan. Apa Kent benar-benar akan memakannya malam ini? oh ayolah, dia belum siap untuk itu.
"Kau tadi menertawakan ku kan? sekarang giliran ku," ucap Kent.
Dia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Camelia, deru nafas Camelia dan suara degup jantungnya membuat Kent semakin bersemangat. Semakin lama wajahnya semakin dekat. Saking dekatnya, Kent sudah tidak bisa melihat apapun selain bibir ranum milik istri kecilnya.
Cup...
Entah mendapat dorongan dari mana, Kent yang tadinya hanya ingin membuat perhitungan dengan Camelia malah di buat khilap sampai dia tidak sadar kalau bibirnya sudah menempel pada bibir Camelia.
Perlahan Camelia memejamkan matanya. Sensasi yang dia rasakan saat ini membuatnya terhanyut dan menuntut, perasaan yang belum dia rasakan sebelumnya membuat nya semakin penasaran dan semakin menginginkan yang lebih dan lebih lagi.
"Euhhh."
Lengguhan yang keluar dari mulut Camelia membuat gai rah dalam diri Kent semakin membuncah. Kent sudah sangat kesakitan. Dia menginginkan sebuah pelepasan sekarang.
Perlahan tangan kanannya merayap melewati kaos yang di kenakan Camelia, tangan itu mulai merangkak naik ke atas, terus ke atas sampai dia bisa mendaratkan tangannya di sebuah gunung yang ukurannya sangat pas ketika dia genggam.
Sensasi panas dari kulit Camelia dan sensasi dingin dari telapak tangan Kent yang baru selesai mandi membuat keduanya semakin terbang ke awang-awang. Kent semakin menekan bagian bawahnya seolah ge se kan saja sudah sangat membuatnya terbuai.
Luma tan dan hi sap pan yang di lakukan Kent semakin turun ke bawah, tangannya bergerak lincah mencoba untuk melepaskan kancing hotpants yang di kenakan Camelia.
Alunan merdu suara istri kecilnya itu sangat Kent sukai. Dia bahkan tidak segan-segan untuk meloloskan celana pendek itu dari pinggul istrinya.
...To Be Continued....