
Camelia mengangguk mantap. Dia masih memperhatikan Viola yang sedang menukar cetak biru yang telah disiapkan oleh Kent di dalam tabung.
"Tapi itu cetak biru yang sudah aku siapkan, bagaimana bisa dia mengambilnya begitu saja."
Camelia tersenyum. "Aku sudah bilang kalau Kak Viola bekerja sama dengan Taksa. Dia sengaja mengambil cetak biru itu untuk diberikan kepada Taksa. Kakak tahu, Kak Viola itu tidak pernah mencintai Kakak."
Tatapan Camelia mendadak sendu. Dia menarik kepala Kent lalu menepuk punggung Kent perlahan. Camelia persis seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya.
"Kakak harus sabar ya! Jangan pikirkan Kak Viola yang mengkhianati Kakak. Kakak jangan sedih, Kak Viola tidak pantas mendapatkan itu dari Kakak. Kakak orang baik, Kakak tidak boleh sedih hanya karena maslah seperti ini. Aku sudah mempelajari setiap desain yang Kakak buat. Lima puluh persen desain baru sudah aku siapkan, Kakak tinggal melanjutkannya. Meskipun itu tidak sebaik desain Kakak yang sebelumnya, paling tidak Kakak masih bisa mengikuti lomba."
Kent sungguh ingin tertawa mendapat perlakuan hangat dari Camelia. Meskipun dia diperlakukan seperti anak kecil, namun dia sangat menyukainya. Maslah cetak biru dia bisa memikirkannya lain waktu. Sekarang adalah waktunya untuk bermanja pada gadis kecil yang bertingkah seperti orang dewasa.
"Aku akan memikirkan itu nanti, sekarang aku mau menjadi bocah kecil saja," ucap Kent semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Camelia. Camelia terkekeh. Dia kembali mengusap kepala dan punggung Kent dengan tangan mungilnya.
"Semoga semuanya baik-baik saja setelah ini Kak. Sebenarnya di novel yang aku baca, ini sudah hampir mendekati ending. Namun saat itu kau kehilangan banyak proyek karena kasus palgiarisme yang sengaja di persiapkan oleh Taksa dan Viola. Kau menjadi seorang yang pemarah bahkan bisnis Kakak berada di ujung tanduk. Sekarang alurnya sudah berubah, aku harap Kakak akan menjalani kehidupan yang baik dalam novel ini. Ya Tuhan, beri aku sedikit waktu untuk bersama dengan laki-laki ini."
Flashback end
Taksa keluar dari ruang tempat diadakannya lomba dengan wajah yang memerah. Dia berjalan dengan tergesa bahkan dia tidak menggubris Viola yang tersenyum ke arahnya.
"Kak Taksa!" Viola berteriak lalu mengikuti Taksa dan menarik lengan laki-laki itu.
"Ada apa Kak? Apa semuanya baik-baik saja? Kakak memenangkan lomba itu kan?" tanya Viola dengan mata yang berbinar.
"Cih." Taksa menepis tangan Viola. "Menang bagaimana? Aku di diskualifikasi," ucap Taksa di depan wajah Viola. "Kau itu bodoh," ujarnya mendorong kening Viola dengan jari telunjuknya.
Taksa lantas pergi meninggalkan Viola. Viola yang kala itu masih tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Taksa kembali mengikuti laki-laki itu dan kembali menarik lengannya.
"Apa maksudmu Kak? Jelaskan semuanya dengan baik!"
"Kent mengetahui semuanya. Dia menjebak kita. Dia sudah mempersiapkan ini sejak lama. Apa kau tidak tahu kalau dia memiliki cetak biru lain?" Laki-laki itu kembali berteriak di depan wajah Viola.
Viola menunduk dalam. Dia merasa ada yang aneh dengan semua ini. Setahu dia, Kent memang sudah menyiapkan cetak biru itu untuk mengikuti lomba, tidak mungkin dia membuat cetak biru yang baru dalam waktu yang singkat. Pasti ada sesuatu yang tidak dia ketahui.
Viola berusaha memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. "Ini gawat, kalau Kak Taksa tidak menang itu artinya aku tidak akan menikah dengannya. Aku tidak boleh membiarkan ini terjadi, reputasi Kak Taksa pasti akan memburuk setelah kejadian ini. Aku harus kembali pada Kent. Aku tidak bisa membiarkannya lepas dari genggaman ku."
Viola melirik ke arah dalam gedung itu. Senyuman dari Camelia membuat hatinya panas dan ingin segera menyingkirkan Camelia dari kehidupan nya dan juga dari kehidupan Kent.
"Semua yang aku miliki harus menjadi milikku seutuhnya Bella, aku tidak akan membiarkan mu memiliki apa yang aku miliki."
Viola pergi dari gedung perusahaan itu. Sementara Camelia, dia masih menunggu Kent keluar dan menunggu suaminya membawa kabar baik.
Beberapa orang sudah keluar, Camelia beberapa kali celingukan mencari suaminya, namun Kent masih belum muncul.
"Apa semunya berjalan lancar?" gumam Camelia meremas kedua tangannya lalu mengigit ujung kuku ibu jarinya karena takut.
"Kak Kent!" ucap Camelia melihat sosok laki-laki tampan keluar dari dalam ruangan.
Kent berjalan sambil merentangkan kedua tangannya. Camelia tersenyum lalu berlari dan menghambur ke pelukan sang suami.
Kent meraih pinggang Camelia lalu membawanya berputar-putar untuk beberapa saat. "Kakak aku pusing," teriak Camelia membuat Kent menghentikan ulahnya lalu menurunkan Camelia dan menatap istri cantiknya itu lekat.
"Kita berhasil Baby, kita berhasil," ucap Kent membuat Camelia kembali tersenyum dan melompat memeluk leher Kent.
Kent tersenyum, dia membungkukkan badannya supaya Camelia tidak kesulitan. Hari ini adalah hari yang baik untuk mereka. Dan Kent merasa sangat senang untuk itu.
"Selamat Kak. Aku senang karena Kakak berhasil memenangkan lomba ini," ujar Camelia. Kent mengangguk.
"Tuan!" seseorang dari arah belakang Kent memanggil laki-laki itu. Kent dan Camelia melepaskan pelukan mereka dan berbalik melihat ke arah seseorang yang memanggil nama Kent.
"Tuan Andreas," ucap Kent.
"Selamat untuk keberhasilan yang kau dapatkan. Aku ikut senang untuk itu."
Kent mengangguk. Camelia dengan segera menjabat tangan Andreas. Dia tidak mau Kent kembali gatal-gatal karena menerima uluran tangan orang lain.
"Akh, dia Nyonya kedua kan?" ucap Andreas membuat Kent sedikit geram. Meskipun Camelia memang istri kedua, namun, Kent tidak pernah menganggap nya seperti itu. Bagi Kent, istrinya hanya satu, yaitu Camelia. Dan tidak ada istilah istri pertama atau istri kedua.
"Maafkan saya Tuan, sepertinya suami saya sedang tidak enak badan. Saya permisi dulu," ucap Camelia membungkuk lalu menarik tangan Kent.
Merasakan hawa dinginnya saja Camelia sudah tahu kalau Kent sedang tidak baik-baik saja. Laki-laki itu pasti tersinggung dengan ucapan Tuan Andreas.
Andreas menatap punggung Camelia dan punggung Kent dengan senyuman yang sulit untuk diartikan.
"Ternyata Belle secantik itu, pantas saja Viola kalah, Bella memiliki aura yang tidak dimiliki wanita lain. Aku harus mendapatkannya. Aku yakin, dia akan menjadi mainan yang menyenangkan."
Andreas mengelus dagunya masih terus menatap tubuh Camelia dari atas sampai bawah. Tubuh mungil itu mampu membangkitkan hasratnya sebagi seorang laki-laki. Camelia masih sangat fresh, dan itu membuat Andreas semakin tidak sabar untuk bekerja sama dengan Viola agar dia bisa dengan mudah mendapatkan Camelia.
Sepertinya apa yang Kent dan Camelia harapkan masih sangat jauh dari genggaman. Harapan mereka untuk hidup dengan tenang tanpa gangguan masih harus tertunda. Nyatanya setelah Taksa kalah, masih ada orang lain yang ingin menganggu rumah tangga mereka.
...To Be Continued....