Extraordinary Love

Extraordinary Love
Mempermalukan Diri Sendiri



"Tuan Kent! Silahkan perlihatkan cetak biru yang ada miliki!"


Kent mulai membuka tabung yang dia bawa. Sebuah senyuman terukir di bibir tipisnya. Dia melirik Taksa menggunakan ekor matanya. Semua orang menunggu hasil karya Kent yang selalu luar biasa, siapa yang tidak tahu Kent, dia adalah seorang arsitek juga seorang CEO muda yang sangat terkenal karena kesuksesan juga kemahirannya dalam membuat desain arsitektur.


Taksa menyunggingkan senyuman sinis. Dia menunduk sambil menahan tawa. Dalam hati dia sudah mengutuk dan juga menyumpahi Kent yang pasti namanya akan langsung hancur setelah dia menunjukan cetak biru yang dia miliki.


Perlahan, cetak biru itu mulai Kent keluarkan, dia sengaja memperlambat gerakannya supaya orang-orang punya cukup waktu untuk menunggu juga membayangkan karyanya yang selalu membuat orang lain kagum. Kent memang sangat percaya diri. Bukan karena dia sudah memiliki perusahan besar, namun karena setiap karya yang dia buat memang selalu membuat costumer atau orang yang melihatnya kagum.


Setttt!


Semua mata tertuju pada kertas cetak biru yang Kent buka. Kent menyerahkan cetak biru itu pada penyelenggara acara sekaligus pemilik dari perusahaan yang mengadakan lomba untuk membuat desain arsitektur pusat perbelanjaan yang akan perusahaan itu bangun.


"Wah, kau selalu saja membuat semua orang kagum dengan karya yang kau miliki Kent."


Taksa langsung mengangkat wajahnya. Ini tidak mungkin, bukankah dia sudah menukar cetak biru yang Kent miliki, bahkan dia menukarnya dengan cetak biru milik perusahaan nya. Yang tentu saja kalau Kent menggunakan cetak biru milik Taksa, dia akan kena pelanggaran plagiarisme dan akan langsung di diskualifikasi dari lomba itu.


"Sekarang kau boleh memperlihatkan cetak biru yang kau miliki Tuan Taksa," ucap penyelengara.


Taksa merasa ragu untuk mengeluarkan cetak biru yang dia curi dari Kent. Tiba-tiba saja perasaannya tidak enak. Namun, Taksa sudah tidak bisa mundur. Mau tidak mau dia harus tetap menyerahkan cetak biru yang sudah dia bawa.


Beberapa panitia di ruangan itu menunggu hasil kerja Taksa. Bahkan ada beberapa juri yang sudah siap melihat dan meninjau karya Taksa yang diikutsertakan lomba. Kent melirik ke arah Taksa lalu tersenyum seolah dia sedang menunggu sesuatu.


"Wah! karyamu sangat bagus Tuan, ini sangat menakjubkan. Sepertinya kita akan sangat menyukai desain arsitektur yang kau buat ini," ucap salah satu juri yang juga duduk di meja itu. "Sepertinya kau harus melakukan persentasi lebih dulu Tuan Taksa."


Kent mengangguk. Dia juga mempersilahkan Kent untuk maju dan memperkenalkan karyanya terlebih dahulu. Kent tidak merasa gugup atau khawatir. Dia tahu, tidak akan ada usaha yang akan mengkhianati hasil, jadi apapun hasil akhirnya Kent akan menerima itu dan tentu saja akan memberikan selamat pada siapapun peserta yang akan memenangkan lomba ini. Ini adalah babak akhir dari setiap rangkaian lomba yang sudah dia lewati, dia hanya tinggal menunggu hasilnya saja. kalaupun Taksa memang harus menang, dia harus menang dengan cara yang adil dan bersih.


Taksa mulai gugup ketika berdiri di depan semua orang. Dia sempat melirik cetak biru yang di bawa oleh Kent, namun dia bisa melihat kalau cetak biru itu bukalah cetak biru yang pernah dia buat dan sengaja dia tukar dengan cetak biru milik Kent yang asli.


"Silahkan Tuan Takas!" Seseorang dari kursi juri mempersilahkan Taksa untuk melakukan persentasi.


Taksa mengangguk. Selain dari cetak biru yang sudah dia bawa, dia juga menaruh file dari gambar itu ke dalam sebuah flashdisk yang dimana itu akan ditampilkan dalam layar monitor besar yang ada di dekatnya.


Semua orang terlihat takjub dengan hasil persentasi yang dilakukan Taksa. Bahkan penyelengara acara saja terlihat bertepuk tangan paling meriah di antara orang-orang yang lain.


Prokkk! Prokkk! Prokkk.


Kent bertepuk tangan sambil berdiri dari kursinya. Dia berjalan menghampiri Takas, kemudian mengambil sebuah remote kecil untuk menggeser tampilan pada layar monitor.


"Maafkan aku Tuan Taksa, sepertinya kau melupakan sesuatu."


Kent memberikan instruksi pada Devano. Kemudian Devano memasang proyektor lain dan juga menghidupkan proyektor itu lalu munculah gambar yang lain di samping gambar yang dimiliki oleh Taksa.


"Maaf karena aku harus mengganggu waktu kalian sebentar. Namun di sini aku ingin menjelaskan sesuatu," ucap Kent berbicara kepada semua orang yang ada dihadapannya.


"Kalian perhatikan gambar kedua cetak biru ini, apakah gambarnya sama?" tanya Kent menggeser slide demi slide yang ada di layar monitor.


Semua orang mengangguk. Bahkan beberapa juri terlihat memalingkan wajahnya. Tadi mereka sempat berpikir kalau desain yang Taksa buat ini sangatlah luar biasa, dan untuk apa Wanbli membayar mereka untuk mendukung Taksa kalau hasih desain arsitektur putranya saja sudah sebagus ini. Tapi sekarang mereka mengerti kenapa Wanbli melakukan itu semua.


"Taksa telah mencuri cetak biru yang aku miliki."


Kent tersenyum kecut. "Siapa bilang aku tidak punya bukti, aku punya buktinya."


Kent membesar gambar yang ada di monitor. "Kalian perhatikan ini baik-baik! Aku selalu membuat watermark untuk semua karya yang aku buat, dan di dalam file ini, kalian bisa lihat, ada logo apa? Itu adalah logo perusahaan yang aku miliki."


Taksa diam mematung. Dia sudah tidak bisa mengelak lagi. Bahkan bisikan-bisikan yang dia dengar dari para peserta yang lain, panitia juga beberapa juri sungguh membuat telinganya terasa sangat panas.


"Wah, aku tadi tidak melihat logo perusahaan itu karena ukurannya sangat kecil. Aku tidak menyangka, seorang anak dari pengusaha besar bisa melakukan hal licik seperti ini."


Gunjingan semua orang membuat Taksa tidak tahan, sementara Kent, dia tersenyum penuh kemenangan. Dia sangat bersyukur, berkat Camelia, dia tidak di permalukan oleh Taksa, malah Taksa sendiri lah yang mempermalukan dirinya.


Flashback on.


Saat itu Camelia sedang menyuapkan bubur untuk Kent. Ini dia lakukan karena Kent sangat lemah akibat dari alergi sentuhan istri pertamanya yaitu Viola. Gadis cantik itu dengan sangat telaten menyuapi Kent sedikit demi sedikit.


"Kak!" panggil Camelia pada suaminya.


"Heum!" Kent menjawab masih dengan suara lemahnya.


"Apa Kak Viola lama di ruangan Kakak?" tanya Camelia pada sang suami.


Kent menggeleng. "Aku tidak tahu, aku langsung meninggalkan nya ketika aku sudah merasakan mual yang luar biasa."


Camelia mengangguk. "Bolehkan kita melihat rekaman cctv yang ada di ruangan Kakak?" tanya Camelia lagi.


Kent lantas mengangguk kembali. Dia melakukan panggilan pada Devano dan memerintahkan sekertaris nya itu untuk membawa laptopnya keruang istirahat yang kini sedang dia gunakan.


Tidak lama setelah itu, Devano muncul dengan sebuah laptop di tangannya.


"Terima kasih Dev. Kau boleh kembali."


Devano membungkuk lalu keluar dari ruangan itu. Dengan gerakan perlahan, Kent mulai membuka laptopnya dan mengetikan sesuatu di sana.


"Yang lain lewat saja Kak! Kita langsung lihat rekaman cctv yang ada Kak Viola nya."


Kent mengangguk. Dia melakukan apa yang Camelia minta. Meskipun dia merasa agak bingung, namun Kent tidak mau banyak bertanya karena dia masih sangat lemas.


"Nah itu dia Kak!" tunjuk Camelia ketika melihat Viola sedang berusaha untuk mencium Kent.


Kent memalingkan wajahnya saat melihat adegan itu. Dia tidak mau mual dan muntah kembali.


"Kakak sudah! Lihat apa yang terjadi selanjutnya."


Kent menurut. Dia memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukan Viola.


"Dia!" ucap Kent sambil menunjuk layar laptopnya.


...To Be Continued....