Extraordinary Love

Extraordinary Love
Kelicikan Viola dan Taksa



Taksa terkejut ketika melihat orang yang sedang jongkok di depan mobilnya adalah wanita yang sendari tadi dia cari.


"Apa yang kau lakukan di sini Viola?" Taksa membantu Viola untuk berdiri lalu menuntun wanita itu untuk masuk ke dalam mobil.


Viola tidak mengatakan apapun dia masih diam berusaha memikirkan alasan apa yang harus dia katakan kepada Taksa supaya laki-laki itu tidak curiga padanya.


"Kau dari mana saja? Kenapa semalam aku menunggumu kau tidak kunjung datang? Aku pergi ke hotel kau juga tidak ada di sana. Setelah pagi dan sampai sekarang sudah hampir siang pun aku baru menemukanmu." Taksa menatap Viola penuh selidik.


"Maafkan aku Kak, semalam tiba-tiba Mama menelponku dan saat aku keluar dari ruang KTV, sopir yang Mama kirim sudah menungguku di sana. Tadi aku ke sini ingin membelikanmu kopi dan bermaksud untuk pergi ke hotel menemui."


Viola menatap Taksa dengan wajah penuh cinta. Walau bagaimanapun dia memang masih sangat mencintai laki-laki ini meskipun mungkin Taksa bukan laki-laki pertama yang ada di dalam hatinya. Hanya Taksa lah yang mampu merebut hatinya sampai sekarang.


Viola memang sangat licik sama seperti ibunya, pandai bersilat lidah dan juga pandai membuat ekspresi wajah ketika sedang berbohong, ibaratnya kalau dia menjadi pelobi atau menjadi seorang penipu, mungkin dia akan mendapatkan gelar master.


Taksa Mengangguk meskipun sebenarnya dia merasa ragu. Namun mengingat betapa besarnya cinta Viola padanya sampai dia akan menuruti apapun yang Taksa minta, Taksa memilih untuk mempercayai apa yang Viola katakan, kalaupun Viola berbohong, Taksa tidak akan sekecewa itu, asalkan Viola masih ada di kapal yang sama dengannya, mau Viola pergi kemanapun Taksa tidak akan peduli.


"Dua hari lagi adalah penyerahan cetak biru desain arsitektur untuk lomba yang aku ikuti. kau tidak harus ikut. Di sana akan ada Kent, jika kau ingin menemuiku datanglah bersamanya."


Viola tersenyum. "Baiklah, lusa aku akan ikut bersama dengan Kent aku harap rencana kita berjalan dengan lancar dan kau akan menjadi pemenang dari lomba ini."


Sebuah senyuman sinis tersungging di bibir Taksa, hatinya mengatakan, "Aku pasti akan memenangkan lomba ini dengan cetak biru yang aku dapatkan dari Kent." Taksa sudah tahu kemampuan Kent. Jadi dia tidak merasa ragu sedikitpun.


Setelah bercengkrama cukup lama, Taksa dan Viola memutuskan untuk tidak kembali ke hotel. Taksa mengantar Viola ke tempat manajernya, dan Viola menerima itu dia tidak mungkin pulang ke rumah sekarang meskipun bisa saja dia turun agak jauh dari rumah Kent, namun menurutnya itu tidak aman dan lebih baik Viola izin tidak pulang kepada Kent karena sebuah pekerjaan.


"Baju yang kau kenakan sangat cantik Viola, sangat cocok denganmu kau menjadi lebih fresh dan aku sangat menyukainya," puji Taksa memperhatikan Viola dari atas sampai bawah.


Viola tersenyum, dia juga melihat penampilannya kembali baju yang diberikan oleh Andreas untuknya, laki-laki itu memang sangat kaya dan karena itu juga mungkin dia memiliki pegawai yang sangat bagus sampai bisa memilihkan Viola baju yang pas dan sangat cantik.


"Aku senang karena kau menyukainya," ucap Viola pada Taksa. Dia melepas sit belt yang dia kenakan lalu mencondongkan tubuhnya dan mengecup pipi Taksa sekilas. Setelah puas menatap Taksa untuk beberapa saat, wanita cantik itu membuka pintu mobil, dia berjalan mengitari mobil lalu berdiri tepat di samping kemudi di luar mobil yang Taksa kendarai.


"Beristirahatlah! Dan ini tas serta ponselmu," ujar Taksa menyerahkan tas milik Viola yang tadi dia bawa melalui kaca jendela mobil yang terbuka. Viola mengambil tas itu lalu tersenyum.


"Terima kasih kak."


Viola menatap kepergian mobil Taksa. Perlahan senyumannya memudar namun detik berikutnya ia kembali tersenyum lebar, pikirannya kembali pada saat-saat di mana dia sedang bernegosiasi dengan Andreas, dia memang tidak mencintai Kent, namun dia juga tidak bisa membiarkan orang lain memiliki laki-laki itu apalagi jika itu adalah Camelia adik sepupunya yang bodoh dan juga penyakitan. Akan sangat absurd kalau sampai gadis bodoh dan penyakitan seperti Camelia menikah dengan laki-laki hebat, kaya, cerdas, juga berpengaruh seperti Kent.


"Kau baru pulang Viola?"


Suara seorang wanita di balik punggung Viola membuat wanita itu menoleh.


"Aku baru sampai tadi Taksa mengantarku," ucap Viola pada Ema managernya.


Ema mengangguk. "kalau begitu masuklah! Untuk apa berdiri di luar? Sekarang udara sedang dingin, kau bisa sakit dan aku tidak mau kau merusak semua jadwal yang telah aku buat untukmu."


Viola mengerucutkan bibirnya, manajernya ini memang sangat menyebalkan dia selalu memikirkan uang, uang, dan uang. Satu job saja Viola batalkan, itu akan membuat otak dan kepala Ema kebakaran.


Sementara di tempat lain, Camelia sedang asyik menyiapkan makan siang untuk Kent kemarin Kent sempat drop karena alergi sentuhan Viola, meskipun dia pulih dengan cepat namun Camelia tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk Kent dia ingin memasak makanan yang sehat supaya energi Kent pulih kembali.


"Kau sedang memasak apa?" tanya Kent melingkarkan kedua tangannya di perut ramping Camelia lalu membenamkan wajahnya di pundak istri kecilnya itu.


Indri serta pelayan yang lain yang sedang membantu Camelia di dapur langsung melipir menjauh. Indri dan para pelayan tersenyum melihat kemesraan yang dilakukan Camelia dan Kent. Dalam hati mereka merasa bersyukur karena sekarang Kent sudah memiliki pawang. Camelia mampu menaklukkan Kent. Laki-laki itu akan menuruti apapun yang dia katakan. Kent yang pada awalnya tidak suka mengenakan alat makan yang sama dengan orang lain saja, sekarang dia sudah bisa memakai peralatan yang sama dengan Camelia.


"Aku sedang membuat makan siang untuk mu Kak. Kenapa malah ke sini? Di sini banyak asap nanti baju Kakak bau."


"Aku tidak mempermasalahkan bau itu Bella, aku bisa mandi kembali lalu berganti pakaian. Biarkan aku tetap seperti ini sebentar."


Camelia tersenyum dia mengangguk lalu terus melanjutkan kegiatannya. Kedua sejoli itu terhanyut dalam suasana hangat dan romantis yang mereka ciptakan tanpa sadar. Bahkan ketika Camelia mondar-mandir ke sana kemari mengambil piring gelas dan sebagainya, Kent masih tetap menempel di belakang Camelia. Laki-laki itu seperti bayi yang takut ditinggalkan ibunya.


Camelia segera melepaskan tangan Kent setelah ia menata makanan di atas meja. Camelia menarik tangan Kent membuat Kent maju beberapa langkah dan sekarang dia berdiri tepat di depan Camelia. Camelia berjinjit, lalu mengecup bibir Kent sekilas.


"Makan siang dulu ya Kak! Nanti kita lanjutkan lagi tempel menempelnya."


Kent terkekeh mendengar ucapan Camelia, dia duduk lalu menunggu Camelia mengisi piringnya dengan berbagai lauk dan juga sayuran yang telah di masakan Camelia untuknya.


Kent menyantap makan siangnya dengan sangat lahap. Dia melirik Camelia lalu kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Kak, bukankah lusa adalah waktu untuk menyerahkan cetak biru desain arsitektur yang Kakak buat?"


...To Be Continued....