
Deru nafas Camelia semakin tidak bisa terkendali. Kejadian beberapa menit yang lalu sukses membuatnya hampir pingsan karena terlalu terkejut.
"Maaf kan aku Bella, aku tidak bermaksud seperti itu," Ucap Kent. Dia kini sedang menunduk tanpa mau menatap Camelia , dia duduk di sofa yang ada di kamar itu. Kenapa tadi dia hampir kelepasan. Bagaimana kalau Camelia tidak menghentikannya? apa dia akan sungguh-sungguh menyantap istri kecilnya itu?
"Aku tahu aku istrimu Kak. Dan ya, aku tahu melayani mu adalah sebuah kewajiban untuk ku. Tapi aku benar-benar belum siap. Dan ada hal lain yang harus Kakak ketahui. Aku tidak mau Kakak mendengar ini dari orang lain."
Kent mengalihkan pandangannya. Dia yang sejak tadi menunduk kini menolehkan kepalanya menatap Camelia.
"Apa maksud mu Bella?" tanya Kent yang sudah penasaran. Dia sudah menunggu beberapa menit tapi Camelia belum melanjutkan ucapannya.
"Sebenarnya kita tidak pernah tidur bersama Kak," ucap Camelia sambil menunduk dalam. Dia takut Kent akan marah padanya.
"Aku tahu," jawab Kent singkat.
Camelia di buat kaget olehnya. "Maksud Kakak, Kakak tahu kalau aku hanya menjebak Kakak?" tanya Camelia berusaha untuk meyakinkan.
"Eumm."
"Lalu, kenapa Kakak mau menerima permintaan ku dan permintaan keluargaku supaya Kakak mau menikah dengan ku?"
Kent tersenyum tipis. "Dengarkan aku Bella! aku bukan laki-laki bodoh yang akan langsung mempercayai sesuatu tanpa melihat faktanya terlebih dahulu. Aku mau menerima pemaksaan pernikahan ini hanya karena aku ingin tahu rencana apa yang kau sedang persiapkan untuk ku."
Camelia langsung berdiri lalu duduk di samping Kent.
"Kakak! aku tidak melakukan itu untuk diriku sendiri. Aku berani bersumpah kalau aku melakukan semuanya untuk membantu mu. Aku tahu mungkin Kakak akan menganggap aku gila, tapi aku yakin dan aku tahu kalau Kak Viola itu bukan orang baik. Dia menikahi Kakak hanya karena ingin menghancurkan Kakak saja. Oleh karena itu aku terpaksa menjebak Kakak di hari pernikahan Kak Kent dengan Kak Viola."
Kent diam. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Dia harus diam saja atau mulai bersikap tegas terhadap Camelia?
"Kenapa aku harus mempercayai mu Bella?" tanya Kent berusaha untuk menyudutkan istri kecilnya.
"Aku , aku...."
Camelia mendadak gugup. Dia bingung , apa yang harus dia katakan supaya Kent mau mempercayainya. Kent sudah tahu kalau Bella tidak se polos dan tidak se bodoh yang orang-orang katakan. Dia pasti akan langsung mencurigai apapun yang di lakukan Bella mulai dari hari ini.
Kent tersenyum kecut. Dia langsung berdiri dan hendak pergi dari kamar Camelia.
Grepppp...
Belum sempat Kent membuka pintu, Camelia menghentikan nya dengan memeluknya dari belakang. Dia terpaku, matanya melirik tangan mungil Camelia yang melingkar indah di atas perutnya.
"Aku mencintaimu Kak."
Kent yang berniat melepas pelukan Camelia kembali diam. Dia mematung untuk sesaat. Apa dia harus mempercayai ucapan Camelia setelah apa yang dia lakukan padanya beberapa bulan yang lalu? bahkan selama ini Kent tahu kalau Camelia itu banyak akal.
"Aku akan tidur di ruang baca. Kau cepatlah tidur," ucap Kent dingin. Dia melepas paksa tangan Camelia lalu keluar dari kamar itu meninggalkan Camelia yang masih diam sambil menatap punggung Kent yang mulai menjauh.
"Kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal Kak. Aku jadi merasa bersalah karena ketahuan telah menjebak mu."
Kalimat yang keluar dari mulut Camelia sama tidak tahu menjurus kemana. Dia benar-benar merasa menyesal atau hanya pencitraan tidak ada yang tahu akan hal itu. Mulutnya mengatakan sebuah penyesalan tapi dia malah melangkah mendekati ranjang dengan langkah yang riang. Bahkan dia sedang tersenyum di bawah selimut yang menutupi semua bagian tubuhnya.
"Akhhhhhh," Camelia memekik sambil menendang-nendang selimut dengan kaki jenjangnya.
"Apa aku barusan mengungkapkan perasaan ku? apa aku benar-benar sudah menembak seorang laki-laki?" gumamnya. Dia menangkup kedua pipinya yang sudah memanas bak sebuah hotpot di atas kompor.
"Astaga, aku bisa gila kalau terus-terusan seperti ini."
****
Keesokkan harinya, Camelia memutuskan untuk menjenguk kedua mertuanya. Hari ini adalah hari libur, keluarga Kent biasanya akan berkumpul untuk saling melepas rindu. Tidak setiap minggu acara ini di lakukan. Karena semua orang punya kesibukan masing-masing, jadi mereka hanya akan mengadakan acara kumpul keluarga kalau semua jadwal orang-orang di keluarganya sedang kosong.
"Kak!" panggil Camelia.
Apa karena kejadian semalam Kent berubah menjadi dingin lagi? padahal Camelia sudah berharap kalau Kent akan berubah menjadi semakin hangat. Tapi apalah daya, dia hanya bisa pasrah menerima nasibnya yang kurang beruntung ini.
"Ngapain sih lo deket-deket gue?" cibir Viola menyenggol bahu Camelia yang sedang duduk di sampingnya.
Mereka memang sedang ada di dalam mobil Kent. Laki-laki itu duduk di depan bersama Pak Indro, sementara Camelia dan Viola duduk di kursi belakang.
"Apaan ikh.. Kakak tuh yang nyenggol-nyenggol gak jelas."
"Kok jadi nyalahin gue sih, jelas-jelas lo yang mepet-mepet. Emang ya, wanita perebut suami orang itu gatel kayak ulat bulu."
Camelia mendelik. Dia memang merebut Kent dari Viola, tapi dia tidak gatal. Bukannya yang gatal itu Kak Viola?
"Bisa diam tidak!" Bentak Kent.
Camelia yang hendak membalas ucapan Viola mendadak takut dan kembali duduk dengan tenang. Apa Kent benar-benar sudah berubah? dia bahkan tidak segan-segan untuk membentak nya.
Sementara Viola, dia tersenyum puas mendapati Kent yang sudah sangat berani membentak Camelia fi depan dia dan juga orang lain.
Blammmm...
Kent menutup pintu mobilnya kasar. Dia tidak menunggu Camelia dan Viola turun. Yang dia lakukan hanya berjalan ke arah pintu rumah kedua orang tuanya dengan cepat.
"Ini semua gara-gara kau!" marah Camelia pada Viola.
Wanita domba itu mengangkat bahunya acuh. Terserah Camelia mau bilang apa, yang penting dia puas dengan apa yang telah terjadi.
"Pak Indro. Jangan sampai deh Bapak punya istri model Kak Viola, dia itu udah jahat gak pernah mau kalah lagi," ucap Camelia pada sopirnya.
Pak Indro terkekeh. Nyonya kecilnya ini sangat lucu. Bagaimana mungkin Pak Indro akan menikah dengan wanita modelan nyonya pertama nya. Dia kan sudah memiliki istri dan anak.
"Saya sudan menikah Nyonya," ucap Indro merasa kurang enak, tapi kalau tidak di jawab lebih gak enak lagi kan?...
"Ya sudahlah.. Gimana Bapak aja! pastiin aja kalau Bapak gak ketemu sama orang kayak gitu."
Pak Indro mengangguk. Pikirannya kembali melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu. Saat itu dia di suruh Camelia dan Kent untuk masuk ke kamar utama. Dia hanya menurut karena dia tidak tahu apa yang ada di dalam kamar itu.
Dan betapa kagetnya Indro saat dia masuk ke dalam kamar Kent. Kamar itu gelap gulita. Dan ada aroma wangi parfum yang terbakar. Saat Indro ingin mencari saklar lampu, tiba-tiba saja seseorang memeluknya dari belakang. Dia terkejut bukan main.
Pak Indro terus komat kamit di dalam hati karena takut kalau tangan yang melingkar di perutnya bukan tangan manusia.
"Aku merindukanmu Kent."
Deg...
"Nyonya pertama," guamam Indro dalam hati.
"Nyonya, saya Indro bukan Tuan Kent," ucap Indro.
Klik...
Lampu di dalam kamar itu mendadak sangat terang. Viola mengerejapkan matanya berkali-kali.
"Akhhhhhh,."
Sura jeritan Viola menggema di kamar Kent. Dia berlari keluar dari kamar itu dengan langkah yang tergesa.
...To Be Continued....