Extraordinary Love

Extraordinary Love
Sudah Dimulai



Sejak kemarin. Kent masih cemberut kepada Camelia. Dia marah lantaran Camelia mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya. Kenapa Camelia begitu mudah mengucapkan kata-kata cerai padahal Kent sangat tidak suka dengan itu.


"Kakak!" panggil Camelia sambil menggoyangkan lengan Kent. Mereka saat ini masih ada di dalam kamar, Kent sedang bersiap untuk pergi ke acara penyerahan cetak biru yang memang akan diadakan hari ini.


Kent masih diam, dia sedang menggunakan dasi sambil bercermin di sebuah cermin yang ada di meja rias.


Camelia jengah. Dia naik ke atas kursi rias, lalu menarik dasi Kent dan membantu laki-laki itu untuk memakai dasinya.


"Kakak jangan marah, aku tidak tahu kalau Kakak tidak menyukai kalimat itu. Aku sadar aku salah, tapi Kak, aku hanya bercanda. Mana mungkin aku mau bercerai dengan mu sementara aku masih sangat mencintaimu. Meskipun kau memaksa untuk menceraikan ku, aku tidak akan mau."


Kent mendongak , dia menatap Camelia yang kini masih fokus memasangkan dasi untuknya. Wajah polos Camelia, serta ketulusan yang Camelia miliki membuat Kent tidak bisa marah terlalu lama.


"Aku tahu kau hanya bercanda. Tapi, bercanda juga ada batasnya Bella, tidak baik menjadikan kalimat sakral seperti itu menjadi sebuah candaan. Meskipun kau tidak berniat untuk melakukan itu, alangkah lebih baik kalau kau tidak mengucapkannya."


Camelia mengangguk. Dia menepuk kemeja di bagian tulang selangka Kent supaya bagian itu bisa terlihat lebih rapih.


"Aku janji, aku tidak akan mengucapkan kalimat seperti itu lagi."


Kent mengangguk. Dia mendaratkan kedua tangannya di pinggang Camelia lalu mengangkat nya dan menurunkannya di bawah.


"Aku mencintaimu Bella, jangan pernah berpikir untuk pergi dariku karena aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi."


Camelia mengalungkan tangannya di leher Kent. Dia berjinjit kemudian menempelkan bibirnya di bibir Kent untuk beberapa saat.


"Aku juga sangat mencintaimu Kak. Aku janji, aku tidak akan pernah meninggalkan mu."


Kent menarik pinggang Camelia lalu kembali mendaratkan kecupan di bibir tipis milik istrinya itu. Kent berjanji pada dirinya sendiri, kalau dia tidak akan pernah membiarkan Camelia pergi darinya.


Tok! Tok! Tok!


Camelia maupun Kent menoleh ke arah pintu. Mereka berdua saling melirik lalu melepaskan pelukan.


"Itu pasti Kak Viola Kak."


Kent mengangguk. Dia menyambar jas yang ada di atas tempat tidur lalu menarik tangan Camelia dan menuntunnya untuk mendekat ke arah pintu.


"Kalian!"


Viola menunjuk Kent dan Camelia dengan jari telunjuknya. Dia menatap Camelia dengan tatapan yang sungguh sangat mengerikan. Wanita licik itu sudah siap dengan segala atributnya. Dres cantik, make up yang lumayan tebal, juga wangi semerbak yang mungkin bisa tercium oleh orang satu RT.


"Kalian selalu bersama sejak kemarin?" tanya Viola. Kini dia menyilangkan kedua tangannya berlagak seperti seorang bos yang sedang mengintrogasi bawahannya.


"Ini bukan urusan mu Kak!" ucap Camelia menabrak tubuh Viola lalu menarik Kent untuk segera menjauh.


"Yak!!"


Viola berteriak sambil menghentakkan heels yang dia kenakan di atas lantai.


"Dasar perempuan aneh, siapa yang menyuruhmu untuk bersikap tidak sopan padaku hah?"


Viola masih terus berteriak. Namu, saat mengingat sesuatu, dengan cepat dia berjalan mengikuti Camelia dan Kent. Tadi dia hanya ingin mengingatkan Kent kalau dia harus segera berangkat ke acara sebelum Kent terlambat. Namun, karena dia melihat Camelia ada di kamar Kent juga, dia menjadi hilang konsentrasi dan malah melupakan niat utamanya.


Brak! Brak! Brak!


Viola memukul kaca mobil Kent beberapa kali.


"Ada apa?" tanya Kent setelah dia membuka kaca jendela mobilnya.


"Aku mau ikut Kak!" ucap Viola sambil tersenyum.


Viola tersenyum semakin lebar. Dia berusaha untuk membuka pintu mobil, namun pintu itu masih di kunci.


"Kau duduk di depan Kak," ujar Camelia yang menyumbulkan kepalanya dari samping Kent.


Viola mendengus. Mau tidak mau dia duduk di samping Pak Indro. "Oke Viola, sabar, tahan! Sebentar lagi semuanya akan berakhir."


"Jalan Pak!"


"Baik Tuan."


"Kak! Apa kau sudah menyiapkan cetak birunya?" tanya Camelia.


Kent tersenyum. Dia menelusup kan tangan sebelah kanannya ke belakang pinggang Camelia lalu menarik pinggang ramping itu supaya Camelia bisa duduk lebih dekat dengannya.


"Aku sudah mempersiapkan semuanya sejak lama Bela, kau tidak usah khawatir. Aku sudah bilang kalau aku pasti akan memenangkan lomba ini."


Viola melirik Kent dengan ekor matanya. Sudut bibirnya tertarik ke atas tat kala dia mendengar kata-kata Kent yang sangat percaya diri itu. "Bermimpi lah selagi bisa Kent Sayang."


Hampir empat puluh menit mereka ada di dalam mobil. Kini Kent dan Camelia serta Viola sudah ada di depan sebuah gedung yang ukurannya sangat besar. Meskipun Kent adalah orang nomor satu di kota itu, namun, gedung yang ada di depannya ini merupakan gedung milik orang luar yang memiliki cabang perusahaan di kota C. Bisa kalian bayangkan seberapa besar gedung intinya? Ini hanya anak cabang perusahaan, namun sudah sebesar ini, apalagi gedung perusahaan pusat.


"Ayo masuk Baby!" bisik Kent di telinga Camelia. Camelia mengangguk. Dia melirik ke arah Viola yang sejak tadi terus melirik sebuah tabung berisi cetak biru yang di bawa oleh Devano. Devano memang sudah lebih dulu menunggu Kent di depan gedung penyelenggara lomba. Jadi tidak heran kalau tadi Kent tidak membawa apapun saat keluar dari mobil.


Mereka semua berjalan memasuki gedung. Langkah Kent terhenti ketika dia melihat sosok Taksa ada di lobi gedung perusahaan itu. Dia hendak melanjutkan langkahnya namun Taksa menghadangnya.


"Ada apa?" tanya Kent tanpa basa basi.


Bukannya menjawab, Taksa malah melirik Camelia lalu tersenyum pada gadis yang sudah menjadi istri Kent itu.


"Sebaiknya jaga matamu Taksa!" geram Kent yang tidak terima Taksa memperhatikan istrinya dengan tatapan mendamba.


"Wih, santai saja Bro. Aku juga tidak tertarik pada wanita yang sudah bersuami."


"Minggir! Kau menghalangi jalan ku."


Kent menarik tangan Camelia lalu pergi meninggalkan Taksa yang masih diam di tempatnya sambil tersenyum evil.


"Aku yakin semuanya akan berjalan lancar Kak. Devano membawa cetak biru yang telah kita tukar."


Viola berbisik di samping Taksa. Dia bersikap seolah dirinya tidak mengenal Taksa, wajah yang dia tunjukkan pun adalah wajah yang sangat dingin.


Taksa mengangguk. Dia serta sekertaris nya berjalan mengikuti Kent dan beberapa peserta yang lain. Pada Saat Kent memasuki ruangan, Camelia menunggu suaminya itu di luar , dia menunggu sang suami dengan beberapa orang yang mungkin juga sedang menunggu pasangan mereka di sana.


"Halo!" Camelia menyapa beberapa orang sambil membungkuk kemudian dia duduk dan mulai berdoa agar semua yang dia dan Kent harapkan bisa terwujud.


"Cih ... Dasar sok ramah," ucap Viola yang tidak suka melihat Camelia menyapa orang-orang yang ada di sana.


Sementara di dalam ruangan. Sang penyelenggara lomba sudah membuka pertemuan. Beliau sudah memberikan beberapa alasan kenapa dia mengadakan lomba ini.


"Baiklah, kita akan mulai memeriksa setiap cetak biru yang mengikuti lomba. Dan jika ada unsur plagiarisme, karya serta peserta yang ikut lomba akan langsung di diskualifikasi."


"Aku harap kau akan hancur setelah ini Kent," ucap Taksa yang duduk bersebrangan dengan Kent.


"Tuan Kent! Silahkan perlihatkan cetak biru yang ada miliki!"


...To Be Continued....