
"Dia adalah Andreas Baby!"
Camelia menautkan kedua alisnya. "Andreas? Pesaing Kakak di dunia bisnis?" tanya Camelia dengan wajah herannya.
Kent mengangguk. "Iya, dia adalah Andreas yang beberapa hari yang lalu bertemu dengan kita."
"Tapi Kak, kenapa dia bersama Kak Viola? Ada hubungan apa di antara mereka?" tanya Camelia ...
Ketika Kent hendak menjelaskan sesuatu pada Camelia, Camellia kembali merasa pusing. Dia memegang kepalanya dengan kuat.
"Akh!" Camelia memekik membuat Kent khawatir setengah mati.
"Ada apa Baby? Kau kenapa? Apa penyakitmu kambuh? Tapi bukankah tadi kau baik-baik saja?" Kenta menarik bahu Camelia supaya wanita itu bisa menghadap ke arahnya dan dia bisa melihat wajah Camelia.
Wanita itu tidak menjawab. Dia semakin kencang menekan kepalanya. Bahkan kini Camelia sedang menjambak rambutnya karena tidak tahan dengan rasa sakit yang dia rasakan. Sekelebat bayangan muncul. Bayangan itu berputar seperti sebuah video yang sengaja di percepat. Perlahan rasa sakit itu hilang seiiring dengan terbukanya mata Camelia perlahan.
"Baby? Apa kau baik-baik saja?"
Camelia dengan cepat mengangguk. Dia kembali menoleh ke kaca mobilnya. Kedua matanya melihat Viola keluar dari dalam restoran bersama dengan Andreas. Namun, sebelum itu Andreas memberikan sebuah card kepada Viola.
Senyum di wajah Camelia hilang. Kini di gantikan dengan wajah serius dan tidak ada ekspresi kelembutan yang biasa dia tunjukkan.
"Kak!" panggil Camelia pada suaminya.
"Iya Baby, ada apa? Apa kepalamu masih sakit?" tanya Kent. Lagi-lagi Camelia menggeleng. Dia menggeser posisi duduknya lalu memeluk Kent dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami.
"Ada apa?" tanya Kent sembari mengelus punggung Camelia lembut.
"Tiba-tiba aku tidak nafsu makan Kak. Aku mau pulang."
Kent menunduk untuk melihat wajah Camelia. Kenapa istrinya ini tiba-tiba tidak berselera makan, padahal tadi dia sudah sangat antusias.
Camelia sebenarnya memang lapar. Namun nafsu makannya hilang ketika sekelebat bayangan di mana hal-hal mengerikan terjadi padanya. Bayangan itu membuat Camelia kehilangan semangat. Dia sangat taku, dia takut kalau kejadian itu akan benar-benar terjadi.
"Kak!"
"Heum!"
"Aku boleh meminta sesuatu tidak?" tanya Camelia.
"Tentu saja, apapun yang kau inginkan, aku pasti akan memberikannya."
"Aku ingin Kakak siapkan orang untuk mengikuti Kak Viola dan Tuan Andreas. Aku memiliki firasat tidak enak tentang mereka Kak."
Sekarang Kent tahu kenapa Camelia mendadak tidak mau makan. Ternyata Camelia sedang mengkhawatirkan sesuatu. "Aku akan menyiapkan banyak orang untuk mengikuti Viola, tapi sekarang kita makan dulu ya! Kamu belum makan Baby, nanti kalau sakit bagaimana?"
Camelia menurut meskipun sebenarnya dia sangat enggan untuk keluar dari mobil. Apalagi kalau Kent sudah memeluknya seperti ini. Dunia serasa milik berdua untuk Camelia.
****
Keesokan malamnya, Kent juga Camelia keluar dari ruang kerja Kent. Semua orang menyambut bos mereka dengan sangat antusias. Hari ini, perusahaan yang Kent kelola sudah mendapatkan banyak bukti kalau Kent tidak melakukan kecurangan atau plagiarisme. Mereka sudah mengumpulkan semua berkas dan akan menyerahkan semua bukti dan berkas-berkas yang ada kepada pihak yang berwajib.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Kent kepada orang-orang kepercayaannya. Semua orang mengangguk. Mereka memberikan dokumen-dokumen yang telah mereka siapkan kepada asisten Kent yaitu Devano.
"Terima kasih. Jika pihak kejaksaan sudah memberikan kejelasan, aku akan membuat konferensi pers untuk membersihkan nama perusahaan ku dan kalian semua akan terap aman."
"Kau urus lah semuanya Dev! Aku masih ada urusan lain."
Devano mengangguk. Sementara Kent, dia menarik tangan Camelia lalu membawa istrinya itu keluar dari gedung perusahaan.
"Kak? Kita mau ke mana?" tanya Camelia melihat suaminya hanya fokus berjalan tanpa mau menjelaskan apapun.
Camelia merengut saat Kent tidak menjawab pertanyaannya. Apakah sangat sulit menjawab pertanyaan seperti itu. Camelia tidak bertanya kapan mereka akan punya bayi, tapi kenapa Kent bungkam?.
"Aku akan memberitahumu nanti," ujar Kent setelah dia berhasil mendudukkan Camelia di dalam mobil.
"Terserah kau saja Kak!" jawab Camelia seadanya.
Kent diam. Dia hanya fokus melihat jalanan yang ada di depan mereka. Pak Indro juga tidak mengatakan apa-apa. Kedua laki-laki itu diam seolah mereka sedang menyembunyikan sesuatu dari Camellia.
Dua puluh lima menit kemudian, Camelia dan Kent sampai si sebuah restoran mewah. Mereka berdua masuk ke restoran itu, namun Kent langsung membawa Camelia ke lantai paling atas.
"Maafkan aku Baby, aku harus menutup matamu sebentar," ujar Kent membuka dasinya kemudian mengikatkan dasi itu pada bagian mata Camelia. Lagi-lagi Camelia hanya bisa menurut. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi.
Lambat laun lift itu akhirnya membawa mereka ke lantai paling atas. Kent membawa Camelia menuju tangga darurat, kemudian menuntun Camelia untuk menaiki anak tangga satu persatu supaya mereka bisa sampai di rooftop.
"Pelan-pelan!" ujar Kent pada Camelia. Kent tersenyum ketika ada seseorang yang membukakan pintu rooftop untuknya. Dia membawa Camelia ke area paling tengah di rooftop itu.
"Aku akan membuka ikatannya. Kau buka matamu perlahan ya!"
Camelia mengangguk. Dengan gerakan yang sangat pelan, Camelia membuka matanya. Dia melihat ke sekeliling dan nampaknya dia agak sedikit bingung ketika melihat rooftop itu sudah di dekor sedemikian rupa sampai Camelia di buat terpesona oleh dekorasi nya.
Kent berjalan menjauhi Camelia. Laki-laki itu mendekati sebuah piano lalu duduk dan mulai memainkan piano tersebut. Alunan musik yang keluar dari piano itu terdengar sangat indah. Bahkan, tiba-tiba saja kelopak bungan mawar merah berterbangan di dekatnya. Semakin lama, Camelia semakin terpaku melihat betapa keren dan tampan suaminya.
Duar! ...
Sebuah kembang api meledak. Camelia mendongak, dan saat itu juga dia melihat susunan kata yang menjadi satu kalimat, Aku mencintaimu Camelia."
Camelia terperangah. Dia mematung untuk sesaat. Namun, tangan lembut seseorang yang meraih tangannya membuat lamunan Camelia memudar. Wanita cantik itu menoleh ke arah laki-laki yang kini sedang berjongkok di hadapan.
"Kak Kent!" ucap Camelia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Selamat karena telah berhasil mendapatkan hatiku Baby, aku mencintaimu. Sampai kapanpun aku hanya akan mencintaimu. Ini adalah cincin pernikahan kita, dahulu, aku asal-asalan memberikan mu cincin pernikahan. Sekarang aku akan memberikan cincin yang indah padamu."
Kent menyematkan sebuah cincin di jari manis Camelia. Dia mengecup punggung tangan Camelia sekilas kemudian berdiri dan beralih mencium bibir istrinya.
Duar! ... Kembali suara kembang api terdengar.
"Selamat untuk kalian!" pekik orang-orang yang dengan tiba-tiba muncul. Camelia menoleh. Di sana ada kedua orang tuanya, kedua orang tua Kent, juga Melodi.
"Maafkan Ibu Bella, dulu Ibu sempat tidak suka padamu," ucap Ashana menyingkirkan Kent lalau memeluk Camelia.
"Ibu harap kalian akan bahagia untuk selamanya."
Camelia menitikkan air matanya. Dia sangat bahagia karena kini, ibu mertuanya memberikan restu atas hubungannya dengan Kent.
To Be Continued.