
Kent menatap punggung Camelia dari dalam mobil. Kent bingung dengan apa yang baru saja dia dengar. Haruskah dia percaya kepada Camelia? Namun kalau di ingat-ingat lagi, apa yang Camelia jelaskan padanya memang benar adanya. Selama ini prediksi Camellia tidak pernah salah. Camelia seperti orang yang datang dari masa depan. Apa yang harus Kent lakukan. Dia sangat mencintai wanita itu. Sekarang Camelia sedang mengandung. Rasa takut kehilangan di dalam hati Kent semakin besar. Jujur saja Kent tidak ingin Camelia pergi. Siapapun Camelia, Kent hanya ingin tetap bersamanya.
"Jalan Pak!"
"Baik Tuan."
Kent meninggalkan area kampus dengan hati yang sedikit gelisah. Setelah mengetahui kalau Camelia datang dari dunia yang berbeda rasa takut Kent semakin besar. Bagaimana kalau Camelia tiba-tiba kembali ke dunianya. Kent terus berpikir sembari memijat pelipisnya.
Sebenarnya bukan hanya Kent yang merasakan itu, Camelia juga merasakan hal yang sama. Wanita cantik itu sedang duduk termenung. Meskipun dosen sendari tadi terus mengoceh memberikan pelajaran, namun tidak ada satupun yang masuk ke dalam otak Camelia. Kali ini dia benar-benar tidak bisa berkonsentrasi.
"Hei!" Melodi menepuk punggung Camelia. "Kau Kenapa? Kenapa sejak masuk ke kampus, kau terlihat sangat tidak bahagia. Kau sedang banyak pikiran?"
Camelia menggeleng dengan segera. "Aku tidak apa-apa Mel. Aku baik-baik saja. Aku hanya merindukan Kak Kent. Camelia berbisik di samping telinga Melodi.
"Bukankah tadi dia mengantarmu ke kampus, kenapa sekarang kamu sudah kangen aja sih?"
Camelia menggeleng. Dia juga tidak tahu kenapa semakin sering dia bertemu dengan Kent dia malah semakin merindukan laki-laki itu. Rasanya 24 jam dalam sehari tidak cukup untuknya bertemu dengan suaminya.
Setelah jam kuliahnya selesai, Camelia memutuskan untuk langsung pergi ke perusahaan suaminya. Dia tidak bisa seperti ini terus. Camelia tidak bisa jauh dari Kent. Sebenarnya Camelia masih harus ikut satu kelas lagi. Hanya saja dia tidak bisa melakukan itu. Camelia bisa gila kalau dia berada jauh dari Kent terlalu lama. Camelia pergi ke perusahaan Kent menggunakan sebuah taksi. Hari ini dia di antar suaminya. Seharusnya Kent menjemputnya saat jam kuliah keduanya berakhir. Namun karena tidak bisa menunggu, Camelia datang lebih dulu alih-alih menunggu di jemput.
Tiga puluh menit kemudian, Camelia sampai di depan gedung perusahaan suaminya. Langkah kecilnya terlihat sangat cepat dan padat. Wanita itu benar-benar dilanda kerinduan yang luar biasa. Camelia bahkan mengabaikan rengekan Melodi yang memintanya untuk makan siang bersama. Melodi agak kecewa karena Camelia tidak menurutinya namun dia bisa apa. Melodi tidak punya hak atas Camelia.
"Nyonya!" Beberapa orang membungkuk ketika melihat Camelia masuk ke perusahaan. Camelia hanya tersenyum. Dia kembali melanjutkan langkahnya.
"Kakak, aku sangat merindukanmu." Camelia bergumam sembari menunggu pintu lift terbuka.
Ting!
Wanita itu kembali berjalan dengan sangat cepat. Kali ini dia tidak memperdulikan karyawan yang menyapanya. Mereka seperti makhluk yang tak kesat mata.
Brakkkkk!
Kent mendongak mendengar pintu ruangannya terbuka dengan keras. Sosok istri cantiknya muncul dengan sedikit terengah. Kent berdiri lalu berjalan mengitari meja kerjanya. Raut wajahnya tidak bersahabat. Bagaimana mungkin raut wajahnya bisa bersahabat ketika melihat istrinya datang dengan penampilan yang tidak biasa.
Brukkkkk!
Camelia langsung berlari menghambur ke pelukan sang suami.
"Ada apa Baby? bukankah hari ini kau ada 2 jadwal kelas. Kenapa sudah pulang? Kenapa tidak menelpon ku. Aku bisa menjemput mu."
"Aku merindukanmu Kak. Rasanya aku seperti akan mati jika aku tidak melihatmu satu detik saja. Aku tidak ingin kuliah lagi. Aku mau menemani Kakak saja. Aku tidak akan pergi kemanapun. Aku akan terus berada di sisi Kakak."
Kent mendorong bahu Camelia. Laki-laki itu bisa merasakan napas Camelia yang tidak beraturan.
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di bibir Camelia. Kali ini bukan kecupan biasa yang Kent lakukan karena kini dia sedang memberi napas buatan untuk istrinya.
Satu menit, dua menit, lima menit. Kent melepaskan bibirnya dari bibir Camelia.
"Relax Sayang! Jangan berbicara dengan cepat seperti itu. Sekarang kita duduk ya! Bicarakan ini perlahan."
Camelia mengangguk namun kembali memeluk suaminya. Kent tersenyum sembari menuntun Camelia untuk duduk di sofa.
"Minum dulu!" Kent mengambil botol air membuka tutupnya lalu memberikannya kepada Camelia.
"Kenapa kau ingin berhenti kuliah heum? Bukankah selama ini kau sangat ingin kuliah dan mendapatkan nilai yang bagus agar kau bisa membanggakan kedua orang tuamu?"
Camelia menggeleng dengan cepat. Dia menatap Kent lekat dengan wajah sendunya. "Kak, kau tahu, semakin hari aku semakin resah. Aku takut, aku takut aku akan pergi ketika aku sedang tidak bersamamu Kak. Mulai sekarang aku tidak akan pernah menghilang dari pandangan mu. Biarkan aku terus bersamamu Kak. Aku mohon."
Kent tersenyum tipis. Tangannya terulur menyentuh wajah Camelia dengan lembut. Kedua orang itu menunjukan tatapan saling mendamba. Mereka sama-sama takut kehilangan satu sama lain.
"Tetaplah bersamaku Camelia. Mulai sekarang, ikutlah kemanapun aku pergi. Jangan pernah meninggalkan ku."
Camelia kembali mengangguk dalam dekapan Kent. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana dia akan hidup jika mereka benar-benar terpisah. Camelia tidak ingin pergi dari dunia ini. Camelia ingin terus bersama selama-lamanya. Membesarkan anak bersama dan hidup bahagia.
"Bagaimana keadaan calon bayi kita Sayang?" Kent meraba perut Camelia yang mulai membuncit.
Camelia tersenyum. "Calon bayi kita baik-baik saja Kak."
Kent kembali memeluk Camelia membelai Surai hitamnya lembut. Laki-laki itu menyesap aroma wangi dari tubuh sang istri. Wangi ini selalu menambah semangat dirinya. Wangi Camelia yang Khas membuat Kent tidak bisa berpaling pada wangi-wangian yang lain.
****
Hari sudah semakin malam. Kent masih berkutat dengan laptop dan beberapa berkas di depannya. Sesekali dia melihat ke arah Camelia yang sedang tidur di sofa. Kent melepas kaca mata yang dia kenakan. Tangan terampilnya membereskan barang-barang yang ada di atas meja lalu beranjak dari duduknya.
Menit berikutnya Kent sudah ada di samping Camelia. Laki-laki tampan itu memandangi wajah Camelia yang sedang tertidur dengan lelap. Tangannya menyentuh helaian rambut yang menjuntai menutupi sebagian dari wajah sang istri.
"Kau sangat cantik Sayang. Aku harap aku akan bisa terus menikmati wajah cantik ini selamanya. Aku mencintaimu Camelia. Sangat.
To Be Continued.