Extraordinary Love

Extraordinary Love
Terciduk Lagi



Hari ini Camelia dan Kent pergi ke kantor di ikuti Melodi. Gadis itu mengatakan kalau dia ingin bekerja juga di perusahaan Kent. Kalau Camelia bisa bekerja di sana, seharusnya Melodi juga bisa. Dia bertekad untuk mencari uang sendiri, karena kedua orangtuanya secara tidak langsung sudah mengusirnya, dia akan berusaha untuk hidup tanpa bantuan dari kedua orangtuanya itu.


"Kakak bilang kau bisa kerja di divisi keuangan Mel. Kau belajar akuntansi kan di kampus. Meskipun Kakak hanya menyuruh HRD untuk memberikan mu pekerjaan sampingan, anggap saja ini adalah awal dari kesuksesan mu. Aku yakin, kalau Kak Kent melihat kemampuan mu, kau akan menjadi orang kepercayaan nya di masa depan."


Melodi mengangguk. Dia menyuruh Camelia untuk segera pergi ke ruangan Kent. Melodi tidak ingin menjadi bahan amukan laki-laki itu karena sejak semalam dia sudah mengganggu waktu Camelia bersama suaminya itu.


Camelia mengangguk. Dia berjalan sambil tersenyum bahagia. Sekarang dia sudah semakin dekat dengan rencananya. Lebih banyak orang yang dia percaya ada di sisi Kent, maka itu lebih baik. Camelia ingin, ketika suatu saat mungkin jika dia kembali ke dunia nyata, Kent sudah bersama orang-orang baik yang tulus ada di sisinya bukan karena menginginkan sesuatu atau mengincar sesuatu dari Kent.


Krieetttt...


Camelia langsung di suguhkan dengan pemandangan yang sangat indah. Kent sedang berdiri di depan jendela kaca sambil menelpon. Satu tangannya dia masukan ke dalam saku celana membuat penampakannya semakin indah. Cahaya matahari yang menembus dinding kaca itu membuat kesan aesthetic yang luar biasa.


Kent tersenyum ketika merasakan sepasang tangan mungil melingkar di pinggang nya. Dia mengusap punggung tangan itu menggunakan tangan yang tadi bertengger di saku celana. Camelia ikut tersenyum. Dia memejamkan matanya merasakan kehangatan punggung Kent yang sangat dia sukai. Andai ini bukan mimpi, andai dia bukan berada di dalam cerita novel, dia pasti akan sangat bahagia dan tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu.


"Saya akan menghubungi Anda lain kali. Saya masih ada urusan lain yang harus di selesaikan sekarang juga."


"Eum, iya saya pasti akan mengabari Anda kembali."


Kent menutup sambungan teleponnya lalu memasukannya ke dalam saku celana. Dia memutar tubuhnya lalu memeluk Camelia erat. Perasaan yang belum pernah dia rasakan kini semakin jelas dan semakin mudah untuk di bedakan. Perasaan nya ketika berdekatan dengan wanita lain, jelas berbeda dengan perasaannya ketika berdekatan dengan Camelia.


Perasaan baru itu menjadi candu untuk Kent. Dia bahkan tidak bisa berjauhan dari Camelia walau hanya sebentar. Mungkin, karena ini adalah cinta pertamanya, dan karena ini adalah perasaan yang baru dia rasakan, di mata orang lain mungkin ini terlihat agak lebay. Tapi bagi Kent, tidak ada yang lebay. Dia melakukan ini semua karena mengikuti kata hatinya.


Aneh memang. Sosok Kent yang biasanya tidak pernah perduli dengan yang namanya hubungan asmara, kini malah di buat bucin oleh gadis kecil yang usianya terpaut 8 tahun dari dirinya. Namun, tanpa Kent sadari, jiwa gadis yang dia nikahi adalah gadis berusia 17 tahun, itu artinya, dia dan Camelia sebenarnya terpaut usia 11 tahun.


"Kau sudah mengantarkan Melodi?" tanya Kent sambil mengusap rambut Camelia penuh kasih sayang. Usapannya sangat lembut. Saking lembutnya Camelia di buat terbuai dan ingin kembali tidur dalam dekapan Kent.


"Aku sudah mengantarkan Melodi Kak. Kini giliran ku yang harus mulai bekerja. Apa yang harus aku kerjakan lebih dulu Kak?"


Camelia mendongak. Sementara Kent menunduk menatap mata Camelia yang juga sedang menatapnya . Tatapan mereka yang syarat akan cinta membuat keduanya larut dalam lamunan masing-masing. Perlahan, tatapan Kent maupun tatapan Camelia beralih turun ke bibir.


Camelia salah fokus, dia melihat ke arah yang lebih bawah, jakun menonjol yang ada di leher suaminya naik turun seiiring dengan suara debaran jantung yang sangat keras. Camelia pikir, mungkin Kent menggunakan sebuah mic untuk memperdengarkan suara detak jantungnya pada Camelia.


Camelia berjinjit lalu menempelkan bibirnya pada bibir Kent. Awalnya sepasang bibir itu diam tak bergerak. Kent maupun Camelia merasakan setiap sensasi yang mereka rasakan ketika tubuh dan kulit mereka saling bersentuhan. Gelenyar aneh dalam tubuh mereka memaksa mereka untuk melakukan hal lebih.


Kent menarik pinggang Camelia semakin dekat. Karena bosan dengan posisi menunduk, Kent memangku tubuh Camelia dan mendudukkannya di atas meja kerjanya. Bibir mereka masih saling bertaut. Camelia mengalungkan kedua tangannya sementara Kent mulai menggrayangi tubuh bagian belakang Camelia.


Brakkkkk...


Kent maupun Camelia tidak menghentikan kegiatan mereka. Mereka yakin, paling-paling yang membuka pintu adalah sekertaris aslinya Kent. Karena hanya dia yang berani masuk ke ruangan Kent tanpa pernah mengetuk pintu terlebih dahulu.


Satu deheman tak kunjung membuat sepasang sejoli itu menghentikan aksinya.


Ekhemmmm.. Deheman kedua masih nihil.


Cekrek.. Cekrek..


Suara kamera dari sebuah ponsel yang mengabadikan momen mereka membuat sepasang suami istri itu menghentikan aktifitasnya. Camelia mengintip dari pundak Kent. Dia terkejut bukan main.


"Ayah!" panggil Camelia yang membuat Kent ikut memutar tubuhnya dan melihat siapa yang sebenarnya masuk ke ruangannya tadi.


"Ayah!" panggil Kent ketika melihat Navarro sedang menatap layar ponselnya sambil tersenyum-senyum seperti orang yang sedang jatuh cinta.


Kent menurunkan Camelia dari atas meja lalu berjalan ke arah Navarro dengan langkah yang cepat. Dia ingin merebut ponsel ayahnya namun, Navarro dengan segera menjauhkan ponsel itu dari jangkauan anak semata wayangnya itu.


"Ayah berikan ponselnya padaku."


Navarro menggeleng. Dia dengan cepat memasukan ponselnya ke dalam saku celana lalu berjalan menjauhi Kent dan duduk di sofa yang ada di ruang kerja Kent.


"Kemarilah!" titah Navarro. "Kau juga duduk di sini Bella!"


Kent dan Camelia menurut. Mereka berjalan sambil mengikuti satu sama lain. Kent membiarkan Camelia duduk terlebih dahulu, lalu dia duduk setelahnya.


"Ada apa Ayah?" tanya Kent menatap Navarro tidak suka.


Navarro terkekeh. Dia tahu kalau Kent marah. Namun, siapa suruh dia melakukan hal seperti itu di ruang kerja tanpa mengunci pintu. Bukan salah Navarro kalau dia melihat adegan hot itu, lagipula dia juga sudah memberikan kode. Dua kali malah, tapi Kent dan Camelia tidak menggubrish nya.


"Minggu depan akan ada lomba desain untuk pusat perbelanjaan di kota A. Kami harus mengikuti perlombaan itu, ini adalah ajang perlombaan internasional, kamu harus bisa memenangkan nya."


Camelia langsung tertarik. "Kent akan mengikutinya Ayah. Dia pasti akan memenangkan lomba itu."


Kent menoleh. Dia di buat terheran-heran dengan pernyataan yang di berikan Camelia. Kenapa jadi dia yang membuat keputusan. Kent bahkan belum mengatakan apapun.


"Aku tidak mau mengikuti lomba itu."


...To Be Continued....