
"Kak! ini aku buatkan salad buah," ucap Camelia membawa sebuah nampan berisi mangkuk salad dan juga air minum.
Kent yang sedang menatap keluar dari jendela kaca kamar Camelia menoleh. Dia melirik nampan yang ada di tangan Camelia namun karena tidak tertarik dia kembali memusatkan perhatiannya pada pemandangan di luar sana. Kenapa dia belum menutup tirai? padahal kan udah malem. Entahlah, Author juga gak tahu.
"Kak. Kau belum makan siang. Ini sudah malam, maaf kalau keinginan Mama dan Papa yang meminta kita menginap di sini membuat Kakak tidak nyaman." Camelia meletakan nampannya di atas meja yang ada disana, matanya melirik Kent yang masih tidak bergeming.
"Kau itu sangat sulit untuk di layani Kakak. Untung kau tampan, kalau tidak, sudah aku lempar salad buah ini di depan wajah Kak Kent."
"Kak!" panggil Camelia. Dia menarik tangan Kent namun, tubuhnya oleng saat Kent menghempaskan tangannya.
Brukkkk...
Camelia membuka matanya perlahan.
Deg.
Deg.
Deg.
Bagai gendang yang sedang di tabuh, jantung Camelia berdegup tidak karuan. Matanya bertemu dan terkunci oleh mata Kent yang sangat indah. Sorot matanya membuat Camelia panas dingin. Apa dia jatuh cinta sungguhan pada Kent? apa benar ini yang di namakan cinta?..
Kent mengerejapkan matanya. Lagi-lagi otak dan hatinya tidak sejalan. Otaknya menyuruh Kent untuk tidak tergoda oleh Camelia, namun hatinya selalu ingin merasakan hal yang lebih. Degup jantungnya. Hangat tubuhnya, semua yang belum pernah Kent rasakan kini bisa dia rasakan ketika tubuhnya bersentuhan langsung dengan tubuh Camelia.
"Kak!" panggil Camelia lembut. Tangannya masih menahan dada Kent supaya tidak terlalu menekankan buah dadanya.
Kent masih diam. Dia masih menatap Camelia , bulu mata Camelia yang seolah mengepak dengan indah itu membuatnya hanyut dalam lamunan yang sangat indah. Deru nafasnya semakin hangat. Perlahan pandangan nya beralih ke bibir tipis Camelia. Bibir ranum itu, bibir yang selalu mengoceh dan membuat Kent jengkel kenapa sekarang malah terlihat sangat seksi.
Cup.
Camelia membulatkan matanya saat dia merasakan bibir Kent menyentuh bibirnya lembut. Perlahan, Kent mulai menggerakkan bibirnya. Camelia membalas setiap ci u man yang di berikan Kent meskipun sangat kaku. Ya, ini adalah kali pertama untuk Camelia melakukan sebuah ci u man. Jadi wajar saja kalau dia masih belum mahir.
Brakkkkkk....
Camelia maupun Kent langsung melepas tautan mereka. Bahkan Camelia refleks mendorong Kent sampai laki-laki itu terguling dari atas tubuh Camelia.
"Akh, maaf. Mama tidak tahu kalau kalian sedang itu. Maafkan mama. Mama tidak akan mengganggu kalian lagi."
Blammm....
Zinnia menutup pintu kamar Camelia.
"Ada apa Ma?" tanya Davindra ketika melihat Zinnia masuk ke dalam kamar mereka sambil tersenyum-senyum seperti orang bodoh.
"Bella Pah, Bella kita sudah besar."
"Ikh Papa, itu lho Pah, anu, Bella lagi....." Zinnia memperagakan apa yang di lakukan anak dan memantu mereka dengan menyatukan jari-jari tangannya dan membuat tangan kanan dan tangan krinya beradu.
Davindra langsung menutup buku yang sedang dia baca. Dia menghampiri Zinnia lalu menarik pinggang nya supaya Zinnia duduk di atas ranjang.
"Apa kau melihat semuanya?" tanya Davindra antusias.
Zinnia mengangguk. Dia kembali tersenyum bodoh. Entah kenapa dia merasa kalau Bella mereka sangat lucu. Baru kemarin Zinnia mengandung , melahirkan serta merawat Bella kecil. Dan sekarang Bella nya sudah memiliki suami bahkan dia sudah melakukan hal-hal layaknya pasangan suami istri.
Sementara di dalam kamar Camelia, Kent masih termangu. Dia duduk di pinggiran ranjang sambil meraba bibirnya. Apa yang telah dia lakukan, kenapa dia bisa kelepasan. Apa dia sangat kesepian sampai harus mencium gadis berisik yang selalu menganggu hari-harinya.
"Kakak makanlah salad buahnya. Semuanya bersih, aku jamin. Aku mau tidur," ucap Camelia yang sudah masuk ke dalam selimutnya.
Kent menolehkan kepalanya. Camelia tidur memunggunginya, apa gadis berisik itu marah, bukankah Kent sudah keterlaluan karena mencium seorang gadis tiba-tiba?..
Kent kembali melirik salad buah yang ada di atas meja. Dia ingin menolak ini tapi perutnya sangat lapar. Belum lagi yang membuatnya Camelia, bukankah dia bisa mentoleransi ini. Perlahan Kent mendekat ke meja dan mengambil mangkuknya dan mulai makan.
Sementara Camelia, dia masih berusaha menormalkan degup jantungnya.. Sebenarnya Camelia masih belum mengantuk. Tapi dia terlalu malu untuk berhadapan dengan Kent. Apa yang dia lakukan bersama Kent tadi membuat seluruh wajahnya panas, dia yakin kalau pipinya pasti sudah sangat memerah.
"Kau keterlaluan Kak. Kenapa kau sangat tampan. Meskipun kau sangat dingin dan tidak perhatian, tapi aku selalu merasa kalau kau itu adalah sosok laki-laki yang sempurna," gumam Camelia dalam hati.
Malam itu terus berlanjut. Kent yang sudah selesai dengan makan malamnya juga mulai memperhatikan kasur yang sedang di tiduri Camelia. Dia tidak mungkin tidur satu ranjang dengan gadis berisik itu kan? Setelah melihat-lihat se isi ruangan, Kent akhirnya memutuskan untuk tidur di sofa panjang, namun dia yakin, dia hanya akan bisa tidur dengan posisi meringkuk di sofa itu.
Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah Kent. Viola sedang mondar mandir tak karuan. Dia mengetuk-ngetukkan ponselnya di atas tangan. Kenapa Kent dan Camelia tidak ada? setahu dia, kedua orang itu masih ada di rumah saat dia keluar tadi. Apa mereka pergi bersama? tapi tidak mungkin. Kent tidak mungkin mau bepergian dengan Camelia, dia pasti hanya sedang menemui client di luar. Sementara Camelia? Viola sama sekali tidak perduli akan hal itu.
"Halo! ada apa Sayang?" tanya Viola kepada orang di sebrang teleponnya.
"Aku mau kau melakukan sesuatu untukku Vi. Jangan marah dan jangan salah faham."
Viola mengangguk. Dia mulai mendengarkan apa yang Taksa katakan padanya .
"Baiklah, aku akan melakukan apa yang kau katakan. Tapi ingat satu hal Kak, aku tidak ingin kau terlalu dekat dengan Bella, dia itu licik. Aku takut bukannya berhasil membawa Bella ke perangkap yang telah kita buat, malah kau yang terperangkap."
Terdengar helaan nafas panjang di sebarang telepon. "Aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu Vi. Kau tenang saja."
"Baiklah, aku percaya padamu."
Setelah selesai, Viola menutup panggilan teleponnya. Dia mulai mencari cara untuk melancarkan aksinya, kali ini dia yakin kalau dia akan menang dari Bella. Bella itu hanya gadis kecil lemah dan bodoh. Sangat tidak bisa di bandingkan dengan dirinya yang cantik, kuat, dan cerdas.
"Lihat saja Bella! aku akan membuatmu sengsara. Kau tidak akan bertahan lama di sisi Kent. Suatu saat kalian pasti akan berpisah, kalian akan saling meninggalkan satu sama lain."
...To Be Continued....