
Kent menautkan kedua alisnya. Dia menyentuh tangan Camelia lalu memutar tubuhnya. Tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Camelia yang teduh juga sangat menyilaukan.
"Kau! apa yang kau katakan?" tanya Kent pada wanita yang kini sedang menatap nya dengan mata yang tidak berkedip.
Kent melepas earphone yang dia kenakan lalu memasukannya ke dalam saku.
Camelia tersenyum miris. Dia ingin meninggalkan Kent dan pergi dari kamar itu. Kent yang berusaha untuk mencari jawaban menarik tangan Camelia dan tidak membiarkannya pergi.
Camelia meruntuki dirinya di dalam hati. Dia sudah berusaha untuk mengatakan isi hatinya meskipun dia sangat malu. Tapi saat Camelia melihat Kent melepas earphone nya, Camelia baru sadar kalau ternyata Kent tidak mendengar semua ucapan nya.
"Kau tadi mengatakan apa?" tanya Kent.
Bukannya menjawab, Camelia malah menunduk sambil memegangi ujung dres yang dia kenakan.
"Aku tidak mengatakan apapun," bohong Camelia. Dia tentu tidak mau membuat dirinya sendiri malu. Ini adalah kali keduanya dia menyatakan cinta pada Kent. Dan dia tidak ingin mengatakan nya untuk yang ketiga kalinya. Sudah cukup, Camelia tidak ingin kehilangan muka di depan Kent.
"Aku tahu kau mengatakan sesuatu Bella. Jangan berbohong atau aku akan memecat mu."
Camelia gusar. Dia tidak tahu dia harus melakukan apa. Dia ingin sekali menjawab tapi dia takut Kent akan kembali dingin dan lebih dingin dari sebelumnya.
"Mau aku pecat atau....
"Aku akan mengatakan nya," jawab Camelia dengan segera. Dia menelan salivanya susah payah. Setelah beberapa detik mencoba untuk mengumpulkan keberanian, Camelia akhirnya mau membuka mulut.
"Aku mencintaimu Kak!" ucap Camelia menunduk dalam.
Kent diam. Dia tidak menjawab atau melakukan sesuatu. Dia hanya diam, berdiri seperti sebuah patung yang sengaja orang letakan untuk di jadikan hiasan atau yang lainnya .
Camelia menautkan alisnya. Dia bingung melihat respon yang Kent berikan. Dia sudah memberanikan diri untuk mengatakan isi hatinya, tapi Kent diam dan tidak mengucapkan satu patah katapun.
Camelia mencoba untuk mengangkat wajahnya. Tepat saat itu terjadi, Kent menagkup wajah Camelia dan menempelkan bibirnya dengan bibir Camelia. Dia menyesap manis bibir Camelia dengan sangat nikmat.
Camelia yang kala itu mendapat ciuman tiba-tiba dari Kent perlahan mulai membalas ci u man dan lu matan yang di lakukan Kent padanya. Kedua tangannya sudah melingkar indah di leher Kent.
Untuk sesaat dia di buat terbang ke awang-awang. Namun dia merasa sangat hampa ketika Kent sudah melepas tautan mereka. Laki-laki itu menatap Camelia lalu mengusap bibir Camelia menggunakan ibu jarinya.
"Maaf. Aku tadi agak terkejut. Aku ingin memastikan sesuatu, maaf kalau aku mencium mu tiba-tiba. Aku hanya ingin memastikan kalau aku juga memiliki perasaan yang sama dengan mu. Aku tidak ingin keliru."
Camelia mendongak. Dia menatap Kent dengan tatapan seolah dia ingin meminta penjelasan lebih dari laki-laki tampan yang kini ada di hadapannya.
"Coba letakan tangan mu di sini!" titah kent sambil menarik tangan Camelia dan meletakkannya di atas jantungnya.
"Kau bisa merasakan itu?" tanya Kent. Camelia mengangguk.
"Aku juga memiliki perasaan yang sama dengan mu Camelia. Kau boleh menyukai ku, kau boleh menyentuhku. Dan kau boleh marah padaku kalau aku melakukan kesalahan padamu. Mulai sekarang, karena kau sudah masuk ke dalam bagian dari hidupku. Kau juga sudah memiliki hak atas diriku."
Camelia menatap Kent dengan mata yang berkaca-kaca. Benarkah apa yang di katakan Kent? bolehkan dia mempercayai setiap ucapannya? tapi kalaupun Kent berbohong. Dia akan tetap mempercayai ucapan laki-laki itu. Dia sangat mencintai Kent. Jadi, apapun yang terjadi, dia akan tetap mempercayai laki-laki itu.
Tes....
Tidak terasa air mata yang sudah coba dia bendung mengalir begitu saja dari sudut matanya. Dia sangat bahagia ketika Kent mengatakan kalau dia juga mencintai Camelia.
"Kenapa menangis?" tanya Kent. Dia mengambil sapu tangan dari saku celananya lalu mengusap air mata Camelia penahan.
"Sudah, jangan menangis lagi," ucap Kent.
Camelia mengangguk. Dia menarik leher Kent lalu memeluknya dengan erat.
"Tidak usah berterima kasih. Cinta itu memang harus saling membalas.
"Aku mencintaimu Bella. Aku harap hubungan ini akan membawa perubahan baik pada rumah tangga kita."
Tok Tok Tok
Camelia dan Kent sontak saja menoleh ke arah pintu saat mereka mendengar pintu itu di ketuk dari luar.
"Kau bersembunyi dulu !" titah Kent padanya. Camelia bingung . Kenapa dia harus bersembunyi? bukankah mereka sudah menjadi suami istri?...
"Baiklah, aku akan pergi untuk membuka pintu, dan kau, kau bersembunyi saja di dalam lemari!"
Camelia hanya menurut saat Kent mendorongnya dan memasukannya ke dalam lemari pakaian yang ada di sana.
Setelah dia rasa aman, Kent berjalan menuju pintu kamarnya dan membuka pintu itu perlahan.
Cklekkkk...
Seorang wanita paruh baya muncul dengan senyuman manis di bibirnya.
"Sudah waktunya makan siang Kent, turunlah! Ibu sudah menyuruh para pelayan menyiapkan makanan kesukaan mu."
"Baik Bu, Kent akan turun."
Setelah memastikan kalau ibunya benar-benar sudah pergi, Kent menutup rapat pintu kamar nya. Dia kembali membuka pintu lemari, dan menemukan Camelia sedang menatapnya dengan tatapan marah.
"Maaf!" ucap Kent kikuk. Dia sebenarnya bisa saja membiarkan orang lain tahu kalau Bella ada di kamarnya. Tapi, untuk sekarang, Ibunya masih tidak suka kepada Bella, dia takut Bella akan dalam bahaya, ibunya itu adalah orang yang tidak segan-segan. Katena sekarang ibunya masih sangat menyukai Viola, Bella harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan hati Ibu mertuanya itu.
"Kau keterlaluan Kak. Aku kecewa padamu."
Camelia keluar dari dalam lemari. Dia berjalan dengan cepat menuju pintu.
Blammmm...
Kent terperanjat saat pintu kamarnya di banting dengan keras oleh Camelia.
****
Orang-orang sudah berkumpul di ruang makan. Kent duduk setelah seseorang membersihkan kursi dan meja yang ada di hadapannya. Matanya melirik Camelia yang duduk agak jauh darinya.
Semua orang mulai makan, tapi tidak dengan Kent, dia masih diam, bahkan lauk yang di sodorkan ibunya pun tidak dia sentuh. Dia hanya memperhatikan orang-orang yang sedang menyantap makanan mereka, raut muka tidak enak jelas dia tunjukan. Ini bukan sebuah kebiasaan uang dia sukai. Kenapa ibunya harus membuat acara keluarga seperti ini, padahal dia sudah tahu kalau Kent tidak bisa makan makanan yang di sentuh sembarangan orang.
Camelia asyik menyantap makan siangnya. Dia benar-benar mengacuhkan Kent. Sudah tiga puluh menit sejak dia dan yang lain mulai makan. Dia melirik Kent dari kursinya. Bola matanya memutar dengan cepat saat dia melihat Kent masih diam seperti sebuah patung. Raut wajah jijik yang di tunjukan Kent membuat Camelia jengah.
Semua orang menoleh ke arah Camelia saat suara kursi yang berdecit mengganggu indra pendengaran mereka.
"Akh maaf. Saya sudah selesai makan," ucap Camelia. Dia melirik Kent dan memberinya isyarat kalau Kent harus pergi mengikutinya.
"Makan ini!" titah Camelia ketika mereka sudah ada di dapur. Untunglah tadi dia sempat menyimpan makanan di sebuah tupperware , kalau tidak, mungkin siang ini Kent akan kelaparan.
Kent tidak mengambil kotak makan itu, dia menarik tangan Camelia dan membawanya ke suatu tempat.
"Kau mau membawaku ke mana Kak?"....
...To Be Continued....