Extraordinary Love

Extraordinary Love
Kebodohan Viola



Brakkkkkk ...


Camelia membulatkan matanya saat dia melihat Kent tergeletak di atas lantai. Sementara Devano, dia hanya berdiri memperhatikan Kent.


Camelia berlari lalu merengkuh tubuh Kent dan berusaha membantunya untuk pindah ke sebuah sofa yang ada di ruangan itu. Camelia melihat Kent masih bisa membuka matanya. Dia tidak sepenuhnya hilang kesadaran. Mungkin Kent hanya kelelahan karena mual muntah yang dia derita.


"Kakak maafkan aku. Aku janji, setelah ini kau tidak akan kesulitan lagi. Apa kau mau ke rumah sakit?" tanya Camelia memangku kepala Kent di atas kedua pahanya.


Kent menggeleng lemah. Dia tidak suka rumah sakit. Lebih baik Camelia saja yang merawatnya. Dia hanya perlu menunggu sebentar sampai mual yang dia rasakan hilang. Masalah bentol dan juga kemerahan di pipinya juga akan membaik kalau Camelia menghilangkan jejak Viola pada pipinya.


"Kenapa kau malah diam Dev? Cepat ambilkan aku air hangat juga handuk kecil?" ucap Camelia pada sekertaris Kent. Tadi dia menyuruh Devano untuk tidak melakukan apapun bukan maksudnya untuk menyuruh Devano membiarkan Kent tergeletak di lantai. Maksud dia, dia hanya menyuruh Devano untuk tidak memberikan Kent apapun sebelum dia datang. Namun lagi-lagi kalimatnya ambigu, Devano salah faham mengartikan ucapannya.


"Kakak kau akan baik-baik saja. Bersabarlah!" ucap Camelia mengelus pipi Kent lembut. Dia mengusap peluh yang membanjiri pelipis Kent. Camelia bukan tidak kasihan melihat Kent seperti ini. Namun keadaan memaksanya untuk bersikap egois. Camelia melakukan ini demi kehidupan Kent di masa depan. Jadi, apapun yang terjadi sekarang, Kent harus kuat dan Camelia harus bisa bersikap egois.


Melodi memperhatikan Camelia dan Kent lekat. Dia tidak menyangka kalau Camelia dan Kent ternyata sedekat ini. Mereka saling mencintai dan saling membutuhkan satu sama lain.


"Apa kau membutuhkan bantuan ku Cam?" tanya Melodi pada Camelia.


Camelia menggeleng. "Tidak Mel. Kau duduk saja. Aku bisa menangani ini sendiri."


Melodi mengangguk. Dia duduk di sofa yang tak jauh dari tempat Camelia dan Kent berada.


Setelah beberapa menit, akhirnya Devano datang membawa bowl kaca dengan handuk kecil seperti apa yang Camelia minta.


Devano menyodorkan bowl itu pada Camelia. Wanita cantik itu mengambilnya lalu mulai membersihkan area wajah Kent di mulai dari bibir terus berlanjut ke seluruh bagian wajahnya.


Camelia mengecup pipi Kent beberapa kali. Setelah selesai membersihkan area wajah Kent. Dia beralih membersihkan tangan Kent dengan telaten.


"Tolong belikan aku bubur abalone Dev. Kau tahu di mana restoran langganan Kak Kent bukan?"


Devano mengangguk. Dia beranjak pergi di susul Melodi di belakangnya.


"Aku ikut Kak!" ucap Melodi berlari mengikuti Devano.


Setelah kepergian Devano dan Melodi, Camelia masih terus mengusap wajah Kent lembut. Dia juga masih terus mengecupinya sampai sebuah senyuman terukir di bibir Kent. Perlahan dia membuka matanya. Kent mencoba untuk bangun. Camelia pikir suaminya itu akan duduk. Tapi dia malah menyuruh Camelia berbaring dan tidak lama setelah itu Kent juga ikut berbaring.


Meskipun sofa itu tidak besar, Kent memiringkan tubuhnya supaya dia bisa berbaring sambil memeluk Camelia. Dia sudah merasa jauh lebih baik. Meskipun dia masih lemas, namun rasa nyaman ketika memeluk Camelia membuatnya menjadi lebih baik dan merasa lebih nyaman.


"Apa Kakak baik-baik saja sekarang?" tanya Camelia menyentuh pipi Kent dengan jemari lentiknya.


Kent mengangguk. Dia mengecup bibir Camelia sekilas lalu memejamkan matanya mencoba untuk tidur supaya energinya bisa pulih kembali.


"Aku mencintaimu Kak!" ucap Camelia mengecup bibir Kent sekilas.


Mereka sangat bahagia karena semua rencana mereka berjalan dengan sangat baik. Viola menenggak alkohol yang di tuangkan Taksa. Laki-laki itu terus memberikan Viola minuman keras untuk membuat wanita cantik itu mabuk. Taksa sangat menyukai Viola ketika wanita itu hilang akal. Viola akan berubah menjadi sangat ganas di atas ranjang.


"Kau sangat cantik Viola. Aku sangat menyukaimu. Kau juga sangat bisa di andalkan. Tidak sia-sia aku menjadikanmu pacar dari seorang Taksa Palmer Ulfred."


Viola terkekeh. Dia menarik wajah Taksa lalu mengecup bibir itu agak lama. Orang-orang yang ada di KTV terlihat cuek melihat kelakukan Taksa dan Viola. Mereka sudah sangat hapal dengan kelakuan Viola dan Taksa. Sepasang sejoli itu tidak pernah merasa malu menunjukan kemesraan di depan semua orang yang ada di samping Taksa.


"Aku mau ke kamar kecil dulu Kak!" ucap Viola pada Taksa. Dia beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar dari ruang KTV dengan langkah sempoyongan.


Tangannya mencengkram kepalanya kuat. Semua yang ada di depan matanya terlihat berputar-putar seperti loller koster. Dia berjalan sambil berpegangan pada dinding. Beberapa saat kemudian dia sudah sampai di depan toilet. Viola menunjuk tanda woman and man. Dia terlihat linglung karena tanda itu terus berpindah-pindah posisi.


"Sepertinya yang ini," ucapnya yang malah masuk ke toilet pria.


Semua orang yang ada di toilet itu menoleh ke arah Viola. Bahkan salah satu dari mereka tersenyum ketika melihat wanita cantik dengan tubuh berisi dan pakaian seksih masuk ke toilet pria begitu saja.


"Hai cantik! Kau membutuhkan bantuan?" tanya pria itu menyentuh kedua bahu Viola.


"Kak Taksa!" gumam Viola. Karena pengaruh alkohol yang dia minum. Bayangan Taksa selalu mengikutinya kemanapun dia pergi.


"Iya aku Taksa. Kita pergi dari sini ya!" ajak laki-laki itu pada Viola. Dia membawa Viola keluar dari kamar mandi lalu menuntunnya keluar dari club malam.


Viola mengerutkan keningnya saat laki-laki itu memaksanya untuk masuk ke dalam mobil.


"Kenapa kita pulang secepat ini Kak? Bukankah kau bilang kita akan minum sampai pagi?" tanya Viola keheranan.


"Kita merubah jadwal sayang. Aku sudah sangat merindukanmu," ucap laki-laki itu menuntun wanita itu masuk ke dalam mobil.


Viola tersenyum sambil mengangguk. "Suaramu terdengar sangat merdu Kak. Aku sangat menyukainya," ucap Viola. Laki-laki itu tersenyum lalu memakaikan Viola sit belt dan pergi dan mulai menginjak gas mobilnya.


Dia membawa Viola ke sebuah hotel bintang lima yang ada di kota C. Entah apa yang di berikan Taksa pada Viola sampai wanita itu mabuk dan tidak bisa mengenali setiap orang yang dia lihat dengan baik. Sangat tidak mungkin kalau Taksa hanya memberikannya alkohol biasa. Mungkinkah Taksa memberikan Viola semacam obat atau yang lainnya? Hanya Taksa yang tahu tentang itu.


"Kau membawaku ke mana Kak?" gumam Viola ketika dia di tuntun laki-laki yang membawanya ke dalam kamar hotel.


Brukkkk ...


Laki-laki itu menghempaskan tubuh Viola ke atas ranjang. Air liurnya hampir saja menetes. Tubuh Viola sangat molek. Dia tidak bisa untuk tidak menyentuhnya sekarang juga.


"Aku akan membuatmu puas Sayang!" ucap laki-laki itu mulai melepaskan ikat pinggangnya lalau merangkak menaiki tubuh Viola perlahan.


...To Be Continued....