Extraordinary Love

Extraordinary Love
Perkataan Absrud Camelia



Hari ini Kent dan Camelia kembali ke rumah mereka. Camelia yang sangat gugup pura-pura tertidur di samping Kent dengan kepala yang dia sandarkan ke lengan sang suami.


Kent terus tersenyum sepanjang perjalanan. Pak Indro yang melihat itu tentu saja tahu apa yang sudah terjadi antara tuan dan nyonya nya. Apalagi yang bisa membuat seorang laki-laki bahagia seperti orang bodoh kalau bukan dia yang telah melakukan sesuatu yang Ekhemmmmm. Ya seperti itu lah.


"Kita sudah sampai Tuan," ucap Indro pada bosnya. Kent mengangguk. Dia membuka pintu mobil lalu menarik tubuh Camelia ke pangkuannya dan membawa Camelia turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah.


Dalam hati Camelia ingin tertawa. Dia pikir Kent akan membangunkannya, namun ternyata Kent malah menggendongnya dan itu membuat Camelia semakin gugup.


Langkah demi langkah telah Kent lakukan. Tepat sebelum dia masuk ke dalam kamar, dia melihat Viola berdiri di depan kamar Kent sambil menyilang kan kedua tangannya.


"Darimana saja kalian? Kenapa baru pulang?"


Viola melirik Camelia yang ada di gendongan Kent, dia sungguh ingin menjambak rambut Camelia sampai botak. Camelia sudah mencuri start darinya dan itu membuat Viola kesal bukan main.


"Aku tidak harus mengatakan apapun padamu kan? Penyakit Camelia kambuh, dan dia harus di rawat di rumah sakit kemarin."


Viola mendengus. "Dasar tukang caper. Aku tahu kamu ngelakuin ini supaya kamu bisa merebut simpati dari Kent. Awas aja, lain kali aku bikin kamu sakit beneran Bella."


"Buka pintunya!"


Titah Kent pada Viola. Viola pada awalnya merengut, namun karena ini adalah permintaan dari Kent, dia akhirnya menurut.


Blammmm!


Viola yang terkejut mengelus dadanya beberapa kali. Untunglah dia tidak memiliki riwayat sakit jantung, kalau saja dia memiliki penyakit itu, mungkin saat ini dia sudah mati. Kent benar-benar keterlaluan, dia membanting pintu tepat di depan wajah Viola.


"Awas saja kalian. Besok, riwayat kalian akan tamat di tangan Taksa, aku ingin lihat, apa kalian akan se sombong ini setelah kalian mendapatkan masalah yang besar. Ck, aku akan menantikan itu."


Viola pergi dari depan kamar Kent. Sebenarnya dia masih sangat kesal. Namun karena setelah ini dia masih memiliki rencana lain untuk membuat Kent dan Camelia berada dalam masalah, dia sedikit bisa menahan dirinya. Toh, sebentar lagi dia akan bercerai dengan Kent. Sekarang prioritas utama Viola adalah Taksa, bukan Kent atau yang lain.


Sementara di dalam kamar, Kent mulai membaringkan Camelia di atas ranjang. Dia memperhatikan wajah Camelia lalu mengusap kepala Camelia lembut.


"Bangunlah! Kita sudah ada di kamar, tidak ada siapapun di sini."


Camelia meruntuki dirinya sendiri. Mau tidak mau dia membuka matanya perlahan. Dia pikir Kent tidak tahu kalau dia hanya pura-pura tidur, tapi ternyata Kent malah sudah tahu sejak awal.


"Kakak, kenapa tidak memberitahuku kalau Kakak sudah tahu jika aku hanya pura-pura tidur?" tanya Camelia, dia menarik selimut lalu menutupi seluruh tubuhnya sampai kini Kent hanya bisa melihat bagian mata Camelia ke atas.


"Aku sengaja tidak memberitahumu. Kau sangat malu bukan?"


Camelia mengangguk. Ini adalah kali pertama untuknya melakukan hal seperti itu, dan apa yang dia rasakan semalam masih terngiang di dalam pikirannya, oleh karena itu juga dia menjadi sangat malu. Otak mesumnya membuat Camelia tidak bisa berpikir dengan jernih, bayangan di mana Kent menyentuhnya dengan lembut serta tubuh kekar Kent yang semalam terpang-pang jelas di depan matanya membuat Camelia menjadi tidak fokus dan menginginkan hal itu terulang kembali.


Kent terkikik geli melihat semburat merah di wajah Camelia. Jujur, sebenarnya dia juga baru pertamakali melakukan hal itu, ya sama seperti Camelia, dan dia juga masih bisa merasakan apa yang dia rasakan semalam.


"Kenapa Kakak tertawa?" tanya Camelia


Kent tersenyum. Dia tidak menjawab apa yang di tanyakan Camelia namun menggantikannya dengan sebuah kecupan.


"Aku akan mandi lebih lebih dulu. Sepertinya aku harus ke kantor, ada yang harus aku urus di sana."


Kent dengan cepat menggeleng. "Tidak usah, hari ini kau istirahat saja di rumah, aku yakin kau tidak nyaman untuk bergerak, aku tidak akan pulang malam, aku janji aku tidak akan lama."


Camelia semakin menenggelamkan kepalanya di balik selimut. Kenapa Kent harus mengatakan itu, tadi dia sudah sangat malu, dan sekarang malah lebih malu lagi. Kent benar-benar tidak bisa di percaya. Dia tidak bisa membaca perasaan Camelia.


"Kakak cepatlah mandi!" teriak Camelia dari balik selimut.


Kent tertawa. Dia menepuk kepala Camelia yang berada di dalam selimut. Istrinya itu sangat lucu, Kent menjadi tidak tahan untuk menganggunya.


****


Dua puluh menit kemudian, Kent sudah keluar dari dalam kamar mandi. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat Camelia sudah duduk di depan meja rias. Sejak kapan Camelia ada di sana, bukankah tadi dia masih berbaring, dan baju yang Camelia kenakan kan pun bukan baju yang semalam, itu artinya Camelia sudah berganti pakaian.


"Kau sudah mandi?" tanya Kent memeluk Camelia dari belakang. Dia masih bertelanjang dada dan hanya bagian bawahnya saja yang tertutup handuk.


Camelia tersenyum lalu mengangguk. "Aku sudah mandi, dan sudah siap untuk pergi ke kantor."


Kent melepaskan pelukannya. Dia menatap Camelia lekat dari pantulan cermin yang ada di depannya.


"Apa maksudmu? Bukankah tadi aku sudah bilang kau istirahat saja di rumah hari ini?"


Camelia beranjak dari duduknya lalu memutar tubuhnya dan berdiri tepat di depan Kent. Dia menatap mata Kent dalam. Sebuah senyuman tipis muncul dari bibir kecil nya.


"Aku harus menyelesaikan sesuatu Kak. Kau juga sudah tahu apa yang harus aku lakukan bukan?"


Camelia menaik turunkan alisnya. Kent yang melihat itu mengerti, dia tidak bisa membantah perkataan istrinya lagi.


"Baiklah, kau boleh ikut ke kantor hari ini, tapi ingat, kalau kau tidak nyaman berjalan, bicaralah padaku, aku akan membantumu."


Camelia refleks memukul dada Kent menggunakan tangannya. Kenapa Kent harus membahas itu lagi, Camelia sudah mengatakan kalau dia baik-baik saja. Kenapa Kent malah terus membahasnya lagi dan lagi.


Grepppp ...


Kent menarik tangan Camelia membuat tubuh wanita cantik itu menempel pada tubuh bagian depannya. Jantung keduanya derdetak tak karuan, apalagi kondisi Kent yang tidak mengenakan pakaian membuat Camelia bisa menyentuh tubuh bagian atas suaminya dengan leluasa.


"Kakak apa yang ingin kau lakukan?" tanya Camelia mulai gugup karena Kent semakin mendekatkan wajahnya.


Camelia ingin kabur namun pinggangnya di peluk erat oleh Kent. Bagaimana dia bisa kabur kalau posisinya saja sudah tidak memungkinkan.


"Kak kita akan terlambat!"


Kent tidak menggubris perkataan Camelia, dia masih terus mendekatkan wajahnya meskipun Camelia terus mundur.


"Kakak! Kalau Kakak terus melakukan ini, sebaiknya kita bercerai saja."


...To Be Continued....