
7 bulan kemudian. Seorang wanita sedang uring-uringan karena masalah pekerjaannya. Viola, wanita cantik itu sudah tidak bekerja sebagai seorang model karena namanya sudah di blacklist oleh Samantha. Kehidupan Viola seperti di jungkir balik kan secara paksa. Dia sudah tidak bisa melakukan apa yang dia mau. Viola harus menurut kepada atasannya. Ya, Viola hanya seorang manager di perusahaan ayahnya. Itu ayahnya lakukan sebagai hukuman karena Viola tidak bisa menjaga pernikahannya dengan Kent.
"Dasar bedebah tua. Aku tidak ingin menjadi pegawai biasa seperti ini. Paling tidak aku harus menjadi seorang direktur. Awas saja Ayah, aku akan merebut posisimu. Bagaimanapun caranya, aku akan mendapatkan posisi itu.
Sementara di tempat lain, Camelia juga Kent dan keluarga mereka sedang mengadakan pesta kecil-kecilan. Rencananya dua hari lagi Camelia akan melakukan operasi sesar untuk melahirkan anaknya.
"Makan yang banyak sayang!" Kent menaruh berbagai lauk di piring Camelia. OCD yang Kent derita sudah jauh lebih baik. Mungkin itu karena selama ini Kent selalu mengurus Camelia dan tanpa dia sadari dia selalu menyentuh barang atau apapun yang sebelumnya belum pernah dia sentuh.
"Kakak makan yang banyak juga ya!" Camelia tersenyum sembari menaruh sayur juga lauk yang lain di piring suaminya.
Zinnia terlihat bahagia melihat anak semata wayangnya sangat bahagia. Camelia terlihat sangat berseri-seri. Mungkin karena dia juga sedang mengandung, dia memiliki aura yang berbeda.
Keluarga mereka adalah keluarga besar yang sangat bahagia. Bahkan kini anggota keluarga mereka akan bertambah. Ashana yang dulu sangat membenci Camelia kini menjadi orang pertama yang selalu memperhatikan kesehatan, juga keselamatan Camelia dan calon cucunya.
Ketika semua orang sedang sibuk dengan apa yang mereka lakukan, tiba-tiba Camelia berdiri dari duduknya membuat semua orang menoleh menatap dirinya.
"Aku hanya ingin ke kamar mandi. Kalian lanjutkan saja makannya."
Sore itu mereka memang melakukan acara makan-makan di samping rumahnya Kent. Lebih tepatnya di taman.
"Aku akan menyusul Bella dulu!" Kent beranjak dari duduknya bermaksud untuk mengikuti sang istri. Namun baru akan membuka pintu Kent mendengar sesuatu yang jatuh dari arah kamarnya. Dengan cepat Kent berlari sekuat tenaga. Jantungnya berdegup tak karuan. Orang-orang yang tadi sedang fokus makan pun terlihat panik ketika melihat Kent berlari dengan sangat cepat.
"Apa yang terjadi?" Ashana bertanya kepada Zinnia. Namun Zinnia juga tidak tahu. Bukankah sejak tadi mereka terus bersama. Navarro dan Davindra langsung beranjak dan berlari ke dalam rumah.
"Baby!" Kent berteriak melihat Camelia sedang meringkuk di samping ranjang sembari memeluk perutnya.
"Kakak! Kakak sakit. Hikssss."
Hanya itu yang keluar dari bibir Camelia. Kent segera berjongkok lalu memangku tubuh Camelia. Dalam keadaan kalut dia membawa tubuh wanita cantik itu keluar dari kamar.
Mertua dan orangtuanya terlihat sangat panik. Apalagi ketika mereka melihat darah memenuhi baju juga betis Camelia.
"Apa yang terjadi dengan Bella Kent. Anak Mama kenapa?"
"Kent akan membawa Camelia ke rumah sakit. Ayah, tolong siapkan mobilnya."
Navarro dengan cepat menuju mobilnya. Begitupun dengan Navindra. Dia membukakan pintu mobil untuk Kent dan Camelia. Sementara dua wanita paruh baya menunggu Davindra mengendarai mobil yang lain agar mereka bisa berangkat bersama. Air mata mengalir dari pelupuk mata kedua wanita paruh baya itu.
Ashana berlari menuju mobilnya, sedangkan Zinnia dan Davindra pergi menggunakan mobil yang lain. Hari itu keadaan semua orang terlihat sangat kacau. Tidak ada yang berani bersuara. Mereka tenggelam dengan pemikiran mereka masing-masing.
"Kak!" Kembali suara Camelia terdengar sangat lirih. Kent menoleh sembari mengelus wajah Camelia lembut. "Ada apa Baby? Ini pasti sangat sakit. Kau harus bertahan Sayang. Kita sebentar lagi akan sampai di rumah sakit." Kent terlihat lebih kuat dari yang lain namun sebenarnya di sedang menahan tangis. Bahkan ketika dia berbicara kepada Camelia, suaranya bergetar. Sekuat apapun Kent menyembunyikan kekhawatiran juga kegugupannya, itu malah terlihat sangat jelas.
"Kak. Tolong hubungi Samantha. Aku mohon hubungi dia Kak. Aku ingin bertemu dengannya." Camelia berbicara sembari mencengkram kuat tangan Kent. Rasanya Camelia sudah tidak bisa menahan rasa sakit di perutnya. Pikirannya sudah kacau tak karuan. Jika Camelia di beri pilihan, dia akan memilih untuk menyerah. Sakit di perutnya ini sangat luar biasa. Semua badannya menjadi sangat ngilu. Bahkan untuk sekedar membuka mata saja rasanya Camelia sudah tidak sanggup.
"Baby, tetaplah sadar. Aku janji, aku akan menghubungi Samantha. Dia akan menemui mu Baby. Jangan tidur Sayang. Tatap aku, pikirkan saat-saat kita bersama. Aku yakin kita bisa melewati semua ini."
Camelia menunjukan senyumannya meskipun sangat tipis. Camelia melihatnya, gambaran dimana dia yang begitu bahagia bersama Kent. Bayangan dimana semua orang yang ada didekatnya sangat menyayanginya. Namun wajahnya mendadak sendu ketika dia mengingat bagaimana anggota tubuhnya perlahan menghilang seperti embun. Camelia sendiri sampai tidak sadar kalau tadi dia tiba-tiba menjatuhkan dirinya ke lantai. Perasaan dejavu dimana dirinya sedang mendapat pukulan dari teman-temannya tiba-tiba saja muncul.
****
Para perawat dan dokter berlari menuju mobil Navarro. Mereka semua bergerak dengan sangat cepat. Setelah Kent membaringkan Camelia di atas hospital bed, para perawat dan dokter kembali berlari sembari mendorong hospital bed itu.
"Kau harus bertahan Baby, apapun yang terjadi kau harus bertahan. Aku akan menunggumu. Aku akan terus berada di sampingmu. Jangan pergi dariku. Aku tidak akan pernah mengijinkan itu terjadi. Tetaplah berada di sisiku.
Kent menempelkan kedua telapak tangannya di pintu kaca IGD. Dia menyaksikan semuanya. Bagaimana para dokter sedang berusaha untuk menyelamatkan Camelia.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter berjalan kearahnya. Pintu IGD itu terbuka. Dokter itu melepas masker yang dia kenakan lalu mendekat ke arah Kent.
"Tuan, sepertinya kita harus melakukan operasi sekarang juga. Kalau tidak, ini akan sangat berbahaya untuk bayi maupun untuk ibunya. Jika Anda menyetujui operasi ini, Anda bisa mengurus administrasi nya dan juga kami memerlukan tanda tangan Anda sebagai wali pasien. Anda suaminya bukan?"
Kent mengangguk. Tanpa dia sadari air matanya menetes membuat dokter itu sangat iba kepadanya. "Tuan harus sabar. Kami akan mengupayakan yang terbaik untuk menyelamatkan istri dan anak Anda Tuan." Dokter itu menepuk bahu Kent lalu kembali ke ruang IGD.
Kent dengan segera menghapus air matanya. Dia berlari dengan sisa-sisa kekutan yang dia miliki. Semua orang yang tadi sempat menemani Kent hanya bisa tertunduk lesu sembari terus berdoa untuk keselamatan Camelia juga cucu mereka.
To Be Continued.