Extraordinary Love

Extraordinary Love
Keributan di Pagi Hari



"Kau gila!"


"Kau yang gila!"


"Kau itu yang gila!"


"Kau!"


Camelia mengerejapkan matanya ketika mendengar kegaduhan di luar kamar. Matanya perlahan terbuka. Dia menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya dari dinginnya malam, matanya melirik ke sisi ranjang, suaminya tidak ada. Apa dia sudah bangun.


Jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh pagi. Pantas saja Kent tidak ada, dia paati sedang mandi.


"Sudah bangun?"


Suara maskulin Kent membuat Camelia menoleh dan tersenyum. Dia merentangkan tangannya meminta Kent untuk mendekat. Suaminya itu baru beres mandi, terlihat dari jubah mandi yang dia kenakan dan rambut basah yang masih meneteskan air dari ujung rambut hitamnya.


"Di luar ada ribut apa?"


Kent menggeleng. Dia sejak tadi berada di kamar mandi, jadi dia tidak tahu di luar ada keributan apa. Laki-laki itu mengelus punggung Camelia lembut. Meskipun Camelia baru bangun tidur, tubuhnya harum seperti harum bayi. Bau keringatnya sangat berbeda dengan bau keringat kebanyakan orang pada umumnya.


"Akhhhhh!"


Teriakan dari luar kamar membuat Kent mau tidak mau melepas pelukannya.


"Sepertinya itu Melodi Kak, aku akan memeriksanya," ucap Camelia masih dengan mata yang sedikit mengantuk.


"Kalau kau masih mengantuk, aku akan melihat keluar," ucap Kent yang langsung di balas gelengan oleh Camelia.


"Jangan berani-berani menunjukkan tubuh **** mu pada wanita lain Kak, aku tidak menyukainya."


Kent terkekeh. Dia mengecup kening Camelia sekilas lalu membantu Camelia untuk bangun.


Kaki jenjang itu melangkah keluar dari kamar sambil mengikat rambutnya ke atas. Dia menuruni anak tangga dengan perlahan. Matanya menatap sosok Viola dan Melodi yang sedang jambak menjambak dan tarik menarik rambut satu sama lain.


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


"Hentikan!" teriak Camelia ketika dua orang di hadapannya tidak mau menghentikan aksi perkelahian yang sedang mereka lakukan. Kenapa pagi-pagi seperti ini harus di awali dengan sebuah perkelahian, apa tidak ada olahraga jenis lain yang tidak menimbulkan keributan dan tidak mengganggu orang lain.


Viola dan Melodi menoleh. Mereka menatap Camelia sengit lalu kembali melanjutkan aksi mereka.


"Astaga, aku bisa gila," ucap Camelia menepuk jidatnya pusing. Nyawanya belum sepenuhnya kembali tapi dia sudah harus melerai perkelahian, untung mood nya sedang baik, kalau tidak, Viola dan Melodi pasti sudah habis di tangannya.


"Bibi Indri!"


Camelia berteriak membuat semua orang yang sedang bekerja di rumah itu berkumpul. Mereka semua sudah tahu, meskipun yang di panggil hanya Indri, tapi jika nyonya kecil mereka berteriak, mereka akan langsung berkumpul karena itu sama saja seperti sebuah pemberitahuan kalau di rumah itu sedang ada keadaan darurat.


Semua pelayan sudah berjejer di hadapan Camelia, termasuk sopir dan juga penjaga di rumah itu.


"Kalian usir dua orang ini dari sini, kalau mereka masih melawan, pukul saja mereka sampai mereka sadar dan tidak lagi membuat keributan."


Viola dan Melodi langsung menghentikan perkelahian mereka. Melodi dan Viola menatap Camelia dengan tatapan tidak percaya. Kenapa Camelia memberikan perintah seperti itu? mereka hanya berkelahi biasa, Camelia keterlaluan kalau dia sampai meminta para pelayan di rumah itu untuk mengusir mereka.


"Hei Garbera! apa yang kau lakukan? memang kau siapa sampai kau berani mengusirku hah?"


"Kau mau ke mana Garbera!" teriak Viola. Wajahnya memerah seperti buah tomat matang.


Dia ingin menarik rambut Camelia namun tangan Melodi lebih cepat dari tangannya. Viola sampai memekik kesakitan. Dia memegang tangan Melodi yang menarik rambutnya.


"Lepaskan tangan mu wanita bar-bar. Kau benar-benar minta di hajar. Keluar dari rumah ku!" teriak Viola marah.


Melodi melepaskan tangannya. Dia menatap Viola sengit. "Aku tidak akan keluar dari rumah ini. Hanya Camelia yang berhak mengusir ku."


Wllleeee....


Viola menggeram ketika Melodi menjulurkan lidahnya lalu berlari ke lantai atas dan masuk ke kamar Camelia. Dia menghentakkan kakinya di atas lantai sambil terus menggerutu.


"Wanita bar-bar!"


Viola berteriak dengan suara 6 oktaf itu melengking membuat para pelayan menutup telinga mereka. Kalau sampai suaranya naik satu oktaf lagi,.mungkin semua lampu dan barang-barang yang ada di sana akan hancur berkeping-keping.


"Nyonya pertama maafkan kami. Tapi Nyonya kecil sudah meminta Nyonya untuk tidak membuat keributan. Kalau sampai Nyonya pertama melakukan nya lagi, kita akan dalam masalah Nyonya."


Bibi Indri bicara sambil menunduk. Dia tahu, tidak seharusnya dia mengatakan itu pada Viola, tapi kalau Nyonya Kecil mereka sudah memerintahkan sesuatu, sangat tabu bagi mereka untuk tidak mematuhi perintah itu. Kecuali Viola, semua orang yang ada di rumah itu tahu kalau Camelia adalah orang sepesial untuk tuan mereka.


Seisi rumah itu tahu kalau Kent mulai terbiasa dengan Camelia, dia juga bisa merubah kebiasaan terlalu bersihnya jika itu menyangkut Camelia. Bahkan salah satu pelayan pernah melihat Kent minum dari gelas bekas minum Camelia.


"Kalian siapa hah? berani memerintah ku? kalian mau aku pecat?" teriak Viola.


"Maafkan kami Nyonya," ucap Indri. Dia dan pelayan yang lain membungkuk hormat pada Viola.


Sementara di dalam kamar. Camelia sedang bersiap untuk mandi. Tapi sebelum itu terjadi, dia melihat Kent yang sedang bercermin sambil berusaha untuk menyimpulkan dasi di lehernya.


"Biarkan aku membantu mu Kak!"


Camelia menarik dasi Kent lalu menariknya mendekat ke arah kursi. Dia naik ke kursi itu lalu mulai menyimpulkan dasi untuk Kent. Tingginya dan Kent memang terlampau cukup jauh. Dia yang memiliki tubuh langsing terlihat agak jenjang, padahal jika di jejerkan dengan orang yang tingginya 185 cm dia terlihat sangat mungil.


Camelia yang hanya memiliki tinggi sekitar 158 cm harus naik ke atas kursi supaya dia bisa lebih leluasa untuk memakaikan dasi untuk Kent.


"Apa semuanya sudah beres?" tanya Kent. Dia mendongak melihat wajah Camelia yang sekarang berada di atas wajahnya.


"Sudah Kak. Ternyata yang membuat keributan itu Kak Viola dan Melodi. Aku tidak tahu apa yang mereka ributkan. Tapi, mereka sepertinya sudah menjadi musuh sejati.


Kent tersenyum. Dia memangku tubuh Camelia setelah istri cantiknya itu selesai melakukan kegiatannya.


"Kak, apa yang kau lakukan? kau mau membawaku ke mana?" pekik Camelia ketakutan.


Kent tidak menjawab Camelia. Dia membawa tubuh mungil itu masuk ke kamar mandi dan menurunkan nya di bawah shower.


"Hari ini kau tidak ada jadwal kuliah, ikutlah bersama ku ke kantor. Ada banyak pekerjaan yang harus kita lakukan."


"Kakak kau sudah mandi. Menjauhlah!"


...To Be Continued....