Extraordinary Love

Extraordinary Love
Keheranan Kent



Kehilangan Camelia adalah satu hal yang terlarang untuk Kent. Bagaimana tidak, Camelia adalah cinta pertama sekaligus wanita pertama yang bisa dia sentuh. Sampai kapanpun, Kent tidak akan pernah bisa melepaskan Camelia. Siapapun yang berani mengganggu istrinya, Kent tidak akan segan-segan untuk berbuat kejam.


"Bajingan mana yang mau main-main denganku. Sepertinya dia sudah bosan hidup."


****


Camelia mengerejapkan matanya perlahan. Kepalanya sangat pusing juga berdenyut. Obat bius itu membuat Camelia tidak sadar untuk beberapa jam.


"Kau sudah bangun Bella?" Suara nyaring seseorang membuat Camelia menoleh ke samping ranjang tempat dia berbaring sekarang. Matanya membulat melihat siapa yang ada di hadapannya.


"Kak Viola, Tuan Andreas. Kenapa kalian,- ucapan Camelia terpotong lantaran beberapa orang tiba-tiba masuk ke kamar itu. Sekiranya ada 5 orang laki-laki berperawakan tinggi besar masuk tanpa mengenakan pakaian. Hanya sepotong kain kecil yang menutupi area terlarang di tubuh bagian bawah mereka.


"Mau apa kalian?" Camelia bergerak mundur merasa takut karena orang-orang itu berjalan mendekat ke arah ranjang. Jantungnya berdegup tak karuan. Tangannya meraih bantal-bantal yang ada di sampingnya lalu melemparkan bantal-bantal itu kepada beberapa laki-laki yang kini sudah mulai naik merangkak di atas ranjang king size yang di dominasi warna putih.


"Pergi! Jangan sentuh aku!"


Teriakan Camelia menimbulkan gelak tawa pada dua orang yang kini sedang duduk santai sembari menenggak cairan berwarna merah kehitaman. Seringai muncul di bibir Andreas. Dia berdiri dari kursinya lalu mendekat ke arah Camelia. Akhirnya apa yang dia inginkan akan terwujud. Menyentuh wanita Kent Malory adalah hal yang sangat luar biasa. Kecantikan Camelia yang paripurna membuat siapa saja yang melihatnya langsung terpesona. Tubuh mungil juga wajah polosnya menjadikan Camelia terlihat seperti seekor kelinci yang wajib di pelihara.


"Hentikan!" Titah Andreas kepada orang-orang yang ingin menyentuh Camelia. "Aku ingin mencicipinya lebih dulu. Kalau kalian mau, kalian boleh mencicipi wanita ini setelah aku puas."


Camelia gelisah. Terlihat dari buliran keringat yang keluar membasahi pelipisnya. Dia harus mencari cara untuk keluar dari situasi seperti ini. Camelia tidak bisa membiarkan dirinya di tindas. Apa yang akan Camelia lakukan jika dia sampai disentuh para bajingan ini, hidupnya akan hancur. Bahkan mungkin Camelia akan kehilangan suaminya.


"Tunggu! Tunggu Tuan Andreas." Kedua tangan Camelia menghadang dada Andreas yang sedikit lagi akan menyentuh dirinya. "Aku sedang mengandung. Kau tidak bisa melakukan ini. Kau akan membuat aku kehilangan bayiku. Aku mohon jangan lakukan ini. Aku akan melakukan apapun asal kau melepaskan ku. Aku mohon Tuan!"


Melihat Camelia yang memohon dengan wajah yang sendu tak lantas membuat Andreas iba. Laki-laki biadab itu malah menarik salah satu ujung bibirnya. Tangannya terulur memainkan rambut Camelia lalu menyentuh wajah Camelia lembut. "Cih. Kau sangat naif Sayang, kau pikir aku akan melepaskan mu kalau kau mengatakan semua itu. Orang pernah mengatakan kalau menikmati wanita hamil lebih enak daripada wanita lajang." Andreas berbisik di dekat telinga Camelia membuat wanita itu bergidik ngeri. Sepertinya dia tidak bisa menahan kegilaan Andreas lebih lama. Camelia melirik Viola berharap wanita itu mau membantunya. Namun, Viola malah tersenyum menapakkan hampir seluruh deretan giginya.


Hati Viola semakin panas ketika mendengar kabar kehamilan Camelia. Lantas, apakah mungkin jika dia mau membantu Camelia? Dia sudah mengorbankan harga dirinya untuk bisa membalas dendam kepada Camelia. Untuk apa dia menolong wanita hamil itu. Sia-sia saja segala usaha juga pengorbanannya.


Brakkkkk ...


****


Dalam mobil, Kent masih terus berusaha untuk mengikuti sinyal GPS yang dia pasang di ponsel Camelia. Namun ketika dia melihat sinyal itu berhenti di suatu tempat, mobil Kent berhenti di dekat sebuah danau yang sangat besar. "Bajingan. Mereka pasti membuang ponsel Bella. Dasar biadab."


Bughhhhh!


Kent memukul stir mobilnya cukup keras. Kepalanya dia bentur-benturkan di atas stir mobil.


"Arghhhhhhhhh!"


Kent berteriak sembari menjambak rambutnya kuat. Sekarang apa yang harus dia lakukan? Kemana dia harus pergi. Kent berusaha mencari tahu kemungkinan-kemungkinan dimana Camelia di sembunyikan, namun lagi-lagi, Kent tidak menemukan apapun.


Drtzzzzz ...


Drtzzzzz ...


Drtzzzzz ...


Kent mengambil ponselnya lalu menempelkan ponsel itu di daun telinga. "Bagaimana Dev, kau sudah menemukan Bella?"


"Tuan, aku sudah mencari bantuan kepada seseorang. Nyonya Bella ada di gedung xxx ."


Tanpa mendengarkan penjelasan Devano lebih lanjut, Kent yang kala itu sedang kalut, langsung melempar ponselnya sembarangan dan melesat pergi menuju tempat yang tadi Devano tunjukan.


Beberapa menit kemudian, dia menemukan gedung yang tadi di sebutkan oleh Devano. Gedung itu bukan gedung mewah namun juga tidak bisa dibilang biasa saja. Orang yang memiliki gedung ini pasti adalah orang yang berpengaruh juga memiliki banyak uang.


Kent keluar dari mobil dengan tergesa. Langkahnya cepat. Matanya menatap lurus ke depan dengan kilatan api yang merah menyala. Gemuruh di dadanya seperti suara gunung merapi aktif yang akan meletus.


Namun, keningnya berkerut ketika dia mendobrak pintu utama bangunan itu, keadaan di sana sangat hening. Tidak ada siapapun di sana. Tempat itu rapih dan bersih. Apa mungkin jika ini adalah tempat yang benar? Namun dia sudah berusaha untuk menghapal alamat yang diberikan Devano. Tidak mungkin dia salah.


Sayup-sayup terdengar suara perempuan berteriak di sebuah ruangan yang sepertinya ada di sayap kiri bangunan itu. Kent berjalan ke arah sumber suara, dalam hati dia berharap kalau di ruangan itu memang benar-benar ada istrinya.


Pintu ruangan itu terbuka sejak awal. Kent mengambil sesuatu dari balik jas yang dia pakai. Beruntung dia mempersiapkan berbagai alat yang bisa dia pakai di saat dia membutuhkannya seperti sekarang. Devano selalu bekerja dengan baik, semua kebutuhannya tersusun secara rinci.


Kent melangkah perlahan. Dia memposisikan kedua tangannya berada di bagian depan karena tangan itu memegang sebuah pistol untuk berjaga-jaga.


Tak.


Kent berhenti di depan pintu ruangan itu. Ternyata itu adalah pintu kamar. Kent melihat puluhan orang berseragam hitam berlutut di depan seorang wanita cantik. Wanita itu sangat angkuh dan arogan. Terlihat dari caranya menyilangkan kaki juga mulut yang handal mengeluarkan kepulan asap putih. Di jarinya terselip sebatang rokok yang entah rokok apa itu, namun terlihat sangat cocok di jari sang wanita.


"Bella!"


Kent bersuara sembari melihat istrinya yang kala itu berdiri tepat di samping wanita yang kini juga sedang menatapnya.


"Kakak!"


Camelia berteriak kencang. Dia berlari menghampiri sang suami lalu memeluk lehernya erat. "Kakak, Kakak kemana saja? Kenapa membiarkan Camelia menunggu terlalu lama?"


Kent mengecup pucuk kepala istrinya lembut. Kent sangat bersyukur karena ternyata istrinya baik-baik saja. "Maafkan aku Baby, maafkan aku. Maafkan aku."


Kalimat itu terus terulang membuat Camelia yang tadinya sedih mendadak ingin tersenyum. Alhasil Camelia tertawa meskipun matanya mengalirkan buliran air bening.


"Apa yang terjadi Baby?"


Kent melepas pelukan Camelia lalu menatap mata Camelia dalam.


"Sebenarnya."


To Be Continued.