Extraordinary Love

Extraordinary Love
Kemarahan Kent



Kent berjalan dengan tergesa memasuki area perusahaan nya. Camelia sudah berusaha untuk menenangkan Kent namun laki-laki itu tetap berperangai menakutkan wajah dinginnya, serta tanduk di kepalanya membuat siapa saja yang terlewati oleh Kent bergidik ngeri dan langsung merasa kedinginan.


Camelia mengikuti Kent. Begitupun dengan Devano. Kent sudah melarang Camelia untuk ikut, namun bukan Camellia namanya kalau dia tidak bisa membantah permintaan Kent. Malam ini emosi Kent sedang ada di puncak gunung, Camellia takut Kent akan melakukan hal yang kurang baik pada karyawannya.


"Selamat malam Tuan," sapa orang-orang yang ada di ruang meeting. Camelia membungkuk mengindahkan sapaan dari para karyawan suaminya. Kenapa mereka harus repot-repot menyapa Kent, padahal yang disapa sedang tidak membutuhkan hal itu.


"Apa yang terjadi?" tanya Kent langsung pada poin pentingnya. Camelia duduk agak jauh dari meja meeting bersama dengan Devano. Dalam hati dia terus menggerutu. Camelia marah pada penulis novel, kenapa dia selalu memberikan masalah di saat Camelia dan Kent baru saja merasa tenang setelah masalah lama terselesaikan. Dunia novel ini membuat Camelia bingung. Ada beberapa yang berubah dari jalan cerita yang sesungguhnya. Apakah mungkin novel ini menembus ke novel lain? Atau alurnya memang berubah karena Camelia merubah alur ceritanya? Akh sudahlah! Camelia hanya berharap penulis akan memberikan sedikit kerendahan hatinya untuk tidak menuliskan konflik yang terlalu berat.


"Kenapa ini bisa terjadi Devano?" tanya Camelia pada sekertaris sekaligus tangan kanan suaminya.


Devano menghela napas panjang lalu menghembuskan-nya perlahan. "Sepertinya ada yang tidak suka dengan Tuan, ada satu perusahaan yang mengklaim kalau desain arsitektur yang Tuan buat untuk sebuah perusahaan kosmetik di Eropa menggunakan nama perusahaannya. Kita di tuntut jutaan dolar karena di tuduh melakukan palgiarisme."


Camellia menggelengkan kepalanya. Pantas saja Kent mengeluarkan tanduknya. Bukan karena dia harus mengganti uang ganti rugi, namun, harga dirinya sebagai seorang arsitektur di pertaruhkan di sini. Kalau sudah begini, Camelia hanya bisa menunggu dan mengawasi apa yang akan dilakukan oleh suaminya. Kasus plagiarisme memang sering terjadi, namun, Kent tentu saja tidak pernah melakukan hal licik seperti itu.


"Apa kalian sudah meninjau desain mana yang di anggap mirip dengan desain yang aku buat? Mereka tidak bisa asal menuduh seperti itu. Selama ini aku sangat jarang membuat desain arsitektur. Hanya beberapa perusahaan yang beruntung yang bisa mendapatkan desain arsitektur dari tanganku sendiri. Apa kalian juga meragukan ku?" Kent bertanya sembari memperhatikan puluhan orang yang berjejer rapi di kursi di depannya.


"Kami percaya kepada Anda Tuan, namun sepertinya pesaing kita itu sudah menyiapkan ini dari jauh-jauh hari. Mereka benar-benar sudah mengincar kita sejak lama. Bahkan para ahli masih bingung membedakan cetak biru mana yang di buat lebih dulu, apakah itu cetak biru milik perusahaan kita atau perusahaan pesaing."


Brakkkkk!


Semua orang terperanjat saat Kent menggebrak meja dengan kuat, tak terkecuali Camelia dan Devano, mereka berdua mengelus dada mereka sambil menghembuskan napas perlahan.


"Dev, Bos mu itu sangat menakutkan kalau sedang marah."


Devano mengangguk. Dia tidak bisa berkata apa-apa tentang ini, melihat Kent yang marah seperti raja iblis saja Devano sudah sangat takut, mana bisa dia berkomentar tentang seberapa menakutkannya Kent bagi dia dan juga bagi karyawan yang lain. Di tempat ini hanya Camelia yang terlihat cuek dan biasa saja. Padahal yang lain sudah mengeluarkan keringat dingin bahkan kaki mereka yang ada di bawah meja sudah bergetar sejak tadi.


"Aku menggaji kalian bukan untuk bersenang-senang. Ketika perusahaan ini mengalami masalah seperti sekarang, seharusnya kalian amati, teliti, dan berikan data serta fakta yang akurat. Apakah kalian melaporkan masalah ini kepadaku karena kalian ingin menyuruhku bekerja untuk menyelidiki masalah ini sendiri hah? Pikir pakai otak!"


Camelia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, dia tidak bisa membiarkan ini terus terjadi, Kent hanya akan membuat semua karyawan yang ada di perusahaan itu takut, bagaimana mereka bisa bekerja dengan baik nantinya kalau Kent memberikan tekanan yang besar seperti ini.


Camelia beranjak dari duduknya. Dia berjalan mendekati Kent lalu menyentuh lengan Kent dan mengusap nya perlahan. "Izinkan aku yang berbicara ya Kak!" pinta Camelia yang hanya di balas tatapan oleh suaminya.


"Maaf karena aku menyela apa yang sedang kalian bicarakan. Kalian pasti sudah tahu apa yang sedang terjadi bukan? Kalian juga sudah tahu dan sudah paham mengenai masalah ini dari siapapun. Aku akan memberikan perintah pada kalian atas nama suamiku, kalian lanjutkan pekerjaan kalian. Bawa bukti dan fakta sebanyak yang kalian bisa. Aku akan memberikan kalian waktu 42 jam, kalau kalian masih tidak sanggup, dengan sangat berat hati aku akan mengatakan kalau kalian pasti akan kehilangan pekerjaan kalian."


"Kalau kalian semua sudah mengerti, kalian bisa keluar dari ruangan ini," ucap Camelia mengakhiri pertemuan para karyawan malam itu.


"Kak! Jangan menekuk wajahmu seperti itu, meskipun kau masih sangat tampan, tapi aura yang keluar dari wajahmu itu sangat menakutkan. Masalah ini sudah terjadi, daripada marah-marah, sebaiknya kita mulai menyelesaikan masalah ini perlahan oke!"


Kenta menatap Camelia. Dia menarik pinggang Camelia lalu mengecup bibir istrinya dengan rakus, meskipun pada awalnya ciuman yang dia lakukan sangat kasar, namun lambat laun ciuman itu semakin lembut dan semakin hangat.


Devano meruntuki kebodohannya. Dia mendadak panas dingin menyaksikan apa yang terjadi di depan matanya. Untung saja karyawan lain sudah pergi, kalau belum, mungkin mereka akan merasakan apa yang sedang Devano rasakan. Sekertaris Kent itu berjalan menyamping. Dia memutuskan untuk ikut keluar karena memang dia tidak pantas ada di antara Tuan dan Nyonya saat ini.


"Selamat bersenang-senang," ucap Devano menutup pintu ruangan itu pelan.


"Kau mau ke amana?" tanya Devano pada salah satu karyawan yang hendak masuk ke ruang meeting.


Karyawan itu menautkan alisnya bingung dengan tingkah Devano. "Aku mau mengambil beberapa berkas dan pulpen yang tertinggal di dalam. Apa tidak boleh?" tanya karyawan itu pada Devano. Dengan cepat Devano menggelengkan kepalanya.


"Akh maaf, Tuan dan Nyonya sedang membahas masalah penting. Kau bisa langsung di pecat kalau sampai tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Sebaiknya kau pergi dulu saja! Nanti aku akan mengambilkan berkas dan pulpen yang kau maksud."


Karyawan itu mengangguk. Dia melirik ruang meeting sebentar lalu pergi meninggalkan Devano. Dia tentu saja tidak ingin kehilangan pekerjaan karena salah mendengar pembicaraan yang sedang dilakukan oleh atasannya.


"Oh syukurlah, sebaiknya kalian berterimakasih padaku," ucap Devano pada orang yang masih ada di ruang meeting.


Perlahan Kent melepaskan tautannya. Dia menangkup wajah Camelia dengan kedua tangan besarnya. "Maafkan aku Baby, aku malah menyakitimu," ujar Kent di depan bibir istrinya.


"Aku baik-baik saja Kak. Aku mengerti dengan kegelisahan yang sedang kau rasakan. Tidak masalah kalau kau melampiaskan kekesalan mu padaku. Tetapi jangan melakukan itu pada orang lain."


Kent mengangguk. Dia mengecup bibir, dan juga seluruh bagian wajah Camelia satu persatu. "Terima kasih karena sudah menjadi istriku Baby."


...To Be Continued....


Promosi dulu Akh ... Mampir ke karya terbaru author yuk! judulnya terpaksa menikahi om-om. Semoga suka ya.