
Flash back on.
Brakkkkk!
Tepat sebelum bibir Andreas mengecup bibir Camelia, pintu kamar itu dibuka dengan kasar dari arah luar, wanita cantik dengan tubuh tinggi sampai masuk dengan anggun. surainya yang hitam, mata coklatnya yang mengkilap, juga bibir merahnya yang siap melahap mangsa benar-benar membuat wanita itu terlihat sangat keren. Di belakangnya ada segerombolan laki-laki dan perempuan yang mengenakan setelan hitam lengkap dengan kacamata hitam, earphone, juga pistol di tangan mereka. Andreas menoleh, lututnya mendadak lemas, matanya membulat dan tangannya bergetar. Semakin wanita itu masuk, Andreas semakin takut, dia dengan segera turun dari atas ranjang lalu menghampiri wanita itu.
Viola dibuat terheran dengan kelakuan Andreas. Apa yang sedang laki-laki itu lakukan? Kenapa dia terlihat sangat gusar bahkan wajah dingin dan sangarnya hilang. Ada apa ini, sebenarnya siapa wanita dengan wajah iblis cantik di hadapannya.
"Honey, apa yang sedang kau lakukan di sini? Kenapa kau datang ke tempat kumuh seperti ini?" Andreas berusaha menyentuh perempuan itu namun perempuan itu langsung menepis tangan Andreas dan meludah di wajahnya.
"Dasar laki-laki brengsek, kau itu seharusnya bersyukur. Aku memungutmu dan menjadikanmu suamiku karena aku pikir kau akan menjadi anjing yang penurut. Namun apa ini? Kau berselingkuh di belakangku dan sekarang kau juga ingin menodai wanita yang sedang hamil? Terbuat dari apa otakmu ini? Kau lebih hina daripada seekor anjing. Kau tahu itu? Dasar laki-laki tidak berguna.
Wanita itu mendorong kepala Andreas lalu berjalan mendekati ranjang kemudian membantu Camelia untuk bangun. Dia tersenyum manis ke arah wanita cantik yang dia yakin bahwa wanita itu masih sangat ketakutan.
"Maafkan aku karena aku datang terlambat. Maaf karena kau harus mengalami hal seperti ini karena anjing gila itu."
Camelia meraih tangan wanita itu kemudian berdiri, dia tersenyum. "Tidak apa-apa Kak Samantha, aku baik-baik saja."
Samantha mengangguk dia kembali berjalan ke arah Viola. Seringai di wajahnya tiba-tiba saja muncul, senyum manisnya kepada Camelia lenyap saat itu juga.
Plakkkkkkk!
Satu tamparan mendarat di pipi Viola. Camelia meringis menyaksikan kejadian itu, Camelia tahu pukulan Samantha ini tidak bisa dibandingkan dengan pukulan orang biasa, wanita ini adalah wanita hebat. Dia adalah istri dari Andreas, Samantha adalah ketua mafia terkenal di kota itu. Desas-desus orang-orang yang mengatakan kalau Andreas adalah seorang gigolo itu tidak benar karena sebenarnya Andreas hanyalah anjing penjaga untuk Samantha. Samantha sengaja membuat Andreas terkenal supaya namanya bisa aman dan dengan orang-orang lain tahu kalau suaminya adalah seorang gigolo, posisi Samantha sebagai seorang ketua mafia akan aman.
"Apa yang kau lakukan ******?" Viola berteriak sembari memegang pipinya yang panas juga berdenyut nyeri.
"Cih. Kau bilang aku wanita ******? Mau aku tunjukan wanita ****** itu seperti apa?"
Samantha menarik rambut Viola membuat kepala wanita itu mendongak ke belakang. "Akan aku tunjukan wanita ****** yang sesungguhnya seperti apa."
Samantha melempar Viola ke hadapan orang-orang yang kala itu Samantha panggil. "Apa yang ingin kalian lakukan? Lepaskan aku! Kalian ini tidak tahu siapa Andreas. Dia akan menghancurkan kalian kalau kalian berani melakukan ini padaku."
Viola meronta sembari terus mengeluarkan ancaman kepada orang-orang itu. "Andreas! Tolong aku! Andreas!"
Teruslah berteriak ****** kau meminta tolong kepada orang yang salah. Cepat bawa pergi dia Max! Pastikan satu hal, jangan sampai dia mati. Aku ingin dia tahu dan dia paham apa arti wanita ****** yang sesungguhnya, pergi! Pergi! teriakan dari Samantha membuat orang-orang itu bergegas menarik Viola dari dalam kamar itu, beberapa orang yang lain masuk diseret oleh orang-orang yang Samantha bawa mereka semua diperintahkan untuk berlutut begitupun dengan Andreas. "Berlutut atau aku pecahkan kepalamu anjing gila!" teriak Samantha kepada Andreas.
Andreas menurut, nyalinya menciut Samantha ini memang seorang wanita, namun jangan pernah main-main dengannya karena apa yang dia ucapkan tidak pernah meleset. Ketika dia mengatakan dia ingin membunuh, maka dia akan membunuh. Namun ketika dia mengatakan kalau dia akan membuat seseorang bahagia bergelimang harta, dia pun akan melakukannya. Samantha bukan tipikal orang yang akan menjilat ludahnya sendiri, semua janji yang dia ucapkan harus terjadi.
Samantha duduk di atas ranjang seorang. bodyguard wanita juga beberapa orang yang lain menghampiri Samantha membawa sebuah meja kecil lalu menaruh gelas juga botol white dan menyelipkan sebuah rokok di jemari Samantha lalu menyalakan pematik api.
"Sekarang dengarkan aku Andreas! Dan juga kalian para pengikut anjing gila, kalian memang aku pekerjakan untuk mengikuti suami bodohku ini, tapi bukan berarti kalian harus menuruti semua perintahnya kalian melakukan semua yang dia katakan termasuk ketika dia mencoba untuk menghianatiku, kalian pikir itu benar?"
Kepulan asap putih keluar dari mulut merahnya tatkala dia menjeda kalimatnya.
"Aku serahkan mereka padamu Camelia kau adalah orang yang memberikan aku informasi ini jika kau tidak memberikan aku informasi besar ini, mungkin sampai sekarang aku masih dipermainkan oleh anjing gila itu." Maksud Samantha adalah Andreas suaminya sendiri.
Camelia kebingungan. Dia tersenyum sembari mengibaskan tangannya. "Tidak perlu, Kak Samantha, kau saja yang menghukum mereka, kau mau menolongku saja aku sudah berterima kasih. Kenapa aku memberikanmu informasi ini sebenarnya adalah karena hal ini. Aku tahu ini salah karena aku menjadi penyebab dari hancurnya rumah tangga kalian, mungkin." Camelia menekankan kata mungkin. "Tetapi akan lebih baik mengetahuinya sekarang daripada tidak sama sekali kan Kak?"
Samantha mengangguk. "Baiklah, mulai sekarang aku akan memberikan beberapa bodyguard untukmu aku anggap ini sebagai ucapan terima kasihku padamu. Aku tidak ingin menerima penolakan karena aku tidak suka berhutang Budi kepada orang lain. Jika kau tidak ingin bodyguard maka katakanlah! Hal lain apa yang kau inginkan dariku."
Camelia tersenyum. "Sebenarnya ada yang ingin aku minta darimu Kak. Namun tidak sekarang, aku akan mengatakannya padamu ketika aku sudah siap. Kakak tahu aku memiliki orang yang sangat aku cintai dan permintaanku adalah menyangkut orang itu. Aku membutuhkan ruang juga waktu yang bisa membuatku tenang. Bolehkah aku menghubungi Kak Samantha ketika aku siap?" Samantha mengangguk.
"Baiklah, jika itu keputusanmu maka terserah kau saja. Serahkan orang-orang brengsek ini padaku, biarkan aku menghancurkan mereka satu persatu."
Camelia mengangguk, ya ini memang adalah tugas Samanta. Sebenarnya dia merasa agak ngeri. Meskipun ini hanyalah dunia novel, namun rasanya ini sangatlah nyata dan Camelia sendiri menjadi bagian dari cerita novel itu.
To Be Continued.