Devi Devira

Devi Devira
Bab. 9. Kondisi Melani



Semua teman Melani gemetar saat mendengar pertanyaan tersebut, mereka sangat takut dengan ayah Melani yang merupakan pejabat negara yang sangat ditakuti oleh banyak orang.


"Katakan !." bentak ayah Melani.


"Om, Melani Melani terbentur kaki meja dikarenakan dikarenakan Devi." jawab salah satu teman Melani dengan ketakutan.


"Devi ? siapa dia ?." tanyanya lagi.


"Devi anak yang mendapatkan beasiswa dari om agar bisa masuk ke sekolah kami om." jawab teman Melani lagi.


"Brengsek ! anak itu berani berulah rupanya. Awas saja kau akan menyesal karena telah telah berani menyakiti anak ku !." ucap pria itu dengan penuh amarah.


Setelah mengatakan hal itu, ayah Melani langsung menghubungi kepala sekolah. Beliau langsung mengatakan bahwa telah menghentikan beasiswa untuk Devi.


Jadi mulai hari ini jika Devi ingin tetap menjadi siswa SMA persada harus membayar semua biaya yang dibutuhkan tanpa terkecuali.


Dan beliau juga akan meminta pertanggung jawaban Devi karena telah melukai Melani sehingga Melani harus dirawat secara intensif di rumah sakit.


Setelah mengatakan hal itu, ayah Melani terlihat diam dalam duduknya. Beliau terlihat sangat khawatir dengan keadaan Melani.


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya dokter keluar dari ruang Melani. Ayah Melani langsung berdiri dan mendekati sang Dokter.


"Dokter bagaimana keadaan anak saya ?." tanya ayah Melani dengan sangat khawatir.


"Melani baik-baik saja, hanya mengalami memar di kaki dan harus mendapatkan perawatan agar tidak menimbulkan infeksi."


"Setelah mendapatkan perawatan beberapa hari anak anda akan kembali seperti biasanya. Jadi anda jangan terlalu khawatir." jelas sang Dokter.


Setelah menjelaskan hal ini,sang Dokter berpamitan untuk melanjutkan kembali pekerjaannya di ruangan yang lainnya.


Ayah Melani segera masuk di ikuti oleh teman-teman Melani. Mereka ingin segera melihat keadaan Melani.


Melani sudah sadar dan sedang terbaring dengan kaki yang sebelah kanan di perban. Melani terlihat sangat pucat.


Ini adalah pertama kalinya ia dirawat dirumah sakit. Sehingga ia sangat takut sekali. Saat melihat kedatangan sang ayah tangis Melani langsung pecah.


Melani langsung memeluk tubuh sang ayah dengan berurai air matanya. Ayah yang mana yang tidak merasakan sakit saat melihat anaknya menangis karena terluka oleh perbuatan orang yang tidak tau terima kasih.


"Sudah sayang kau jangan khawatir, papa telah memberi pelajaran kepada anak tak tau diri itu. Air susu dibalas dengan air tuba." ucap sang ayah agar Melani Lebih tenang.


"Terimakasih papa, Melani ingin anak sialan itu dikeluarkan dari sekolah." jawab Melani dengan merajuk.


"Kau tenang saja, anak sialan itu tidak akan mampu membayar ganti rugi biaya rumah sakit dan juga menanggung biaya sekolah di SMA Persada itu." jawab sang ayah.


Melani langsung memeluk sang ayah dengan tersenyum puas. Akhirnya ia bisa membalas perbuatan Devi.


Dan yang paling penting, Devi tak akan lagi bisa bertemu dengan Devan. Lelaki yang sangat ia cintai sejak pertama masuk di SMA Persada itu.


Sementara Devira kini tengah menghubungi orang kepercayaannya. Dia duduk di bangku kelas seorang diri.


"Sekarang juga beli SMA Persada ini bagaimana pun caranya. Jika Mereka berikan dengan cara suka rela itu lebih baik."


"Tapi jika sebaliknya, gunakan dengan cara yang cantik. Aku ingin sebelum waktu pulang sekolah tiba, Sekolah ini sudah menjadi milikku." ucap Devira dengan penuh penekanan.


Setelah mengatakan hal itu Devira duduk termenung. Entah apa yang ada dalam pikirannya, sehingga bayangan Devan melintas begitu saja.


"Sial, mengapa lelaki brengsek itu mengganggu pikiran ku." ucap Devira dengan lirih.


"Ada informasi apa ?." tanya Devira langsung.


"Nanti malam King scorpio akan melakukan balap liar dengan lawan bisnisnya untuk merebutkan kekuasan wilayah di zona C." jawab orang itu dari sebrang telepon.


"Bagus, kalau begitu segera siapkan semuanya. Dan segera berikan alamat serta waktu pelaksanaannya, aku akan mengalahkan mereka semua."


"Zona C harus menjadi wilayah kita, apalagi daerah itu adalah sumber terbesar yang bisa menambah kekuatan kita." jawab Devira.


Setelah mengatakan hal itu, Devira segera keluar dari dalam kelas dan pergi menuju ruang laboratorium komputer disekolah tersebut.


Ia harus bisa memastikan semuanya aman dan terkendali dalam genggamannya. Ia harus bisa menghancurkan mafia scorpio yang telah menghilangkan nyawa Devi.


Bahkan mafia itu telah merenggut kesucian sang adik, tekad Devira untuk menghancurkan mafia scorpio benar-benar kuat.


Setelah sampai di dalam laboratorium komputer, Devira segera melancarkan aksinya. Ia duduk ditempat paling pojok belakang.


Dengan cepat ia mengaktifkan komputer, jari jemarinya berselancar diatas keyboard. Devira begitu serius kali ini.


Ia tidak ingin gagal dalam melaksanakan misinya. Ia harus bisa mengalahkan kedua kelompok mafia itu agar zona C menjadi wilayahnya.


Selain bisa mengembangkan sayapnya di kota kelahirannya Devira juga bisa membalaskan dendam Devi, sekali mengayuh dayung dua tiga puluh terlampaui.


Devira akhirnya bisa tersenyum, setelah apa yang ia inginkan terpenuhi. Kini ia bisa menguasai Medan zona C.


Setelah itu ia segera keluar dan kembali kedalam kelas untuk melanjutkan pelajaran berikutnya sambil menunggu orang kepercayaannya untuk melaksanakan tugasnya.


Ia ingin menjadi pemilik sekolah SMA Persada, agar ia bisa membungkam mulut Melani dan juga keluarganya.


"Melani, ini baru awal permainan. Setelah hari ini kau akan menempati posisi Devi." batin Devira.


Setelah beberapa saat akhirnya ada sebuah pesan masuk. Devira segera mengecek pesan tersebut.


'SMA Persada telah resmi menjadi milik kita.' pesan tersebut dengan melampirkan bukti berupa surat jual beli yang sudah ditandatangani oleh kedua belah pihak dan juga pengacara dari keduanya.


"Bagus !." ucap Devira setelah membaca pesan tersebut.


"Apa yang bagus ?." tanya Arin saat Devira mengatakan hal itu.


"Tidak aku hanya sedang melihat baju ini." jawab Devira sambil menunjukkan gambar sebuah gaun yang sangat cantik.


Arin kemudian ikut melihat gambar baju tersebut. Ia juga ikut berkomentar mengenai baju tersebut. Kemudian keduanya diam dan fokus kembali mengikuti pelajaran.


Hingga bel tanda berakhirnya pelajaran hari ini berbunyi. Semua siswa dan siswi SMA Persada meninggalkan kelas mereka satu persatu.


"Devira ayo kita pulang bareng, rasanya sudah lama kita tidak pulang bareng lagi." ucap Arin.


Devira tersenyum sambil mengangguk, keduanya kemudian berjalan bersama menuju pintu gerbang sekolah. Namun tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Devira, sehingga keduanya berhenti.


"Devi kau dipanggil bapak kepala sekolah sekarang." ucap salah satu siswa sekolah SMA Persada.


"Arin, untuk hari ini kita tidak bisa pulang bareng lagi. Aku harus menemui kepala sekolah." ucap Devira.


"Ada urusan apa sehingga kepala sekolah meminta mu untuk menemuinya di jam segini ?." tanya Arin.