
Arin meraung kesakitan, namun hal itu seperti sebuah melodi indah yang mengalun syahdu di telinga Devira. Setiap jengkal luka yang ada ditubuh Devira terlihat salih berganti dalam ingatannya.
Hal itu membuat Devira semakin bersemangat untuk menyakiti Arin. Ia benar-benar kehilangan hati nuraninya. Satu hal yang ada didalam pikirannya, ia harus membalas kematian Devi dengan berkali-kali lipat.
"Ampun, aku mohon ampuni aku. Aku sudah tidak tahan lagi, sakit, sakit sekali." ucap Arin pada akhirnya.
"Apakah sakit ? Kalau begitu biar aku tambah lagi, sepertinya baru wajah, kaki dan juga tangan mu. Di tubuhmu belum ada." ucap Devira.
Setelah mengatakan hal itu, Devira kembali menggores di dada Arin, setelah cairan merah mengalir kembali ia dengan pelan menyiramkan air garam lagi di atas luka itu.
Arin kembali meraung-raung, memohon agar Devira mengampuninya. Namun Devira semakin bersemangat untuk melakukan hal itu lagi.
Karena tak kuasa menahan sakit, akhirnya Arin jatuh pingsan setelah tak tahan dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Cih ! Payah sekali, baru segitu saja kau sudah pingsan." ucap Devira.
Setelah mengatakan hal itu, Devira bangkit dan berjalan mencari air, setelah mendapatkan apa yang ia cari Devira kembali menuju dimana Arin tergeletak.
Seolah tak punya rasa simpati, Devira menyiramkan air itu kearah Arin dengan kasar. Tak lama kemudian Arin membuka matanya dengan terbatuk-batuk.
"Baguslah kau bangun juga. Kau jangan tidur dulu aku masih ingin bermain-main. Bahkan kau belum sempat mengunjungi Devi di tempatnya yang baru." ucap Devira.
"Ampuni aku, aku mohon ampuni aku. Bahkan jika kau tidak ingin mengampuni semua kesalahanku maka berilah aku kesempatan untuk melahirkan bayi yang ada didalam kandungan ku." ucap Arin dengan lemah.
"Baguslah jika kau benar-benar hamil, maka kau harus hidup setidaknya temani aku bermain sampai puas, Oke !." jawab Devira.
Devira dengan penuh semangat kembali menyayat tubuh Arin, ia benar-benar telah kehilangan hati nuraninya.
Teriakkan, jeritan bahkan permohonan ampun dari Arin sama sekali tak ia perduli kan. Setelah melihat Arin benar-benar menyedihkan, Devira bangkit dan menghubungi seseorang.
Tak lama kemudian, orang kepercayaannya datang dengan membawa sebuah motor kesayangan Devira.
Dengan bantuan orang tersebut Devira membawa tubuh Arin yang sudah bersimbah cairan merah itu melaju dengan sangat kencang. Seperti sedang berada diarena balap, Devira melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Bahkan orang kepercayaannya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat bagaimana Devira memperlakukan Arin yang sudah tak berdaya.
Seperti seonggok daging yang tak berguna, tubuh Arin terombang-ambing di atas motor Devira. Seandainya bisa Arin lebih baik mati saat ini juga dari pada harus mendapatkan perlakuan yang sangat menyiksanya ini.
Devira dan juga Akhirnya sampai di tempat peristirahatan terakhir Devi. Dengan rasa tak berdosa Devira mencampakkan tubuh Arin. Setelah itu ia mengangkat wajah Arin dengan cara menarik rambutnya.
"Devi, lihatlah sekarang sahabat sekaligus penjahat yang telah menghilangkan nyawamu kini ada didekat mu."
"Sekarang katakan kepada ku, hukuman apa yang pantas untuk sahabat mu yang sangat busuk ini ?. Apakah kau ingin mengajaknya ke alammu ?."
"Tidak Devi, kematian adalah hal yang sangat indah bagi manusia seperti dia. Ia harus tau bagaimana rasanya diperlakukan seperti dirimu oleh orang busuk seperti dia." ucap Devira.
Dengan kasar Devira mencampakkan Arin di atas makam Devi. Setelah itu Devira duduk sambil tersenyum pahit menatap batu nisan adik kembarnya itu.
"Devi maafkan segala kesalahan ku selama ini terhadap mu. Tapi aku mohon jangan biarkan wanita itu untuk menghancurkan mimpi ku."
Hahahaha, Devira tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Arin. Bagaimana bisa disaat nyawanya sudah di Unjung tanduk ia masih bisa berbohong.
"Arin, bahkan kedua adik Boby melihatmu melakukan hal menjijikkan itu dengan Boby. Lalu dari mana ceritanya kalau itu adalah anak Devan."
"Bahkan Boby sendiri belum tentu mau mengakuinya, apalagi kau adalah wanita yang mau melakukan apapun untuk mencapai tujuan mu." ucap Devira.
"Aku bersungguh-sungguh, bayi yang ada didalam rahimku adalah anak Devan." ucapnya tak mau menyerah.
"Bahkan sekalipun aku tidak pernah melakukan hal menjijikkan itu dengan mu." ucap Devan yang tiba-tiba sudah muncul dihadapan Arin.
Devira dan juga Arin melihat ke sumber suara secara bersamaan. Arin tersenyum saat melihat kedatangan Devan.
Ia berharap agar Devan mau berbaik hati untuk menolongnya. Ia benar-benar sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit ditubuhnya.
"Devan tolong aku, aku mohon." ucap Arin dengan wajah memelas.
"Aku datang kesini untuk melihat permainan yang kalian mainkan. Aku tidak berniat untuk membantu mu sama sekali." ucap Devan.
Setelah mengatakan hal itu, Devan mengeluarkan setangkai bunga mawar putih. Dengan lembut ia meletakkan bunga tersebut diatas pusara Devi.
"Devi maafkan semua kebodohan ku. Seandainya aku tau bagaimana orang-orang yang ada disekitar ku pasti saat ini kau masih bisa tersenyum."
"Sekali lagi maafkan kebodohan ku selama ini. Aku tidak pernah menyangka bahwa kau terlalu menderita karena aku selama ini." ucap Devan sambil menyentuh nisan Devi.
Arin menatap kearah Devan dengan penuh kebencian. Bahkan disaat Devi sudah berada di alam yang lain, Devan masih tetap memujanya.
Perlahan Arin bangkit, dengan sekuat tenaga ia mencoba menusuk Devan dengan pin bunga melati yang ada dibalik bajunya.
Sementara Devan sama sekali tidak mengetahui hal itu, Arin segera mengarahkan tangannya untuk menusuk Devan dari belakang.
Dor Dor ! Terdengar suara tembakan tepat di belakang Devan. Devan segera menoleh dan melihat tangan Arin yang berlumuran cairan merah.
"Dasar tidak tau diri !." ucap Devan.
Tanpa rasa belas kasihan, Devan mengibaskan sebuah b nda yang sangat tajam tepat di tangan Arin. Tak butuh waktu lama tangan itu terpisah dari tubuhnya.
Arin menjerit dan meraung sekuat tenaga. Sementara Devira menatap kearah Devan. Ia tak percaya bahwa Devan akan melakukan hal itu.
Devan mengambil tangan Arin dan meletakkannya di atas pusara Devi. Setelah itu ia berdiri di dekat Arin dan juga makam Devi.
"Devi, hari ini aku memberikan tangan yang telah membuatmu kehilangan semuanya. Semoga kau bisa tenang di alam sana."
"Devi, tenanglah kau di tempat mu sekarang, tidak akan ada lagi orang yang akan menyakitimu lagi. Dan aku mohon ijinkan aku untuk menemani kakak mu. Doakan semoga kami berbahagia selalu." ucap Devan.
Setelah mengatakan hal itu, Devan berjalan mendekati Devira. Kemudian ia menggandeng tangan Devira dan mengajaknya pergi meninggalkan tempat itu.