Devi Devira

Devi Devira
Bab. 56. Pengakuan



Arin melihat Rian dengan tatapan yang tak bisa di artikan. Ia seperti ingin menangis tapi ia tahan sekuat tenaga. Kemudian ia menatap wajah kecil dihadapannya yang menangis tersedu-sedu.


"Semua ini gara-gara kau wanita ****** ! Seandainya kau tidak datang ke kampung ini semuanya tidak akan pernah terjadi !."


"Kau harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi kepada Boby. Aku akan membunuhmu seperti aku membunuh Devi !." ucap Arin dengan penuh amarah.


Devira dan juga Devan sangat terkejut mendengar pengakuan dari Arin. Selama ini Arin dikenal sebagai sahabat dekat Devi.


Bahkan tak ada sesuatu yang bisa membuat Devan dan Devira menyangka bahwa dibalik persahabatan yang mereka bina ternyata ada sesuatu yang sangat mengerikan.


"Bagus jika kau mau mengakuinya tanpa harus aku paksa !." ucap Devira.


Tanpa menjawab apapun dari ucapan Devira, Arin segera menyerang Devira. Gerakannya sangat cepat dan terlihat bahwa Arian adalah petarung yang hebat.


Devan tak percaya dengan apa yang ia lihat, selama ini Arin bersikap seolah-olah ia tak mempunyai kemampuan apapun.


Bahkan disaat Melani membully dirinya dan juga Devi, Arin lebih memilih untuk menghindarinya dari pada harus membalasnya.


Devira melayani serangan demi serangan yang dilakukan oleh Arin. Saat ia melihat wajah polos kedua adik Boby, Devira segera menghindari serangan dari Arin.


Perlahan namun pasti ia bisa membawa Arin pergi menjauh dari tempat itu. Hal itu ia lakukan agar apa yang terjadi antara ia dan juga Arin tak terlihat oleh anak kecil itu.


"Hebat juga kemampuan yang kau miliki gadis ******." ucap Arin sambil mengusap cairan merah dari sudut bibirnya.


"Apakah kau takut wanita pembunuh ?." tanya Devira dengan santai.


Meskipun Arin mempunyai kemampuan bertarung yang hebat tetapi masih berada sangat jauh di bawah Devira.


"Jangan sombong ! Jika aku bisa membunuh Devi maka aku juga bisa membunuhmu ******. Dan tak akan ada yang bisa memiliki Devan selain aku." ucap Arin sambil memasang kuda-kuda.


Dengan membabi buta, Arin menyerang Devira dengan pisau di tangannya. Tapi Devira hanya menghindari serangan Arin tanpa mau membalasnya. Ia sebenarnya hanya ingin mengetahui sejauh mana kemampuan Arin sesungguhnya.


"Kenapa kau hanya menghindari serangan ku ? Apakah kau takut jika kau mati ditangan ku seperti Devi yang naif itu ?." tanya Arin.


Namun Devira sama sekali tidak terpancing dengan ucapan Arin. Ia masih dalam posisi mengamati Arin. Sebenarnya ia masih tak percaya jika Arin yang telah membunuh Devi.


Sebagai seorang sahabat bagaimana mungkin tega membunuh sahabatnya sendiri dengan sangat kejam.


Merasa tak berhasil memprovokasi Devira, Arin semakin marah. Ia tau jika Devira masih tetap seperti ini maka hal yang mustahil ia bisa mengalahkan Devira.


"Apakah kau tau bagaimana aku membunuh Devi ?." tanya Arin.


Devira masih tak menjawabnya, ia masih dalam posisi yang sama dan sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan Arin.


"Devi gadis bodoh itu telah aku bunuh dengan sangat kejam, setelah ia diperkosa oleh Boby. Ia sangat kasihan sekali saat itu."


"Tapi aku tidak perduli dengan kondisinya saat itu, aku dengan mudah menusuk setiap bagian tubuh Devi. Tubuh yang membuat para lelaki menggilainya."


"Apakah kau tau, bahkan Boby yang telah merenggut mahkota ku mengatakan bahwa Devi lebih nikmat dari gadis manapun."


"Aku benci dengan Devi ! Aku sangat benci dengannya. Bahkan setiap saat di bully oleh Melani tapi ia sama sekali tidak pernah mau membenci Melani."


"Bahkan meskipun ia sudah mati sekalipun semuanya masih menganggap Devi masih ada. Semuanya karena kehadiran mu gadis ****** !." ucap Arin dengan penuh kebencian dan emosi.


Namun terlihat semua yang ia katakan adalah benar adanya. Ia sebenarnya mencurahkan segala isi hatinya lewat kemarahannya terhadap Devira.


Arin seperti orang yang sudah kehilangan arah, ia tak tau jalan mana yang harus ia pilih. Ia meluapkan semua amarah dan kekecewaannya terhadap Devira.


Bahkan meskipun ia sudah memfitnah Devi dengan video porno itu, tetap saja ia tidak bisa mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan.


"Wanita ****** kau harus mati ditangan ku !." ucap Arin.


Setelah mengatakan hal itu, ia kembali menyerang Devira, serangan demi serangan ia lancarkan namun tetap saja tak ada satupun yang mengenai Devira.


Setelah menikmati pertarungannya dengan Arin, Devira kini mulai membalas serangan Arin. Satu pukulan Devira tepat mengenai perut Arin.


Arin terpental beberapa meter ke belakang, namun ia masih bisa berdiri dan masih ingin membalas serangan Devira.


Saat ia akan layangkan sebuah tinju ke arah Arin, sebuah pisau kecil lebih dulu menancap di bahu kanannya.


Akh ! Teriak Arin. Namun Devira dengan cepat melemparkan sebuah pisau lagi dan tepat mengenai bahu kirinya.


"Itu adalah hukuman awal untuk manusi busuk seperti mu Arin." ucap Devira sambil berjalan mendekati Arin.


Arin menatap ke arah Devira dengan tatapan tajam, meskipun terluka tapi Arin tidak meneteskan air mata. Ia berusaha untuk bangkit dan ingin menantang Devira lagi.


"Cukup kuat juga kau ternyata Arin. Pantas saja kau bisa bersembunyi selama ini. Tapi itu tidak berlaku lagi untuk hari ini !." ucap Devira.


Dengan cepat Devira menembakkan peluru dan tepat mengenai kedua kaki Arin. Arin berteriak dan akhirnya ia jatuh ke tanah.


Dengan penuh amarah Devira berjalan lebih dekat lagi kearah Arin. Ia mengeluarkan sebuah bubuk putih dan sebotol air mineral.


Ia campurkan keduanya kemudian ia kocok agar menyatu. Setelah itu Devira mengeluarkan sebuah pisau kecil yang sangat tajam. Kilatannya dapat Arin lihat dengan sangat jelas.


"Apa yang ingin kau lakukan wanita ****** ?." tanya Arin dengan rasa takut.


"Memberitahu dirimu seperti apa yang Devi rasakan akibat tusukan yang kau berikan kepadanya." jawab Devira.


Kemudian ia jongkok di dekat Arin, perlahan ia mengukir sebuah bunga melati diwajah Arin dengan ujung pisaunya.


" Upps Maaf, gambarnya terlihat sangat jelek. Bagaimana jika aku menggambarnya lagi untuk mu ?." tanya Devira seolah tanpa dosa.


"Jangan ! Jangan lakukan hal itu lagi. Aku mohon jangan lakukan lagi." ucap Arin dengan menahan sakit.


Wajahnya kini sudah berubah warna, bahan cairan merah yang menetes dari wajahnya telah membasahi baju yang ia kenakan.


"Mengapa kau bilang seperti itu Arin ? Bukankah kau suka melakukan hal seperti itu terhadap Devi ?." Ucap Devira dengan sangat lembut.


Devira mengusap wajah Airin, setelah itu ia menyiramkannya dengan air yang sudah ia campur dengan garam.


"Biar aku bantu membersihkannya." ucap Devira sambil membasuh setiap goresan diwajah Arin.