
Devira tak merespon pertanyaan dan tatapan Devan. Ia menatap tajam kearah Melani, terbayang bagaimana kondisi Devi saat itu. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka dan tusukan, bahkan ia tak mengenakan pakaian sama sekali.
Amarah yang sudah membakar Devira tak dapat lagi dipadamkan. Bagai seekor elang yang sedang mengincar mangsanya, Devira menatap tajam kearah Melani yang sangat ketakutan.
Melihat hal itu Devan berusaha melindungi Melani dengan cara menghadang Devira, namun Devira yang sudah terbakar amarah itu seolah-olah tak bisa lagi dikendalikan.
Dengan sangat cepat ia menyerang Devan, keduanya terlibat dalam pertarungan yang sengit. Hal itu dimanfaatkan oleh Melani untuk melarikan diri.
Dengan perlahan Melani berusaha untuk bangkit, dan setelah itu ia berjalan sekuat tenaga agar bisa segera pergi sejauh mungkin dari tempat itu.
Namun Devira dengan sangat cepat melemparkan pisau kecil yang ia simpan dibalik sepatu yang ia kenakan.
Meskipun ia sedang bertarung dengan Devan, lemparannya tepat sasaran. Kedua kaki Melani tertusuk pisau itu.
Melani berteriak dan ia jatuh tersungkur di atas tanah. Mendengar hal itu Devan sangat terkejut, ia sama sekali tidak melihat pergerakan yang dilakukan oleh Devira. Tiba-tiba saja serangan Devira sudah mengenai sasarannya.
Dengan sekuat tenaga Devan mencoba menghalau Devira agar ia tidak bisa mendekati Melani. Namun hal itu membuat Devira semakin buas.
Dengan sebuah tendangan yang sangat lembut namun seluruh kekuatannya terpusat pada ujung kakinya. Devira melancarkan serangannya terhadap Devan. Sekali tendang Devan langsung terpental beberapa meter kebelakang.
Dan dengan secepat kilat, Devira langsung mengangkat tubuh Devira yang berlumuran darah. Tanpa perduli dengan sekitarnya sekali lagi Devira melemparkan tubuh lemah itu hingga terpental tepat dihadapan Devan.
"Devi, atau siapapun kau ! tunggu dulu jangan pernah kau kotori tanganmu dengan darah orang lain." ucap Devan sambil bangkit dari tempatnya.
"Aku tidak akan pernah mengotori tangan ku dengan darah seorang pembunuh seperti kalian, tapi aku akan mandi dengan darah pembunuh Devi !." jawab Devira dengan tatapan mata yang tajam.
Melani hanya bisa meneteskan air matanya. Ia tidak pernah membayangkan akan mengalami hal seperti ini. Bahkan saat ini tak ada satupun orang yang bisa menolongnya termasuk Devan.
Orang yang selama ini sangat ia cintai dan orang yang menjadi alasan utama ia melakukan kejahatan terhadap Devi.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Devira melayangkan tinjunya ke perut Devan hingga keluar cairan merah dari sudut bibirnya.
Dan ketika Devira hendak melakukannya lagi, ada seseorang yang tiba-tiba muncul dan segera menyelamatkan Devan.
Hingga serangan Devira mengenai dinding rumah milik keluarga Rian. Dinding itu kemudian hancur berkeping-keping.
"Tuan L ! kau telah berani mengibarkan bendera perang dengan ku. Maka tunggulah saat dimana kau akan menyesal telah berani mengusikku."
"Sebagai seorang guru kau harusnya tau bagaimana kejahatan yang dilakukan oleh Devan muridmu dan tidak seharusnya kau melindungi seorang pembunuh seperti dia !." ucap Devira dengan sangat kuat.
Bayangan yang telah menyelamatkan Devan berhenti saat mendengar namanya di sebut oleh seseorang, apalagi dia adalah anak kecil yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
Dan yang membuat Tuan L berhenti adalah bagaimana gadis itu bisa mengetahui bahwa ia yang telah menolong Devan.
Namun saat ia hendak membalikkan tubuhnya, Devira telah menghilangkan bersama Melani. Tuan L kemudian menatap sekelilingnya.
Terlihat beberapa orang yang bergerak dengan kecepatan yang sangat luar biasa meninggalkan tempat itu.
"Siapa sebenarnya gadis itu ?." tanya tuan L.
Saat mendengar jawaban dari Devan, tuan L segera mengangkat tubuh Devan dan membawanya pergi ke klinik terdekat.
Hal yang harus beliau lakukan saat ini adalah menolong Devan sebelum hal buruk menimpa Devan.
Sementara Devira telah membawa tubuh Melani yang sudah tidak berdaya menuju ke peristirahatan terakhir Devi.
Dengan menggunakan motornya, Devira melaju sangat kencang. Tubuh Melani ia ikat agar tidak terjatuh.
Seperti sebuah karung bekas, tubuh lemah Melani terombang-ambing tersapu angin karena laju motor Devira yang sangat kencang.
Devira tidak perduli dengan rintihan dan juga tangis Melani. Ia seperti bayangan kematian bagi Melani. Tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di peristirahatan terakhir Devi.
Dengan kasar Devira membawa tubuh Melani yang sudah lemah dan tak sadarkan diri. Setelah sampai di peristirahatan terakhir Devi, tubuh Melani ia hempaskan hingga tubuh itu tersungkur di depan nisan Devi.
Devira kemudian mengambil air garam yang sudah ia siapkan di dekat makan Devira. Setelah itu ia menyiramkannya ke tubuh Melani.
"Ahk sakit, perih." ucap Melani dengan suara yang bergetar karena menahan rasa perih disekujur tubuhnya.
"Bagaimana rasanya Melani ? sungguh nikmat yang luar biasa bukan ?." tanya Devira dengan tatapan mata yang tajam.
"Si siapa kau sebenarnya, dan apa yang kau inginkan dari ku ?." tanya Melani sambil berurai air mata.
"Aku ingin membalas semua perbuatan keji yang kau lakukan terhadap Devi, hingga ia saat ini harus tidur di tempat ini seorang diri."
"Ia harus kedinginan, tanpa seorang pun yang menemaninya. Semua karena ulahmu, kematian mu adalah hal terindah yang bisa kau rasakan."
"Kau harus menebus setiap tetesan air mata dan bahkan darah yang menetes dari tubuh Devi dengan sebuah siksa yang sangat luar biasa."
"Kau harus menembusnya ! kau harus merasakan berkali-kali lipat atas apa yang telah Devi alami !." ucap Devira.
Setelah mengatakan hal itu, Devira duduk di samping batu nisan Devi. Air matanya mengalir deras dan tak dapat ia bendung lagi.
Penyesalannya karena tidak bisa melindungi Devi membuatnya kehilangan akal sehatnya. Sehingga ia seperti seekor singa betina yang kelaparan.
"Devi seperti janjiku kepada mu, aku akan membalas semua orang yang telah melakukan perbuatan keji itu dengan berkali-kali lipat."
"Kini baru Melani yang aku hukum, karena semuanya berawal dari perbuatannya hingga kau harus menderita hingga menghembuskan nafas mu yang terakhir."
"Sekarang lihatlah bagaimana Melani saat ini, masih ingatkah kau bahagia mana wajahnya saat menyiksamu ?."
"Kini wajah itu akan aku ubah agar lebih menyedihkan lagi. Aku buat ia hidup enggan mati juga tak mungkin !." ucap Devira dengan air mata yang terus mengalir.
Tiba-tiba hujan turun bersama kilat yang menyambar, seperti alam merasakan bagaimana rasanya kehilangan seorang yang paling kita sayangi dalam hidup ini.
Seolah alam ikut menangis tatkala melihat anak manusia yang terpuruk karena kehilangan sebagian jiwanya.
Bahkan alam tak ingin orang lain tau bahwa air matanya menetes, maka alam menutupinya dengan tetesan air hujan untuk menyembunyikannya.