Devi Devira

Devi Devira
Bab. 48. Tetap tinggal



Boby tersenyum menutupi sakit dihatinya. Dengan lembut ia menghapus air kedua adiknya. Dengan lembut Boby mengusap kepala sang adik.


"Jangan sedih kakak ada disini untuk kalian. Dan kakak berjanji kalian tidak akan pernah merasakan penderitaan lagi." ucap Boby.


Setelah mengatakan hal itu, Boby mengajak keduanya masuk kedalam rumah di ikuti oleh Arin. Sementara sang sopir yang melihat adegan itu ikut meneteskan air mata.


"Adegan yang penuh dengan bawang." ucapnya sambil menghapus air matanya.


Setelah itu ia mengeluarkan barang bawaan Boby dan juga Arin dari bagasi mobilnya. Setelah itu ia ikut masuk kedalam rumah itu.


Tatapannya terpaku saat melihat keadaan di dalam rumah itu. Tak ada barang apapun di dalam rumah itu. Lantai tanah dan sangat kotor sekali dan hanya ada satu ruang yang ada penyekatnya.


Mungkin itu adalah satu-satunya ruangan yang ada didalam rumah itu. Terdapat kain yang sangat lusuh sebagai penutup pintunya.


"Bos maaf barang-barang ini saya letakkan disini." ucap sang sopir.


"Iya, terimakasih. Dan ini terimalah dan terimakasih karena telah mengantarkan kami ke tempat ini." ucap Boby sambil memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu.


"Jangan sungkan bos, ini adalah pekerjaan saya." jawab sang sopir yang sambil tersenyum menerima uang dari Boby.


Setelah itu ia segera berpamitan kepada Boby, karena ia harus segera kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Tunggu !." ucap Arian saat sang sopir hendak masuk kedalam mobilnya.


"Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu nona ?." tanya sang sopir dengan sopan.


"Aku ikut kembali ke kota bersama mu. Karena tak mungkin aku tinggal disini di tempat seperti ini." jawab Arin tanpa memperdulikan perasaan Boby.


Setelah mengatakan hal itu, Arin segera masuk kedalam taksi dan meminta agar barang bawaannya dimasukkan kembali kedalam bagasi.


"Arin ! apa kau yakin tidak ingin tinggal disini ?." tanya Boby.


"Mana mungkin aku bisa tinggal di kandang seperti itu." jawab Arin.


"Jika kau keberatan kau bisa tinggal di hotel atau dimana pun yang kau inginkan. Tapi ingat semuanya butuh biaya nona." jawab Boby.


Setelah mengatakan hal itu Boby segera masuk kembali ke dalam rumahnya. Ia memberikan makanan ringan yang ia bawa untuk kedua adiknya.


Begitu lahap keduanya saat memakan makanan yang dibawa oleh Boby. Terlihat sebuah kebahagiaan yang tak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.


"Nanti kita beli air minum dan makanan. Kalian ingin makan apa ?." tanya Boby sambil menatap wajah sang adik.


"Aku ingin makan nasi putih kak, kayaknya enak banget nasi putih itu." jawab sang adik dengan polosnya.


Boby tersenyum mendengar permintaan sederhana adiknya itu. Ia tau mana mungkin adiknya mengenal makanan dan minuman seperti anak pada umumnya.


Untuk bisa makan nasi putih saja belum tentu bisa mereka rasakan selama ini. Mereka hanya bisa menikmati singkong rebus itupun jika nasib mereka sedang mujur.


"Baiklah kita akan makan apapun itu yang kalian inginkan." jawab Boby.


Sementara Arin menjadi ragu dengan pilihannya untuk pergi dari kampung halaman Boby. Jika ia harus kembali ke rumah orang tuanya itu sama saja karena rumah mereka tak jauh berbeda.


Tapi jika harus kembali ke kota dari mana ia mendapatkan uang untuk biaya taksi dan biaya hidupnya selanjutnya.


"Bagaimana mana nona ? apakah kita jadi pergi ke kota sekarang ?." tanya sang sopir.


Arin terdiam, ia tidak bisa memutuskan apakah ia harus tinggal atau harus kembali ke kota lagi. Setelah beberapa saat akhirnya Arin memutuskan bahwa ia akan tinggal di sini bersama Boby.


"Aku akan tetap tinggal disini, tapi tunggulah sebentar lagi. Aku akan berbicara dengan Boby sebentar." ucap Arin.


Setelah mengatakan hal itu, Arin segera menemui Boby yang sedang berbincang dengan sang adik.


"Boby, bukankah sebaiknya kita membeli makanan dan juga minuman. Dan bukankah kedua adikmu membutuhkan baju dan juga kasur agar bisa beristirahat dengan lebih nyaman." ucap Arin.


"Tentu saja, tapi bukankah kau memutuskan untuk kembali ke kota ?." tanya Boby.


"Aku berubah pikiran. Sebaiknya kita segera membeli bahan makanan dan kebutuhan lainnya sebelum taksi itu kembali ke kota." jawab Arin.


Boby hanya tersenyum mendengar penjelasan Arin. Ia tau bahwa Arin tidak akan pernah pergi meninggalkan dirinya karena ia tahu bahwa Arin tidak mempunyai uang sepeserpun.


Ia juga tau bahwa Arin tidak akan mampu hidup tanpa uang setelah ia merasakan kehidupan di kota bersama dengan dirinya selama ini.


Bahkan demi uang Arin rela melakukan apa saja termasuk memuaskan nafsunya. Dan ia pun tau bahwa sebenarnya Arin jatuh cinta pada Devan sejak pertama kali mereka bertemu. Hingga Arin akan menuruti semua keinginan Boby atas nama Devan.


"Baiklah mari kita pergi membeli bahan makanan dan juga yang lainnya. Kerena kita akan tinggal disini cukup lama, bahkan mungkin untuk selamanya." jawab Boby.


Setelah mengatakan hal itu, Boby mengajak kedua adiknya ikut bersamanya. Mereka akan pergi ke pasar terdekat untuk membeli semua yang mereka butuhkan.


Dengan menggunakan taksi mereka berbelanja semua kebutuhan yang mereka butuhkan. Setelah di rasa cukup mereka segera kembali ke rumah Boby.


Sementara sang sopir taksi itu segera kembali melanjutkan pekerjaannya. Meninggalkan Boby dan juga Arin di tempat persembunyian mereka yang baru.


Sementara Devan dan juga tuan L, telah kehilangan jejak mereka. Bagaikan ditelan bumi, Boby dan juga Arin menghilang dengan cepat dari pengawasan mereka.


"Devan kita harus segera menemukan Boby dan juga Arin. Karena mereka adalah kunci dari semua masalah ini."


"Kita cari taksi atau kendaraan baru saja meninggalkan kota ini. Karena mereka pasti pergi menggunakan kendaraan itu." ucap tuan L.


"Baik kek Devan akan segera mencari tau kendaraan itu." jawab Devan.


Setelah mengatakan hal itu Devan segera keluar dan mencari informasi tentang hal itu. Meskipun Devan sudah lama meninggalkan kota kelahirannya itu namun Devan tau kemana tempat bertanya yang tepat.


Dalam waktu singkat Devan sudah mendapatkan informasi yang ia butuhkan. Saat ini ia tau bahwa Boby dan juga Arin pergi meninggalkan kota ini dengan sebuah taksi online.


Bukan hanya itu, Devan juga mendapatkan informasi tentang plat nomor taksi yang mengantarkan Boby dan juga Arin.


Setelah mendapatkan informasi yang ia butuhkan, Devan segera kembali untuk menemui tuan L. Agar mereka bisa segera menyusun rencana berikutnya.


Dan hal itu sudah diketahui oleh Devira. Devira kemudian meminta tolong kepada Rian agar tidak membiarkan Devan pergi meninggalkan kota itu.