
Setelah semuanya siap Arin dan Boby segera meninggalkan tempat itu dan mencari tempat persembunyian yang baru. Namun mereka harus bersabar karena mereka tidak menemukan sebuah taksi atau kendaraan apapun yang bisa mengantarkan mereka.
"Boby kita harus bagaimana ini ? Bagaimana caranya kita bisa segera pergi meninggalkan kota ini jika harus tetap berjalan kaki." tanya Arin karena sudah merasa lelah.
"Entahlah, aku juga sangat lelah sekali. Apalagi kondisi ku masih seperti ini." jawab Boby sambil berhenti untuk beristirahat.
"Mengapa kita tidak bersembunyi di kota ini saja untuk sementara, kita bisa tinggal di hotel atau bisa menyewa sebuah rumah mungkin." usul Arin.
"Baiklah kita coba saja, karena aku sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan. Semua ini karena salahmu."
"Seandainya kau tidak mengunggah foto dan video Melani, tidak ada yang tau kita berada di kota ini." jawab Boby yang menyesali perbuatan yang dilakukan oleh Arin.
"Apa hubungannya dengan yang aku lakukan, bukankah hal itu tidak ada hubungannya dengan kita ?." tanya Arin.
"Dengan kau mengunggah foto dan video itu, secara tidak langsung kau memberi tau posisimu saat ini. Bahkan hal ini pasti sudah dilihat oleh Devan." jawab Boby dengan kesal.
Boby sama sekali tidak pernah menyangka bahwa Arin tidak bisa berfikir dengan baik. Bahkan apa yang dilakukannya hanya berdasarkan kesenangannya saja tanpa memperdulikan akibat bagi dirinya dan juga orang disekitarnya.
"Maafkan aku, aku tidak berfikir sejauh itu." ucap Arin dengan sangat menyesal.
Boby tidak menanggapi hal itu, ia tetap berjalan dan berusaha untuk mencari dimana hotel terdekat atau rumah yang bisa mereka sewa.
Setelah lama mereka berjalan akhirnya mereka menemukan sebuah warung makan. Mereka berhenti dan masuk ke rumah makan itu.
Mereka sangat lelah dan sangat lapar. Sambil memesan makanan Boby bertanya apakah ada hotel terdekat atau rumah yang bisa disewakan.
"Bu apakah disekitar sini ada sebuah hotel, penginapan atau sebuah rumah yang disewakan ? kami butuh tempat untuk beristirahat." tanya Boby kepada pemilik warung makan itu.
"Ada, bahkan kami juga mempunyai sebuah penginapan. Meskipun bukan hotel bintang lima tapi cukup nyaman untuk beristirahat." jawab pemilik warung itu.
"Baiklah Bu, jika demikian bolehkah kami menyewa dua kamar. Dan bisakah kami langsung kesana setelah makan kami sangat lelah sekali, sejak tadi kami tidak menemukan taksi atau kendaraan lain yang bisa mengantarkan kami." tanya Boby.
"Tentu saja, dengan senang hati kami akan mengantarkan kalian. Silakan tunggu sebentar agar kami menyiapkan makanan kalian dan juga menyiapkan tempat untuk kalian berdua." jawab pemilik rumah makan itu dengan tersenyum.
Arin dan juga Boby sangat senang sekali mendengar hal itu, karena akhirnya mereka bisa beristirahat untuk sementara waktu.
Mengumpulkan tenaga dan juga bisa menyusun rencana berikutnya. Semuanya akan mereka pikirkan setelah di penginapan nanti.
Setelah selesai menikmati makanan yang mereka pesan, mereka segera berjalan mengikuti pemilik rumah makan tersebut.
Tak jauh dari rumah makan itu, ada sebuah penginapan sederhana yang cukup besar dan terlihat sangat asri.
Terdiri dari dua lantai, dan terdapat beberapa kamar. Terlihat penginapan itu sangat ramai karena mungkin itu adalah penginapan satu-satunya di kota ini.
Ya maklum kota A adalah sebuah kota kecil yang terletak cukup jauh dari ibu kota. Sehingga kondisi kota itu sungguh sangat jauh dari namanya keramaian dan jarang tersentuh pembangunan.
Setelah sampai Boby dan juga Melani langsung diantar ke kamar mereka masing-masing. Setelah itu pemilik rumah makan itu segera pergi meninggalkan keduanya.
"Ya kau benar, tapi dengan apa aku bisa kembali ? jika ada sebuah taksi aku bahkan ingin segera kembali."
"Sekarang lebih baik kita segera beristirahat dan menyusun rencana berikutnya." jawab Arin sambil berlalu meninggalkan Boby yang ingin mengatakan sesuatu kepadanya lagi.
Namun Arin sungguh sangat lelah dan ingin segera merebahkan tubuhnya. Seandainya ia tau akan mengalami hal ini tentu saja ia ogah mengantarkan Boby bersembunyi di kota terpencil ini.
Tapi mau bagaimana lagi, satu hal yang pasti setelah mendapatkan sebuah kendaraan ia akan segera meninggalkan tempat ini dan ia tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan masalah yang dihadapi oleh Boby.
Tepi tentu saja hal itu akan ia lakukan setelah mendapatkan imbalan dari Boby atas semua yang telah ia lakukan.
Tapi ngomong-ngomong di nama Boby menyembunyikan kekayaannya ? dan bagaimana caranya ia bisa hidup dalam pengasingan ini ? Apakah ia telah membawa seluruh hartanya ?.
Atau seluruhnya telah ia simpan di rekening pribadinya sehingga ia bisa menggunakan harta tersebut sewaktu-waktu ia membutuhkannya ?.
Ah masa bodoh dengan hal itu yang jelas Arin hanya ingin uang dan uang, atas semua kerja kerasnya terhadap Boby.
Dan untuk Devan, ia harus sedikit bersabar karena Devan adalah tujuan utamanya. Ia harus bisa bermain cantik agar Devan tidak membenci dirinya.
Setelah memikirkan hal itu, Arin segera membersihkan diri dan setelah itu ia merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Ia sangat lelah dan ingin sekali beristirahat. Siapa tau ia bisa bertemu dengan Devan meskipun hanya didalam mimpi.
Sementara Melani, ia telah sadarkan diri. Ia perlahan membuka kedua matanya. Ia melihat sekeliling ruangan, semuanya tampak asing.
"Dimana aku sekarang ?." tanya Melani dengan suara pelan.
"Melani akhirnya kau sudah bangun, ayah sangat khawatir dengan keadaan mu sayang." ucap seseorang yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ayah !." ucap Melani saat melihat ke sumber suara.
Melani segera bangkit dan ia berjalan kearah sang ayah. Di pelukannya tubuh ayahnya dengan sangat erat sekali.
"Ayah dari mana saja ayah ? Melani mencari-cari ayah namun tidak bisa menemukan ayah, sehingga Melani bersembunyi di dalam lemari dan ...," ucap Melani terhenti.
Ia melihat kembali sekeliling ruangan itu, ia menjadi bingung bagaimana bisa ia berada di tempat ini dan saat ini bisa bersama dengan ayahnya.
"Ayah apa yang terjadi dan dimana kita saat ini ?." tanya Melani.
"Kita sekarang berada disebuah penginapan, ada seseorang yang telah menyelamatkan kita berdua dari kepungan polisi itu."
"Entah bagaimana ceritanya, saat ayah terbangun kita sudah berada di tempat ini dan ayah melihat mu masih belum sadarkan diri." jelas ayah Melani.
"Apakah kita sudah aman ?." tanya Melani lagi.
"Entahlah, ayah juga tidak tau, yang penting saat ini kita bisa selamat dari kejaran polisi itu saja yang ayah tau." Jawab Ayah Melani sambil menepuk pundak Melani agar putri itu bisa sedikit lebih tenang.