Devi Devira

Devi Devira
Bab. 12. Persiapan



Devira tengah mempersiapkan untuk mengikuti acara balap motor, saat ini ia sendiri yang mempersiapkan kendaraannya sendiri. Mulai dari mengecek mesin, ban dan lainnya ia lakukan sendiri.


Ia benar-benar ingin menang dan menguasai zona C yang sedang di jadikan taruhan oleh para kelompok mafia. Devira tidak ingin wilayah tempat tinggal sang mommy dikuasai oleh mafia yang tidak baik.


"Bagaimana apakah sudah kau pastikan tempat dan waktunya ?." tanya Devira.


"Sudah Queen, dan kemungkinan akan ada lebih dari lima kelompok mafia yang ikut dalam acara tersebut. Tapi mereka tidak mempunyai kualifikasi dalam balapan tersebut." jelas orang kepercayaannya.


"Baiklah, kalau begitu siapa lawan terkuat kita ?." tanya Devira lagi.


"Lawan terkuat kita adalah King dari scorpio hitam. King sangat terkenal dengan kemampuannya dalam mengendarai kendaraan baik mobil maupun motor." jelasnya.


Devira m menganggukkan kepalanya, ia pernah melihat sendiri bagaimana Devan mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi. Kecepatannya seperti angin yang berhembus.


"Artinya, orang yang pernah mengalahkan mu waktu itu adalah King scorpio ?." tanya Devira lagi.


"Betul Queen, king scorpio yang telah mengalahkan saya dalam acara waktu itu." jawab Rian dengan jujur.


Setelah itu Rian menunjukkan sebuah video bagaimana Devan mengalahkannya dalam acara balap motor saat menentukan siapa ketua mafia terkuat di kota ini.


Devira memperhatikan video tersebut dengan seksama. Ia kemudian tersenyum setelah mengetahui titik lemah dari lawannya itu.


"Kerja yang bagus. Dengan melihat video ini aku bisa mengetahui sejauh mana kemampuan lawan." ucap Devira.


"Queen jika anda ingin memenangkan balap nanti malam, anda harus berkonsentrasi jangan sampai ada sesuatu yang menggangu sehingga hal itu akan mempengaruhi kemampuan anda dalam mengemudi." jelas Rian.


"Kak Rian benar, saat ini aku masih kurang fokus." jawab Devira.


"Apa yang membuat Queen tidak bisa berkonsentrasi ?." tanya Rian lagi.


"Aku sedikit ragu, sebenarnya siapa yang telah membunuh Devi. Jika Devan yang melakukannya untuk alasan apa ?."


"Tetapi pin scorpio itu benar-benar milik kelompok mafia itu. Tapi sejauh ini aku tidak menemukan alasan yang tepat sehingga Devan melakukan perbuatan itu." jawab Devira dengan jujur.


"Jika bukan Devan berarti ada diantara anggota mafia scorpio yang melakukannya. Untuk alasan apa pasti ada hubungannya dengan pemilik pin melati itu."


"Karena selama ini mafia scorpio bukanlah mafia yang suka melakukan pembunuhan dan pemerkosaan. Mereka bermain sangat bersih hanya fokus pada peradangan narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya serta alkohol."


"Dan sejauh ini saya belum menemukan pin tersebut milik siapa. Karena Melani dan gengnya tidak mempunyai pin tersebut. Mungkin pin itu milik pribadi bukan simbol sebuah kelompok." jelas Rian.


"Kak, Rian benar. Untuk bisa mengetahui siapa pemilik pin tersebut aku harus bisa menundukkan mafia scorpio."


"Hanya dengan cara itu aku bisa menghukum pelaku yang sebenarnya." ucap Devira.


Rian hanya tersenyum, kemudian ia menepuk pundak Devira sebagai bentuk dukungan layaknya seorang sahabat.


"Kami akan membantu semampu kami." ucap anggota yang lain.


Devira tersenyum mendengarnya, anggota yang ia rekrut semua ia anggap sebagai seorang saudara. Sehingga hubungan mereka bukan seperti pimpinan dan atasan melainkan hubungan persaudaraan.


Devira terharu ketika mereka bekerjasama dengan sangat apik untuk membantunya menemukan siapa pelaku pembunuhan Devi sang adik kembarnya itu.


Sehingga dalam waktu satu hari mereka telah mengetahui bahwa pelaku tersebut adalah geng yang diketuai oleh Melani dan di eksekusi oleh mafia scorpio.


"Baiklah queen sebaiknya kau beristirahat untuk mengumpulkan tenaga, karena untuk bisa mengalahkan Devan kau membutuhkan waktu yang sangat singkat.' jelas Rian.


"Baiklah, kalau begitu aku akan istirahat sebentar. Dan tolong sebarkan orang-orang kita agar tidak ada kecurangan dalam acara ini." ucap Devira.


Setelah mengatakan hal itu, Devira meninggalkan ruang itu dan menuju kamar pribadinya. Ia segera membersihkan diri dan setelah itu ia beristirahat untuk mengumpulkan stamina dan juga agar ia lebih berkonsentrasi.


Di tempat lain Devan juga sedang menyiapkan keperluannya untuk acara nanti malam, ia tidak mau kalah dalam acara balap motor tersebut.


"King untuk acara nanti malam akan di ikuti oleh banyak anggota mafia, karena mereka semua sangat menginginkan bisa menguasai zona C." jelas Boby.


"Ternyata berita itu sangat cepat tersebar. Lalu bagaimana apakah kau telah mengetahui siapa pelaku yang telah membocorkan informasi tentang kegiatan kita malam itu ?." tanya Devan.


"Belum king, sejauh ini tidak ada bukti akan adanya orang lain yang berada ditempat itu, semua adalah anggota scorpio." jelas Boby.


"Lalu apakah ada anggota kita yang tertangkap oleh Polisi ?." tanya Devan lagi.


"Ada satu anggota kita yang tertangkap dan orang suruhan Mr.X. Saat ini pengacara kita tengah mengurus mereka."


"Pastikan bahwa mereka segera keluar dari penjara. Dan pastikan lagi bahwa tidak ada anggota kita yang jadi penghianat." Perintah Devan.


"Siap !." jawab Boby dengan tegas.


Setelah itu Devan kembali memeriksa motor kesayangannya. Ia ingin motor tersebut bisa menemaninya untuk meraih kemenangan.


Karena zona C adalah sebuah wilayah yang sangat strategis, sehingga akan sangat menguntungkan bagi kelompok mafia yang bisa menguasainya.


Disaat Devan sedang fokus dengan motornya, tiba-tiba ia teringat bagaimana tatapan mata Devira. Mata indah itu telah mencuri perhatiannya sejak pertama kali bertemu.


Devan tersenyum mengingat setiap momen ia bersama dengan Devira, gadis itu selalu saja bisa menghipnotis dirinya.


"Gadis yang sangat luar biasa. Tapi sejak kapan gadis cupu itu berubah ? apakah karena selama ini aku tidak seberapa memperhatikannya ?."


"Ah yang pasti aku harus bisa mendapatkannya. Keagungan dan kekuatan yang tersimpan dibalik kecupuan nya sangat menggoda."


"Devi tunggulah aku akan mendapatkan mu dan aku akan menjadikan mu queen dalam hidupku." ucap Devan sambil tersenyum-senyum sendiri.


Setiap adegan yang ia lalui bersama Devira melintas satu persatu dalam ingatannya. Senyumannya mampu menyihirnya seolah ia tak mampu berkutik dihadapan pemilik mata indah itu.


"Apakah kau sedang jatuh cinta ?." tanya Boby.


Hal itu tentu saja sangat merusak bayangan indah yang tengah Devan rangkai.


"Kau bertanya disaat yang kurang tepat." jawab Devan dengan malas.


"Aku perhatikan sejak tadi kau senyum-senyum sendiri, apakah ada seseorang yang saat ini tengah mengusik hati king scorpio hitam yang dikenal orang sebagai gunung es ?." tanya Boby lagi.


"Sudahlah lebih baik kau persiapkan orang-orang kita di arena balap nanti malam.". jawab Devan.


Ia benar-benar tidak ingin membahas perasaannya saat ini, Meskipun sebenarnya ia tak mampu mengusir bayangan sang pemilik mata indah itu.