
Setelah berbincang-bincang sebentar akhirnya kedua adik Boby bersedia ikut Rian dan juga Devan untuk pergi ke kota, apalagi setelah Devan mengatakan bahwa ia adalah teman satu sekolah dengan Boby.
Yang membuat keduanya percaya adalah ketika Devan menunjukkan betapa dekatnya ia dan juga Boby, hal itu terlihat dari foto-foto yang ada di galeri ponsel Devan.
"Jika begitu apa lagi yang kalian tunggu ? ayo kita segera berangkat karena perjalanan ke kota cukup jauh." ucap Devan dengan penuh kasih.
"Baiklah kak, kami akan berpamitan kepada kak Boby dan juga kak Arin terlebih dahulu." ucap keduanya dengan penuh semangat.
"Kalau begitu kakak juga ingin bertemu dengan kak Boby sekalian minta ijin untuk membawa kalian berdua." ucap Rian.
Setelah mengatakan hal itu, kedua adik Boby segera masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Devan dan juga Rian.
Mereka menuju kamar satu-satunya yang ada di dalam rumah itu, karena menurut kedua adik Boby sang kakak sedang beristirahat karena kakinya masih sakit.
Devan maupun Rian tau bagaimana kondisi kaki Boby. Sehingga mereka tak sungkan untuk ikut masuk kedalam kamar.
Namun saat mereka hendak masuk, Devan dan juga Rian langsung menutup kedua mata adik Boby. Karena Boby dan Arin sedang melakukan adegan panas yang tak layak dilihat.
"Kalian nikmati kegiatan kalian sebelum terjadi sesuatu maka kami akan membawa kedua adik Boby." ucap Devan.
Tanpa menunggu jawaban dari Boby, Devan dan Rian langsung membawa kedua adik Boby keluar dari rumah itu.
Mereka segera membawa masuk mereka ke dalam mobil mereka. Sementara Devira telah keluar dari dalam mobil begitu melihat keduanya membawa adik Boby.
"Queen di dalam Boby sedang beradegan panas. Sebaiknya kau tunggu sebentar lagi dari pada mata mu ternoda karena hal menjijikkan itu." ucap Rian dengan sangat pelan.
Devira menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan dari Rian. Setelah itu ia melanjutkan langkahnya kemudian duduk di depan rumah Boby.
Sementara Rian dan juga Devan melajukan mobilnya untuk membawa kedua adik Boby menjauh dari tempat itu.
Taklama kemudian Boby keluar hendak mengejar mobil yang baru saja membawa kedua adiknya. Namun langkahnya terhenti saat melihat Devira yang sudah menunggunya.
"Apa, apa yang kau inginkan dengan datang ke rumah ini ?." tanya Boby dengan ketakutan.
"Sederhana ! kedatangan ku kesini untuk menghukum penjahat yang telah memperkosa Devi !." jawab Devira dengan penuh penekanan.
Setelah mengatakan hal itu, Devira langsung mendekati Boby. Dengan satu tinju yang langsung membuat Boby jatuh tersungkur.
"Apa maksudmu ? aku tidak pernah melakukan hal itu." ucap Boby sambil menahan sakit ditubuhnya.
"Benarkah ?." tanya Devira dengan tersenyum.
Kemudian ia mendekati Boby, dan dengan sangat mudah Devira mengangkat tubuh Boby dan kemudian menjatuhkan tubuh itu ketanah dengan sebuah tendangan terlebih dahulu.
"Katakan sejujurnya siapa wanita yang bermain dengan dirimu dalam video panas itu ?." ucap Devira dengan penuh amarah.
"Siapa yang kau maksud ? tadi kau bilang aku yang telah memperkosa Devi, sekarang kau tanya siapa wanita yang bermain panas dengan diriku."
"Jika kau tidak tau apa-apa maka jangan asal menuduh seseorang apalagi sampai bertindak kejam seperti ini." ucap Boby yang masih berusaha menutupi kesalahannya.
Sementara Arin yang hendak keluar menyusul Boby, segera menghentikan langkahnya saat melihat Devira yang sedang menghukum Boby.
"Kau masih berani mengelak ? Apakah aku perlu mengingatkan mu terlebih dahulu ?." tanya Devira lagi.
Setelah mengatakan hal itu, Devira melemparkan pisau kecil kearah Boby. Dan pisau itu tepat mengenai kedua tangan Boby.
Akh !
Teriak Boby sambil menahan sakit, karena kedua tangannya tertusuk pisau. Cairan merah mengalir dari kedua tangannya.
"Kau wanita iblis !." ucap Boby sambil mengerang kesakitan.
"Bagus jika kau mengetahuinya. Sekali lagi katakan siapa wanita yang bermain panas dengan dirimu di markas Scorpio hitam itu ?." tanya Devira sambil menodongkan pisau di leher Boby.
Boby diam tak mau menjawabnya, namun matanya menatap kearah rumahnya dan ia berharap agar Arin tidak keluar dari rumah itu.
Hal itu tak lepas dari perhatian Devira. Dengan tajam Devira mengikuti arah mata Boby, dan ia melihat sebuah bayangan seseorang yang sedang bersembunyi di dalam rumah itu.
"Baiklah jika kau tidak ingin mengatakannya dengan jujur, maka aku akan mencari tau dengan caraku sendiri." ucap Devira.
Boby tersenyum seolah tak percaya akan kemampuan Devira. Namun ia lupa bahwa pisau Devira telah berpindah ke wajahnya.
Seolah mengukir diatas kanvas, Devira menggoreskan pisau itu sebagai alat untuk mengukir.
Perih, sakit dan entah apa yang dirasakan oleh Boby. Ia hanya bisa berteriak kesakitan sementara kedua tangannya tak mampu berbuat apa-apa untuk bisa mencegah apa yang dilakukan oleh Devira.
Teriakan Boby begitu menyayat hati, hal itu membuat Arin ingin membalas semua perbuatan Devira.
"Dasar wanita iblis, akan aku balas kau dengan lebih kejam dari apa yang telah kau lakukan. Aku akan melakukan hal yang sama terhadap mu seperti yang telah aku lakukan terhadap Devi, bahkan lebih kejam dari itu." ucap Arin dengan penuh dendam.
Dengan cepat ia mengambil pisau dapur yang belum lama mereka beli. Dengan sangat yakin ia segera keluar dari dalam rumah dan hendak menusukkan pisau itu kearah Devira.
Namun dengan gesit Devira menghindari serangan Arin, sehingga membuat serangan Arin tidak mengenai sasarannya.
Boby kembali berteriak sekuat tenaga, karena pisau yang di pegang oleh Arin tepat menusuk barang vitalnya.
"Setelah kau puas memakainya, dengan sesuka hatimu kau memotongnya." ucap Boby.
Setelah mengatakan hal itu ia terjatuh tak sadarkan diri. Baju yang dikenakan oleh Boby kini berubah menjadi merah. Setiap luka yang ada di dalam tubuhnya mengeluarkan cairan berwarna merah.
"Jangan bunuh kakak ku !." ucap kedua adik Boby yang tiba-tiba muncul dari jalan.
Keduanya langsung berlari mendekati Boby, dan dengan sekuat tenaga mereka mendorong dan memukuli tubuh Arin.
"Kau penjahat, Kau telah membunuh kakak ku ! akan ku bunuh kau wanita jahat !." ucap adik Boby dengan berurai air mata.
Arin tak bisa berkata-kata, ia tidak tau bahwa serangannya akan melukai Boby bukan Devira. Dengan gemetar ia menatap wajah kedua adik Boby itu.
"Bawa Boby ke rumah sakit, setelah itu serahkan ia ke pihak yang berwajib." ucap Devira terhadap Rian.
Dengan cepat Rian mengangkat tubuh Boby yang sudah tak sadarkan diri. Tanpa berpikir panjang Rian segera membawa tubuh Boby melesat meninggalkan kampung P dengan menggunakan Mobilnya.