
Tatapan Devira begitu tajam seperti seekor elang yang menatap mangsanya. Gerakan tubuhnya fokus untuk menyerang tuan L yang berada di hadapannya tetapi matanya mengincar Devan sebagai targetnya.
"Lepaskan Devan dan fokuslah terhadap lawan yang ada di depanmu gadis kecil." ucap tuan L mencoba memecahkan konsentrasi Devira.
Tanpa menjawab pertanyaan tuan L Devira segera menyerangnya tanpa sedikitpun memberi ruang tuan L untuk membalas serangannya.
Pertarungan yang sangat tidak seimbang sama sekali. Tuan L hanya bisa menghindari setiap serangan Devira tanpa bisa memberikan serangan balasan.
Hal itu dimanfaatkan oleh Devan untuk bangkit dan berusaha untuk meninggalkan tempat itu guna segera menyusul Boby di kampung P.
Disaat yang lainnya tengah fokus terhadap pertarungan Devira dengan tuan L, Devan segera mengambil langkah seribu untuk bisa segera menjauh dari tempat itu.
Tapi lagi-lagi Devira dengan gerakan yang sangat cepat, melayangkan tendangannya terhadap Devan. Dan tepat mengenai sasarannya.
Devan tersungkur di tanah sambil menahan sakit di dadanya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa Devira bisa melakukan hal itu.
Disaat ia sedang fokus menyerang tuan L, namun perhatiannya terhadap buruannya tak teralihkan sama sekali.
"Sabarlah sebentar King scorpio hitam, aku pasti akan membereskan mu setelah aku menyingkirkan sang legendaris dunia mafia ini."
"Kau sebaiknya duduk dengan tenang dan jika kau mampu kumpulkan seluruh kekuatanmu untuk melawanku nanti."
"Jadi jangan banyak bertingkah sehingga membuatmu terluka lebih parah lagi. Kau harus ingat satu hal, aku tidak pernah membiarkan buruanku kabur atau diselamatkan oleh orang lain."
"Aku selalu mendapatkan buruanku ! Dan kau adalah buruanku saat ini !." ucap Devira dengan sangat jelas.
Hal itu membuat Devan dan juga tuan L menatap kearah Devira yang tengah berdiri dengan sangat santai.
Ia sama sekali tidak seperti seseorang yang sedang bertarung. Nafasnya begitu teratur dan wajahnya tetap terlihat sangat cantik tanpa satu tetes keringat pun.
Lain halnya dengan tuan L, yang berkeringat dingin serta bingung bagaimana caranya menenangkan diri sehingga ia bisa mengimbangi serangan Devira.
Nafasnya tersengal-sengal karena begitu banyak tenaga yang beliau keluarkan untuk melawan Devira. Namun sekuat apapun tuan L berusaha pasti serangannya sudah selalu mudah dipatahkan oleh Devira.
"Sebenarnya kau siapa ? aku akan merasa bangga dan tidak akan pernah merasa penasaran saat aku tiada setelah aku mengetahui siapa dirimu."
"Di usiamu yang masih sangat muda kau telah mempunyai sebuah kemampuan yang luar biasa dan kau bahkan mengenalku dengan sangat baik." ucap tuan L.
"Aku adalah malaikat pencabut nyawa bagi pembunuh Devi !." ucap Devira dengan tatapan tajam kearah Devan.
Sementara tuan L sangat yakin bahwa jika Devan tidak bisa membuktikan bahwa bukan dirinya yang telah membunuh Devi, maka jangankan Devan tuan L juga pasti akan menghembuskan nafas terakhir di tangan Devira.
"Kau sangat yakin sekali, padahal belum tentu kau bisa mengalahkan aku. " ucap tuan L.
Hahaha
"Keluarkan seluruh kemampuan mu tuan ! setidaknya aku tidak harus belajar sendiri dan berlatih sendiri."
"Karena anda akan membimbing aku untuk bisa mengalahkan mu tanpa harus di ajang yang bergengsi, atau dalam sebuah perebutan kekuasaan." jawab Devira.
'Sehebat apapun kau, masih saja seperti remaja pada umumnya selalu sombong disaat semuanya menganggap kau lebih tinggi dari mereka.'
Tanpa mengatakan apapun tuan L segera melancarkan serangan balasan terhadap Devira. Namun dengan cepat Devira menggagalkan serangan itu.
Dengan kekuatan penuh Devira membalas serangan tuan L. Sehingga tuan L langsung jatuh ketanah karena menahan serangan dari Devira.
Tanpa membuang waktu lagi Devira langsung mengarahkan sebuah tendangan bebas ke arah tuan L. Sehingga tubuh renta itu jatuh dan terpental tak jauh dari tempat Devan.
Sebelum sempat mengatakan apapun lagi, tuan L telah pingsan karena tak kuasa menahan serangan dari Devira.
Tak perduli akan hal itu Devira kembali menyerang tuan L dengan pukulan yang sangat mematikan.. Menyadari hal itu Devan langsung menutupi tubuh tuan L dengan tubuhnya.
Ia rela menjadi perisai untuk melindungi tubuh tuan L. Dengan menutupi wajahnya dengan.kedua tangannya Devan memejamkan matanya dengan sangat rapat.
Dari kejauhan Rian melihat sebuah gelang yang sangat ia kenal melingkar di tangan Devan. Untuk memastikan apakah yang ia lihat benar atau tidak Rian mencoba menghalangi serangan Devira.
"Tunggu aku mohon ! ijinkan aku untuk mencari tau siapa pemilik gelang itu." ucap Rian sambil berlari mendekati Devan.
Mendengar ucapan itu, Devira menghentikan langkahnya dan ia mengurungkan niatnya untuk menghukum Devan.
"Ku beri kau satu kesempatan untuk hari ini saja. Ingatlah bahwa aku tidak akan pernah melepaskan buruanku jadi jangan pernah mengganggu aku dalam berburu." ucap Devira.
Setelah mengatakan hal itu, Devira segera melesat dan hilang bagaikan ditelan bumi. Gerakannya sangat cepat sehingga tak bisa diikuti oleh mata.
Sementara Rian segera mendekati Devan yang tengah terluka parah. Tetapi tetap berusaha melindungi tubuh tuan L.
"Katakan siapa kau sebenarnya ! Dan bagaimana bisa gelang itu ada pada dirimu ?." tanya Rian dengan penuh penasaran.
Mendengar hal itu, Devan segera membuka kedua matanya. Dan tatapannya bertemu dengan tatapan Rian yang penuh dengan selidik.
"Aku adalah pemilik sah gelang ini, aku adalah Devano Ardiansyah putra bungsu almarhum tuan Ardian." jawab Devan dengan tegas.
Rian menatap wajah Devan, dan ia sama sekali tidak menemukan sebuah kebohongan dari wajah tampan dihadapannya itu.
Tak terasa air matanya menetes di pipi. Orang yang selama ini ia cari ternyata ada dihadapannya dan orang yang selama ini ia anggap sebagai seorang musuh.
"Vano ! benarkah kau Vano ?." tanya Rian dengan suara gemetar.
Devan menganggukkan kepalanya, ia melihat sebuah kerinduan yang sangat dalam dari pancaran mata pria asing yang ia anggap sebagai musuh itu.
Rian segera menghambur dan memeluk tubuh Devan yang lemah karena luka dalam dan juga luka tusukan di kedua kakinya.
Dengan tubuh yang gemetar Devan membalas pelukan hangat dari orang yang selama ini ia rindukan.
Tanpa bertanya lagi Devan yakin bahwa pria itu adalah kakak kandungnya Rian Ardiansyah yang selama ini ia cari.
"Kak Rian, benarkah kau kak Rian ?." ucap Devan sambil mengeratkan pelukannya.
"Bodoh ! siapa lagi yang mengetahui gelang itu bodoh." jawab Rian tetap dengan memeluk tubuh Devan.
Keduanya berpelukan menumpahkan rindu yang bertahun-tahun lamanya mereka pendam. Keduanya seakan tak rela untuk saling melepas pelukannya. Sekan keduanya takut jika akan berpisah lagi setelah pertemuan ini.