Devi Devira

Devi Devira
Bab. 33. Mencari pelaku



Devira duduk di meja belajar Devi, ia kemudian membuka laptopnya. Tangannya sangat indah berselancar di atas keyboard.


Ia mencoba membuka akun media sosial milik Devi, dengan mudah Devira membuka akun tersebut karena password yang digunakan oleh Devi mampu di hapus dengan mudah oleh Devira.


Perlahan Devira mulai membuka akun tersebut, dan ia kemudian menemukan sebuah ancaman dari akun milik Melani.


"Devi, jika kau tidak mau menuruti keinginan ku, maka jangan salahkan aku jika aku berbuat nekat. Bahkan aku bisa membunuhmu."


"Ingatlah Devi, kau bukanlah siapa-siapa, dan aku bisa dengan mudah menghapus namamu dari muka bumi ini tanpa ada seorangpun yang bisa menghentikannya !." tulis Melani.


Hal itu membuat darah Devira semakin mendidih. Namun ia tetap sabar membuka satu persatu inbox masuk di akun Devi.


"Devi, kau tidak akan bisa lari dari ku !." tulis sebuah akun tanpa nama dengan sebuah loga scorpio hitam.


Setelah itu Devira juga menemukan sebuah video, bagaimana Melani dan juga teman-temannya memperlakukan Devi dengan semena-mena.


Devi di ikat disebuah kursi, dengan kasar pakaian yang digunakan oleh Devi di sobek secara paksa. Devi hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan berurai air mata.


Ia tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk mengatakan sesuatu saja ia tak mampu karena mulutnya di lakban.


Sobekan Pakaian Devi mereka sebar di atas Devi, sehingga sobekan pakaian itu berserakan di lantai. Tak puas sampai disitu, seluruh pakaian Devi mereka sobek hingga terlepas semuanya.


Hanya pakaian dalam saja yang tersisa, Devi hanya bisa menangis menerima perlakuan mereka. Sambil berusaha untuk melepaskan diri dari ikatannya.


"Devi, ini adalah akibatnya dari ulahmu sendiri. Seandainya kau menuruti kemauan kami maka kau tidak akan mengalami hal ini."


"Lihatlah tubuh seksi yang selalu kau banggakan ! tubuh yang selalu kau gunakan untuk menggoda Devan. Sekarang tubuh itu akan menjadi tontonan gratis para lelaki hidung belang yang akan menemukan mu di tempat ini." ucap Melani.


Kemudian Melani menampar wajah Devi dengan sangat keras, tak puas sampai disitu saja Melani juga meludahi wajah Devi dan setelah itu ia pergi meninggalkan Devi dengan kondisi yang sangat mengenaskan.


Sementara teman-teman Melani tertawa terbahak-bahak melihat apa yang menimpa Devi. Sayangnya video itu hanya sampai disitu saja.


Dengan cepat Devira melacak pemilik ponsel yang digunakan untuk merekam video tersebut. Dan setelah ia menemukannya ternyata itu adalah milik salah satu teman Melani.


Dan akun yang mengirimkan video tersebut juga pemilik ponsel tersebut. Tak butuh waktu lama, Devira segera melacak keberadaan pemilik ponsel pintar itu.


Setelah menemukannya ia segera bangkit, dan keluar meninggalkan rumah untuk menemukan pelaku yang telah merekam video itu.


Dengan begitu Devira bisa mengetahui siapa saja orang yang terlibat di dalam pembunuhan dan pemerkosaan yang dialami oleh Devi.


Darah Devira sekan mendidih dan sudah berada di ubun-ubun. Dengan kecepatan yang sangat tinggi ia melaju menuju alamat pemilik video itu.


Bagaikan sebuah angin yang berhembus, Devira menyapu jalanan menggunakan motor yang biasa ia gunakan di arena balap.


Lengkap dengan topeng yang biasa ia gunakan saat terjun ke dunia mafia. Hanya butuh hitungan menit waktu yang dibutuhkan oleh Devira untuk mencapai tujuannya.


Setelah sampai ia langsung menerobos masuk tanpa perduli dengan kerusakan dan kekacauan yang di timbulkan olehnya. Siapapun yang berani menghalanginya, dengan mudah ia singkirkan.


"Siapa kau ! dan untuk apa kau menerobos rumah kami ?." teriak seorang wanita paruh baya itu.


Kecuali satu, ya mangsa yang ia cari. Teman Melani dan juga teman Devi si pelaku yang telah merekam video penganiayaan terhadap Devi.


Dengan kasar Devira menampar wajah cantik yang ketakutan itu. Membuat bibirnya mengeluarkan cairan berwarna merah.


"Siapa kau dan apa kesalahan ku ? Apa tujuan mu datang ke rumah ini ?." tanya gadis itu dengan menahan sakit diwajahnya.


"Aku datang untuk membalas dendam !." jawab Devira dengan penuh penekanan.


"Apa yang telah aku lakukan padamu ? sehingga kau ingin membalas dendam dan kau dengan tega membunuh seluruh anggota keluarga ku. Apa salah mereka ?." tanya gadis itu lagi.


"Kesalahan mereka adalah membiarkan anak gadisnya menjadi seorang yang tidak mempunyai hati nurani." jawab Devira.


Setelah mengatakan hal itu, Devira langsung menembakkan pistolnya kearah gadis itu.


"Jangan ! jangan bunuh aku, aku mohon ampuni aku." ucap gadis itu sambil memohon.


"Jelaskan apa yang membuat mu melakukan hal itu ?." jawab Devira sambil menunjukkan video dimana Devi sedang mereka siksa sampai mereka menelanjangi Devi.


"Aku, aku hanya disuruh oleh Melani." jawab gadis itu dengan ketakutan.


"Jawab pertanyaan ku, dan berbelit-belit jika kau masih sayang dengan nyawamu !." ucap Devira dengan menodongkan pistolnya tepat di kening gadis yang kini berkeringat dingin itu.


"Aku mohon jangan sakiti aku dan jangan bunuh aku." ucap gadis itu dengan meneteskan air mata.


Devira hanya tersenyum miring mendengar permohonan dari seseorang yang tidak pernah berfikir bagaimana rasanya menjadi Devi saat itu.


"Apakah kau berfikir hal itu saat melakukan semuanya kepada Devi ? Apakah kau ingat bahwa kau masih menyayangi nyawamu ?"


"Dan apakah kau tau bagaimana rasanya menjadi Devi ? pernah kau berfikir sedikit saja tentang perasaan Devi ?." tanya Devira dengan menahan amarahnya.


"Aku, aku ..., " ucap gadis itu dengan sangat ketakutan.


"Sebelum kesabaran ku habis, katakan apa kesalahan Devi kepada kalian semua sehingga kalian tega melakukan hal itu kepada Devi ?." tanya Devira dengan menatap tajam gadis yang sangat pucat pasi itu.


Dengan tubuh yang gemetar gadis itu berusaha untuk menatap wajah Devira yang tersembunyi dibalik topeng.


"Aku akan mengatakan sesuatu dengan jujur, tapi aku mohon ampuni kesalahan ku dan tolong jangan bunuh aku."


"Karena aku hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh Melani. Meskipun aku sadar aku telah melakukan hal yang salah." jawab gadis itu mencoba untuk mencari pengampunan.


Devira tidak menjawab, ia hanya semakin menekan pistol ditangannya dan perlahan menarik pelatuknya.


"Baiklah akan aku katakan semuanya yang aku ketahui, tapi tolong jangan bunuh aku." ucap gadis itu lagi.


Devira melemparkan sesuatu ke arah televisi yang ada di ruangan itu. Dan aneh Tv tersebut menyala seperti sebuah kamera yang siap merekam pengakuan gadis yang saat ini ada dihadapannya.


"Katakan dengan jelas jika kau memang masih sayang nyawamu dan juga nyawa keluarga mu !." ucap Devira sambil menyingkir dari hadapan gadis itu.