Devi Devira

Devi Devira
Bab. 32. Bunga Melati



Setelah mengatakan semuanya, tuan L segera berpamitan untuk kembali ke rumahnya yang terletak dipinggiran kota.


Karena ia tidak mungkin untuk tinggal terlalu lama bersama dengan Devan, hal itu akan mempermudah musuh untuk mengetahui siapa yang ada dibalik Devan.


"Devan, jangan pernah kau bertindak dengan gegabah. Pikirkanlah semua dengan matang baru bertindak. Hal itu untuk mengantisipasi kejadian yang tidak kita inginkan." ucap tuan L.


Setelah mengatakan hal itu beliau langsung pergi meninggalkan Devan. Sementara Devan kembali ke ruang kerjanya setelah mengantarkan tuan L sampai di gerbang rumah.


Devan termenung memikirkan hal-hal yang terjadi belakangan ini. Semuanya seperti saling berhubungan satu dengan yang lainnya.


Dan yang membuatnya tidak mengerti mengapa kakaknya tidak mengenali dirinya sebagai adik kandungnya.


Devan memejamkan matanya, mencoba berfikir apa penyebab sang kakak tidak bisa mengenali dirinya. Terbayang bagaimana sang kakak yang saat itu bertaruh nyawa untuk melindunginya.


Bahkan ia rela tubuh kecilnya terluka karena pukulan dan goresan senjata tajam demi menyelamatkan dirinya.


"Kakak !." teriak Devan dengan spontan.


Hal itu membuat bi Minah, langsung menghampirinya karena mendengar teriakkan itu. Dan ini bukan pertama kalinya Devan berteriak memanggil sang kakak.


Setiap bayangan masa lalunya terlintas dalam ingatannya, ia seolah ingin menolong sang kakak namun apa daya tak ada yang bisa ia lakukan saat itu.


Sehingga ia hanya bisa berteriak memanggil sang kakak, dan hal itu terjadi sampai saat ini. Kejadian itu sangat membekas dalam ingatan Devan hingga ke alam bawah sadarnya.


Hal itulah yang menjadi alasan Devan memilih menjadi seorang mafia, karena ia tidak ingin jika keluarganya akan mengalami hal buruk itu lagi karena ia bisa melindungi mereka dari orang-orang yang tidak mempunyai hati nurani.


Dan alasan itu pula yang membuat Devan mempunyai prinsip bahwa mafia yang ia pimpin tidak pernah terlibat dalam hal tindak kekerasan kecuali untuk melindungi dirinya.


"Tuan, apakah anda bermimpi buruk lagi ?." ucap bi Minah yang sudah berada didekatnya.


"Iya bi, bayangan itu selalu saja menghantui pikiran ku." ucap Devan dengan mengatur nafasnya.


"Tuan yang sabar ya, semoga tuan besar dan juga nyonya serta tuan muda bahagia di alam sana." ucap bi Minah dengan sedih.


"Tidak bi, kakak masih hidup. Dan saat ini kakak juga berada di kota ini. Bi tolong katakan mengapa kakak tidak bisa mengenali Devan ? apakah kakak telah melupakan Devan ?." tanya Devan dengan sedikit frustasi.


Bi Minah menatap wajah Devan dengan seksama. Terlihat kejujuran dari sorot matanya. Hal itu membuat Bi Minah yakin bahwa Devan tidak mengigau atau hanya sebatas halusinasi Devan.


"Tuan, jika tuan muda tidak mengenali tuan itu sangat wajar. Saat itu kalian masih terlalu kecil terlebih tuan."


"Dari masa ke masa tuan banyak mengalami perubahan, bahkan bi Minah tidak mengenali tuan saat pertama kali bertemu dulu." jelas bi Minah.


"Benar bi, kakak pasti tidak mengenali aku sama seperti bibi waktu itu." ucap Devan.


Ia ingat bagaimana reaksi bi Minah saat pertama kali bertemu dengan Devan. Padahal bi Minah adalah orang yang telah merawatnya sejak baru lahir.


Namun saat tragedi berdarah itu bi Minah sedang pulang kampung, sehingga beliau tidak mengetahui apa yang menimpa keluarga Devan.


"Tuan, pakailah gelang pemberian kedua orang tua tuan. Dengan begitu jika suatu saat tuan muda bertemu dengan tuan beliau pasti akan mengenali gelang itu."


"Karena hanya kalian berdua yang mempunyai gelang itu. Bahkan bi Minah bisa mengenali tuan saat melihat gelang itu." jelas bi Minah.


"Bi Minah benar." jawab Devan.


Setelah mengatakan hal itu Devan segera keluar dan berlari menuju kamar pribadinya. Ia ingin segera mencari gelang pemberian kedua orang tuanya.


Hanya itu satu-satunya yang masih ia miliki hingga saat ini. Ia berharap jika suatu saat ia bertemu dengan sang kakak, maka sang kakak bisa segera mengenalinya sebagai seorang adik.


Ya hanya itu yang bisa Devan lakukan, karena Devan juga tidak yakin bisa langsung mengenali wajah sang kakak setelah sekian lamanya mereka tidak saling bertemu.


Sementara Devira tengah sibuk merapikan kamar Devi. Meskipun ia tidak pernah tinggal satu kamar namun kamar itu begitu akrab dengan dirinya.


Karena setiap malam keduanya selalu melakukan video call dan memperlihatkan keadaan kamar masing-masing.


"Devi biasanya selalu menyimpan kisahnya dalam sebuah tulisan. Dimana Devi menyimpan tulisan itu ? aku harus bisa menemukannya."


"Mungkin dengan tulisan Devi, aku bisa mengetahui siapa saja yang terlibat dalam pembunuhan terhadap dirinya." ucap Devira lirih.


Kemudian Devira merapikan setiap buku-buku yang ada didalam rak. Meskipun semua terlihat rapi namun tetap saja Devira ingin merapikan buku-buku tersebut.


Dan benar saja ada sesuatu yang jatuh dari buku-buku tersebut. Devira segera memeriksanya dan menemukan sebuah pin bunga melati.


Dengan cepat Devira mengambil pin yang ia dapatkan dari polisi waktu itu. Benar saja pin itu sama persis dengan yang ia temukan dari kamar Devi.


"Mengapa pin ini sama persis, apakah ini milik satu orang atau ini merupakan tanda sebuah anggota ?." ucap Devira.


Kemudian Devira mendekati rak buku yang sempat ia rapikan tadi, dan melihat satu persatu buku-buku yang tertata rapi itu.


Pandangan Devira tertuju pada sebuah buku yang tidak mempunyai sebuah judul, buku itu bersampul warna biru.


Warna biru adalah warna favorit Devi. Dengan cepat ia mengambil buku itu dan mulai membaca tulisan demi tulisan yang merupakan keseharian Devi.


Semua Devi tulis dengan sangat rapi semua kisah yang ia alami, bahkan semua perlakuan buruk yang ia terima selama menjadi siswa SMA Persada.


"Aku bukan babi yang dicocok hidungnya, sehingga kalian dengan sesuka hati memperlakukan aku seperti itu."


"Aku adalah manusia yang sama seperti kalian, hanya saja takdir yang membuat aku harus menjadi gadis miskin seperti ini."


"Tapi aku tidak akan pernah melakukan hal keji seperti yang kalian lakukan. Aku juga bukan orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan ku."


"Aku hanya melakukan sebuah kebenaran dan akan tetap mengatakan sebuah kebenaran. Jika hal itu membuat kalian kecewa, maka maafkan aku karena aku tidak bisa membuat hati semua orang bahagia."


Itulah kata terakhir yang tertulis dalam buku harian Devi. Terlihat gambar bunga melati yang sama persis dengan yang ada ditangan Devira saat ini.


"Kebenaran apa yang Devi ketahui ? dan apa maksud bunga melati ini ?." tanya Devira.