
Devan terdiam, ia mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Devira. Seandainya selama ini ia sedikit perduli dengan kehidupan anggotanya mungkin kejadiannya tidak seperti ini.
Setidaknya Devi tidak menjadi korban pemerkosaan oleh Boby. Dan mungkin markas Scorpio hitam masih berdiri dengan kokoh hingga saat ini.
"Devira mengapa kau meratakan markas Scorpio hitam ?." tanya Devan.
"Hal itu pantas dilakukan, agar tidak ada lagi markas yang dijadikan sebagai rumah bordil. Wanita dan minuman keras seolah sebagai makanan pokok saja."
"Sangat menjijikkan sekali kegiatan yang dilakukan oleh anggota scorpio hitam." jawab Devira apa adanya.
"Kau benar, tapi itu bukan atas perintah dan persetujuan ku." jawab Devan mencoba membela diri.
"Tapi kau adalah ketua scorpio hitam, jadi kau adalah orang yang paling bertanggung jawab atas semua kegiatan di scorpio hitam terlepas dari perintah mu atau bukan." jawab Devira.
Lagi-lagi Devan terdiam ia tak bisa menyangkal apa yang dikatakan oleh Devira. Ia memang orang yang harus bertanggungjawab atas semua yang terjadi pada scorpio hitam.
"Sebaiknya kita segera pergi ke rumah Boby, untuk Devan serahkan semuanya kepada saya biar dia saya didik agar menjadi lebih baik sebagai seorang pemimpin."
"Agar ia tidak di khianati untuk kedua kalinya. Dan yang pasti agar ia bisa menjadi lebih hebat lagi, tapi sebaiknya kita membeli sesuatu untuk kedua adik Boby." ucap Rian.
Ia tidak ingin mengulur waktu lagi, mereka harus segera menyelesaikan semua masalah ini agar ia bisa segera mengurus kesembuhan Devan.
Setelah mendengar ucapan Rian mereka kembali masuk kedalam mobil, namun kali ini Rian yang mengemudikan mobil tersebut.
Sementara Devira masih sibuk dengan ponselnya. Ia sedang membalas pesan-pesan sang Dedi yang sudah lama menunggu kedatangan putrinya itu.
Sementara Devan memperhatikan Devira dari balik kaca. Semua tentang Devira mampu membuat Devan kagum, lebih tepatnya membuat Devan suka. Ia sangat menyukai semua tentang Devira.
Melihat hal itu, Rian memperhatikan gerak gerik sang adik. Dan iapun tersenyum saat menyadari bahwa sang adik sedang mencuri-curi pandang dari Devira.
"Devan bagaimana ceritanya kau bisa diselamatkan oleh tuan L saat itu ?." tanya Rian mencoba mengalihkan perhatian Devan dari Devira.
Namun Devan tidak mendengar pertanyaan sang kakak, hal itu membuat Devira mengangkat kepalanya. Dan keduanya saling pandang satu sama lainnya. Rian dengan cepat menendang kaki Devan agar ia tidak larut dalam pikirannya terhadap Devira.
"Iya kak ada apa ?." tanya Devan.
"Apa yang sedang kau pikirkan ? sehingga ucapan ku tak bisa kau dengar." jawab Rian.
"Aku, aku, ah sudahlah." jawab Rian sambil mengacak rambutnya.
"Devan dimana kamu tinggal selama ini ?." tanya Rian basa-basi.
"Kak sebaiknya kau bertanya sesuatu yang penting, untuk tempat tinggal ku selama ini aku yakin kakak telah mengetahuinya bukan." jawab Devan sedikit kesal.
Pasalnya sang kakak seakan sengaja ingin mengganggu konsentrasinya terhadap Devira. Dan hal itu tertangkap oleh Devira.
"Kak Rian jika kita telah sampai sebaiknya kau segera membawa kedua adik Boby pergi jauh. Dan aku harap segera antarkan mereka ke Markas agar mereka bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak."
"Aku tidak ingin disaat aku menghukum Boby, mereka melihatnya. Dan jika mereka bertanya tentang Boby katakan kepada mereka bahwa Boby harus menebus dosa dan kesalahannya selama ini." ucap Devira.
"Baik." jawab Rian tegas.
Setelah mengatakan hal itu, Devira segera memejamkan matanya. Ia ingin berfikir dengan jernih, hukuman apa yang harus ia berikan kepada Boby.
Sebenarnya ia ingin membunuh Boby dengan sangat menyakitkan. Tetapi ia ingat bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang paling kita sayangi.
Terlebih lagi kedua adik Boby pasti sangat membutuhkan sang kakak untuk menemaninya dalam menjalani kehidupan ini.
Perjalanan mereka masih sangat panjang. Ia ingat bagaimana Reaksi Rian saat teringat kekejaman keluarga Melani yang dengan tega menghabisi keluarganya di depan matanya.
Sebuah trauma yang tak bisa sembuh hingga saat ini. Meskipun Rian saat itu masih di usia belia, tapi trauma itu telah pernah hilang dari ingatan bawah sadarnya.
Ia juga teringat pesan sang Mommy yang berulang kali mengatakan bahwa ia bukanlah seorang pembunuh, ia hanya ingin memberikan pelajaran kepada penjahat yang telah dengan tega memperkosa dan membunuh Devi dengan sangat brutal.
Devira tersentak dari lamunannya. Ia langsung duduk dengan bermandikan keringat dingin. Setiap kali ia teringat bagaimana kondisi jasad Devi saat itu, ia seolah-olah merasakan sakit yang sangat luar biasa.
"Apakah anda baik-baik saja ?." tanya Rian.
"Aku baik-baik saja." jawab Devira.
Setelah mengatakan hal itu ia segera menenggak minuman yang ada di sisinya. Setelah itu ia mengelap keringat dingin diwajahnya.
"Seandainya kau ingin terbebas dari rasa sakit itu, maka kau harus mengikhlaskan semua yang telah terjadi."
"Meskipun itu sangat sulit sekali, tapi jangan kau hilangkan semua kenangan pahit itu. Simpanlah di sisi hatimu sebagai sebuah kenangan."
"Lepaskanlah semuanya dan tariklah nafas dalam-dalam kemudian hembuskan lah secara perlahan-lahan." ucap Devan.
Devira hanya tersenyum mendengar penjelasan Devan. Ia masih belum bisa menerima kenyataan pahit yang dialami oleh Devi.
Penyesalan yang mendalam membuat dirinya masih terbebani dengan penderitaan Devi selama ini. Meskipun sebenarnya semua bukanlah kesalahannya tapi sebagai seorang saudara kembar ia merasa bersalah dengan semua yang terjadi terhadap Devi.
"Kalian turunlah lebih dahulu, dan segera bawa pergi kedua adik Boby." ucap Devira setelah mobil mereka mendekati rumah Boby.
Rian dan juga Devan menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa mereka setuju dengan ucapan Devira.
Setelah itu mereka segera keluar dari dalam mobil setelah mereka sampai. Sementara Devira masih menunggu di dalam mobil.
Devan dan juga Rian segera mengetuk pintu rumah Boby. Mereka tak ingin berlama-lama berada di tempat dan kejadian yang pasti mengandung banyak bawang merah itu.
"Permisi !." ucap Rian dengan sopan.
"Sebentar ! Siapa diluar ?." tanya seorang anak kecil yang tak lain adalah adik Boby.
"Aku Rian ! datang ingin bertemu dengan pemilik rumah ini yang saya tahu keduanya masih kecil. Saya mendapat perintah untuk membawanya pergi ke kota agar bisa bersekolah." jawab Rian dengan sopan.
Tak lama kemudian pintu terbuka perlahan. Muncul dua orang anak kecil yang sangat lusuh dan dekil dengan kondisi yang sangat kurus sekali.
Keduanya tersenyum saat melihat kedua pemuda tampan yang berdiri di hadapannya dengan tersenyum ramah.
"Saya pemilik rumah ini, apakah yang kakak berdua ini katakan benar adanya ?." tanya salah satu dari mereka.