Devi Devira

Devi Devira
Bab. 58. Akhir yang bahagia



Devan menggandeng tangan Devira dan mengajaknya untuk pergi meninggalkan Arin yang sedang terpuruk dalam kondisi yang sangat mengenaskan.


"Devan ! Jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri aku mohon jangan tinggalkan aku." teriak Arin dengan sekuat tenaga.


Namun Devan sama sekali tidak memperdulikan teriakannya. Arin menangis tersedu-sedu dalam genangan darah dan air mata.


"Bunuh saja aku, jangan siksa aku seperti ini. Bunuh saja aku ! Aku mohon." ucap Arin.


Devira kemudian berhenti dan menoleh kearah Arin. Setelah itu ia hanya tersenyum dan kembali melangkah bersama Devan.


Ia tidak perduli dengan kondisi Arin, sama halnya yang dilakukan oleh Arin saat melampiaskan kemarahannya terhadap Devi.


Setelah menyiksa dan menganiaya Devi, Arin pergi meninggalkan tempat dimana Devi terkapar dengan terus kehilangan darah dari setiap tusukan yang Arin lakukan.


Hingga Devi menghembuskan nafas terakhirnya. Kini Devira melakukan hal yang sama terhadap Arin, hanya saja mungkin Arin lebih menderita.


Meskipun ia berusaha untuk berbohong dengan kehamilannya namun Devira dan Devan tidak pernah memperdulikan hal itu.


Bahkan Devan lelaki yang menjadi alasan Arin berbuat jahat terhadap orang disekitarnya termasuk Devi, malah dengan tega memotong tangannya dan menghadiahkan kepada Devi.


Arin hanya bisa meratapi nasibnya yang kini hanya mampu menunggu ajal menjemputnya. Seandainya saja ada keajaiban datang untuk menyelamatkan nyawanya.


Tapi siapa yang akan datang di pemakaman yang sepi ini, terlebih makam ini telah dibeli oleh Devira. Pemakaman umum yang kini beralih fungsi sebagai makam keluarga.


Arin hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi terhadap dirinya. Jika ia beruntung maka ia akan segera mati seperti yang dialami oleh Devi.


Tapi jika ia tidak beruntung, ia akan terus menderita di setiap detik yang ia lewati. Sungguh derita di atas derita. Arin hanya bisa pasrah dengan nasibnya.


Ia menyesal telah melakukan hal keji itu terhadap Devi. Seandainya waktu bisa diulang kembali pastilah ia akan memperbaiki semuanya.


"Devi maafkan semua kesalahanku. Sungguh aku sangat menyesal telah melakukan perbuatan keji itu terhadap mu." ucap Arin dengan suara yang sangat lemah.


Terbayang kembali bagaimana kedekatannya dengan Devi. Setiap kebaikan Devi terhadap dirinya selama ini tak pernah ia anggap, ia terus saja berbuat jahat terhadap Devi.


Tetapi Devi sama sekali tidak pernah membalasnya dengan kejahatan ia tetaplah Devi, gadis cupu yang sangat baik hati dan pemaaf.


Sementara Devan mengantarkan Devira pulang ke rumahnya. Devira memeluk tubuh sang Mommy dengan berurai air mata.


Ia menceritakan semuanya tentang kejahatan Arin, sahabat dekat Devi. Dan Di tangan Arin pula nyawa Devi melayang.


Seolah anak yang sempat ia tolong kala pertama kali datang ke kota dan beliau kenalkan kepada sang putri.


"Mommy semuanya sudah terjadi. Arin telah menerima hukuman yang layak atas perbuatannya." ucap Devira.


Sang mommy hanya bisa mengangguk dan memeluk tubuh Devira dengan sangat erat. Ada sebuah penyesalan di dalam hati kecilnya.


Seandainya Devi dibesarkan dan di didik oleh sang Daddy pasti Devi bisa menjadi seorang gadis yang tangguh seperti Devira kakaknya.


Devan memilih kembali setelah memastikan Devira baik-baik saja. Ia masih mempunyai tanggung jawab terhadap kedua adik Boby.


Dan ia juga masih harus merawat tuan L, orang yang sangat berjasa dalam hidup Devan selama ini. Dan kini ia tidak sendiri lagi, karena sang kakak sudah ia temukan.


"Devan maafkan semua kesalahanku, aku telah berburuk sangka kepada mu selama ini. Dan terimakasih atas semuanya termasuk kebaikan mu terhadap Devi." ucap Devira.


Devan menghentikan langkahnya, dan ia menoleh kearah Devira. Devan tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya.


Devira berlari dan memeluk tubuh Devan. Jauh di lubuk hatinya ia masih sangat mengagumi Devan. Hal yang sama bagi Devan.


Keduanya berpelukan saling mencurahkan rasa yang selama ini selalu mereka ingkari. Dan terhalang oleh dendam dan kesalahpahaman.


"Devira aku sangat mencintaimu, sejak pertama kali kita bertemu di depan bandara waktu itu kau telah menjadi pemilik hati ini."


"Devira maukah kau menjadi kekasihku ?. Dan maukah kau menjadi ratu dalam kehidupan ku baik di dunia ini maupun diakhirat kelak ?." tanya Devan tanpa melepaskan pelukannya.


Devira hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya. Hal itu sudah mampu membuat hati Devan berbunga-bunga.


Kini lengkap sudah kebahagiaan Devan. Ia sudah menemukan sang kakak yang selama ini ia cari dan kini ia telah memiliki wanita pujaan hatinya.


Ibu Jihan tersenyum melihat kebahagiaan putrinya itu. Beliau berharap bahwa Devira bersama dengan orang yang tepat.


Hal yang sama juga terlihat dari wajah Rian. Ia percaya bahwa sang adik tidak salah dalam memilih. Karena ia tau bagaimana sikap Devira selama ini.


"Semoga kalian berbahagia." ucap Rian.


"Aamiin." jawab Ibu Jihan.


Semuanya akan indah pada waktunya. Dan semua yang kita tabur pasti akan kita tuai. Dan sebuah kebenaran akan mencari jalannya sendiri meskipun terkadang kedatangannya sedikit terlambat.