Devi Devira

Devi Devira
Bab. 13. Balap Motor



Devan meninggalkan Boby dan yang lainnya. Ia ingin beristirahat sebentar sebelum nanti malam ia akan mengikuti balapan untuk merebutkan zona C.


Sementara Melani sedang berusaha agar Devira dikeluarkan dari SMA Persada, meskipun Devan berniat untuk menanggung semua biaya sekolah dan biaya pengobatan Melani.


Namun Melani tetap meminta sang ayah agar melakukan apapun asal Devira bisa keluar dari SMA Persada. Dan yang pasti jangan sampai Devan membela gadis cupu itu apalagi sampai dekat dengannya.


"Pa, Melani mohon lakukan apapun asal Devi segera dikeluarkan dari SMA Persada dan jauhkan ia dari Devan." ucap Melani dengan wajah memelas.


"Kau tenang saja sayang, papa sedang mencari informasi agar Devan tidak bisa membantu gadis itu. Dengan begitu gadis itu tidak akan bisa berkutik lagi karena tidak ada seorangpun yang bisa membantunya." jawab sang ayah.


"Baiklah pa, Melani pegang janji papa." jawab Melani.


Tak lama kemudian, datanglah seorang menemui ayah Melani. Tetapi Melani tidak perduli dengan apa yang mereka bicarakan. Ia sangat asik menikmati musik dan juga cemilan yang ada dihadapannya.


"Bagaimana apakah kau sudah menemukan caranya ?." tanya ayah Melani.


"Sudah, malam ini Devan akan melakukan balap liar, dan aku telah meminta salah satu dari teman Devan agar melakukan sedikit trik yang bisa membuat Devan tidak masuk ke sekolah Besok." jawab orang itu.


"Jika tidak bisa masuk sekolah saja buat apa ?." tanya ayah Melani lagi.


"Bukan begitu tuan, dengan sabotase sedikit saja bisa membuat Devan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit." jelas orang itu lagi.


"Bagus ! ingat jangan sampai hal itu berakibat fatal. Dan pastikan bahwa zona C menjadi milik kita." ucap ayah Melani.


"Baik tuan." ucap orang itu kemudian ia segera pergi meninggalkan ayah Melani yang tetap setia duduk di kursi sambil bersantai.


"Devan, sebenarnya kalau kau mau bekerjasama dengan aku pasti kita akan menjadi sebuah kekuatan yang tak akan terkalahkan."


"Tapi kau memilih bersebrangan dengan ku, jadi jangan salahkan aku jika bertindak hal seperti ini." ucap ayah Melani.


Beliau menghembuskan asap rokok dan sesekali memeriksa ponselnya. Menunggu kabar kemenangan dari orang kepercayaannya.


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, zona C yang biasanya sepi kini sangat ramai dikunjungi oleh beberapa kelompok mafia yang memperebutkan wilayah itu.


Bahkan ada anggota mafia yang merupakan perwakilan dari luar negeri. Semuanya sekan tak mau ketinggalan dan mengikhlaskan zona C menjadi wilayah kekuasaan musuh.


Setiap perwakilan dari kelompok mafia telah siap diatas motor mereka masing-masing. Semuanya diam saat seseorang yang berpakaian serba hitam muncul dihadapan mereka.


"Seperti yang telah kita sepakati bersama, bahwa siapapun yang menjadi juara dalam balap motor ini maka ia dan juga kelompoknya akan menjadi penguasa zona C ini."


"Untuk itu, tanpa menunggu dan mengulur-ulur waktu lagi, mari kita mulai acara kita ini. Dan bagi siapapun yang belum hadir saat ini maka secara otomatis ia telah kalah." ucap orang tersebut.


Setelah mengatakan hal itu, ia segera meninggalkan tempat ia berdiri dan langsung digantikan oleh seorang wanita yang sangat cantik dan seksi.


"Kila mulai dengan hitungan mundur ! 5, 4, 3, 2, 1. Priiit." ucap wanita seksi tersebut dan semua peserta langsung melaju setelah peluit dibunyikan.


Seluruh peserta menunjukkan kemampuannya masing-masing, melaju dengan sangat kencang demi bisa menjadi sang pemenang.


Dengan kemampuan yang Devan miliki ia langsung memimpin pertandingan dan yang lainnya tertinggal sangat jauh.


Namun tak pernah Devan sangka bahwa didepannya sudah ada Devira yang telah mendahuluinya. Saat Devan menyadari bahwa ada seseorang yang ada didepannya ia langsung menambah kecepatannya.


Namun orang yang telah berada di depannya seakan tidak perduli dengan keberadaannya. Ia tetap melaju dengan kencang menyatu dengan hembusan angin malam dan membelah jalanan yang sepi.


Belum sempat Devan mengetahui siapa orang yang berada di depannya, tiba-tiba saja motor yang ia kendarai tak bisa ia kendalikan.


Ia melaju dengan kecepatan tinggi dan tak terarah kerena semua yang ia lakukan tidak berpengaruh dengan motornya.


"Ada yang telah melakukan sabotase terhadap Devan, tolong kau bantu dia jangan biarkan Devan mati ditempat ini."


"Hanya aku yang berhak atas nyawanya untuk menebus nyawa Devi. Selamatkan Devan hidup-hidup !." perintah Devira kepada Rian.


Mendapatkan perintah itu, Rian langsung menghubungi rekannya yang kebetulan tak jauh dari lokasi Devira.


Dengan cepat orang tersebut melajukan mobilnya dan menyusul Devan. Dengan susah payah akhirnya ia bisa berada disamping Devan.


"Cepat loncat ke sini, jika kau tidak mau nyawamu melayang." ucap anak buah Rian.


"Siapa kau ?." tanya Devan yang masih berusaha mengendalikan motornya.


"Yang harus kau cari tau siapa yang telah melakukan hal busuk itu terhadap mu." jawab anak buah Rian.


Setelah mendengarkan ucapan orang tersebut, Devan akhirnya berusaha berdiri di atas motornya yang melaju dengan kencang.


Dengan susah payah akhirnya ia bisa berdiri dan langsung meloncat ke dalam mobil yang berada di sampingnya.


Di detik berikutnya motor yang dikendarai oleh Devan terbakar dan terjatuh ke dalam jurang. Anak buah Devan yang mengetahui hal itu langsung menuju ke tempat kejadian.


Sementara anggota mafia yang lainnya tidak perduli dengan keadaan Devan. Mereka tetap melaju dengan kencang menuju garis finis.


Bersamaan dengan kejadian itu, Devira telah melalui garis finis dengan sempurna. Hal itu disambut dengan tepuk tangan yang gemuruh dari semua yang berada di tempat itu.


"Inilah pemenang kita !." ucap salah satu dari mereka.


"Silakan maju siapa pemimpin dari kelompok ini!." ucap lelaki yang diawal tadi membuka acara tersebut.


Rian segera melangkah maju, mendekati Devira yang tersenyum dibalik helmnya. Ia tengah fokus terhadap wanita cantik dan seksi yang sejak awal menjadi pusat perhatiannya saat menghitung mundur sebelum acara dimulai.


"Gadis itu seperti Arin." ucap Devira.


"Benar Queen, itu adalah Arin sahabat dekat Devi. Saya baru mendapatkan informasi itu baru semalam." jawab Rian.


"Lalu bagaimana dengan Devan ?." tanya Devira.


"Devan selamat hanya saat ini ia masih pingsan dan pasti sebentar lagi ia akan segera siuman." jelas Rian.


Devira diam, setelah itu ia meminta Rian untuk mengurus semuanya. Ia tidak ingin dikenal publik sebum dendamnya terbalaskan.


Devira pergi meninggalkan tempat itu dan segera menuju kesebuah tempat persembunyiannya. Sebelum ia kembali ke jalan bahagia.


Dimana sang mommy tengah menunggunya dengan cemas karena hingga larut malam bahkan menjelang pagi, Devira belum menampakkan batang hidungnya, padahal ia hanya ijin pulang terlambat sebentar.