Devi Devira

Devi Devira
Bab. 15. Pemilik SMA Persada



Devira kini sudah berada di sekolahnya. Disaat ia berada di lapangan sekolah hendak menuju ke kelasnya. Tiba-tiba ada suara yang menghentikannya dengan pengeras suara.


"Devi ! bukankah kemarin kau sudah diberi tau bahwa kau sudah tidak mendapatkan beasiswa lagi ?."


"Artinya jika kau ingin tetap bisa belajar di SMA Persada ini, maka kau harus melunasi dahulu seluruh biaya sekolah dan juga biaya pengobatan Melani." ucap ayah Melani dengan sangat jelas.


Seluruh siswa dan siswi yang ada disekolah itu langsung mendekati Devira, mereka yang ada didalam kelas keluar dan melihat dari depan kelas mereka masing-masing.


Ada yang melihatnya dari atas ada pula yang melihatnya dari dekat dengan mengelilingi Devira dan ayah Melani.


Tak lama kemudian Kepala Sekolah datang bersama dengan Melani dan juga kawan-kawannya. Tak lupa Boby dan yang lainnya juga ikut bergabung karena penasaran dengan apa yang terjadi.


"Devi, bagaimana apakah kau sudah menyiapkan uang untuk biaya sekolah dan juga biaya pengobatan untuk Melani ?." tanya Kepada Sekolah.


Dengan suara yang sangat jelas, sehingga apa yang dikatakan oleh Kepala Sekolah bisa di dengar oleh seluruh siswa yang ada disitu.


Devira hanya tersenyum mendengar pertanyaan sang Kepala Sekolah. Ia tidak ingin menjelaskan apapun. Ia hanya mengirimkan pesan singkat kepada Rian.


"Apakah kau tidak mendengarnya ?." tanya Melani.


Devira hanya mengangkat bahu sambil tersenyum kearah Melani dan kawan-kawannya. Hal itu tentu saja membuat sang ayah terpancing emosinya.


"Apa yang kau tunggu ? apakah kau mengharapkan kedatangan Devan ?. Jangan harap Devan akan datang dan membantu mu."


"Sekarang juga kau harus membayar semua biaya sekolah yang pernah aku keluarkan untuk dirimu, dan juga seluruh biaya pengobatan dan perawatan untuk Melani."


"Jika kau tidak bisa, maka saat ini juga segera tinggalkan SMA Persada ini. Dan jangan pernah lagi kau berani menginjakkan kaki di SMA Persada ini."


"Satu hal lagi semua biaya itu akan aku hitung sebagai hutang mu kepada keluarga kami, terutama kepada Melani." jelas ayah Melani dengan sangat keras.


Semua siswa dan siswi yang hadir di situ tercengang dengan apa yang dikatakan oleh ayah Melani. Semuanya saling pandang satu sama lain, setelah itu pandangan mereka tertuju kepada Devira.


Devira yang menjadi pusat perhatian hanya tersenyum simpul, tidak ada sedikitpun rasa takut dan khawatir.


"Devi jika kau menunggu kedatangan Devan, hari ini Devan tidak akan bisa datang karena ia saat ini tengah melakukan perjalanan ke luar negeri."


"Dan sayangnya dia juga tidak mengatakan apa-apa tentang ucapannya waktu itu yang ingin membantumu." jelas Boby.


Devira menatap kearah Boby, Devira sedikit menaikan alisnya mendengar ucapan dari Boby. Sebenarnya Devira ingin membalas ucapan Boby hanya saja ia urungkan niatnya itu.


"Boby dimana Devan saat ini ?." tanya Melani yang tidak bisa menguasai dirinya jika terkait soal Devan.


"Devan ada urusan di luar negeri." jawab Boby singkat.


"Bagaimana Devi ? apakah ada yang ingin kau katakan ?." tanya sang kepala sekolah.


Semuanya diam menunggu ucapan dari Devi. Ada yang berharap ada sebuah keajaiban yang bisa menyelamatkan Devira.


Ada juga yang berharap Devira segera pergi meninggalkan SMA Persada dan tidak akan pernah kembali lagi.


"Sekali gembel tetap saja gembel." ucap Melani.


"Tapi sayangnya kau tidak bisa menjaga kepercayaan yang aku berikan. Kau malah dengan sengaja melukai putri kesayangan ku.'


"Jadi, kau harus menerima akibat dari perbuatan mu sendiri. Dan kembalilah kau ke asal mu. Dasar gembel." ucap ayah Melani dengan arogan.


Semuanya terdiam, tak ada satupun yang bersuara. Termasuk Arin yang selama ini dikenal sebagai sahabat Devi.


"Tunggu dulu ! jangan sampai kalian menyesal telah mengatakan bahwa gadis itu adalah seorang gembel !." ucap seseorang dari kejauhan.


Terlihat seseorang dengan pakaian yang sangat rapi dengan setelah jas hitam dan juga kacamata hitam, berjalan dengan gagahnya.


Semua mata tertuju ke arah pria yang baru saja datang itu. Tak ada yang tau siapa pria itu kecuali Devira.


"Siapa kau ? mengapa kau ikut campur urusan orang lain ?." tanya ayah Melani.


"Tenang dulu tuan, jangan terburu-buru. Jika kau ingin tau siapa aku maka sebaiknya kau tunggu seseorang yang sebentar lagi datang kesini."


"Dari beliau kalian semua nanti pasti akan tau siapa yang harus pergi meninggalkan SMA persada ini." jawab pria itu dengan tersenyum dibalik kacamata hitamnya.


"Jangan berbelit-belit !." jawab ayah Melani dengan penuh amarah.


Tetapi pria itu tersenyum dan menunjukkan jarinya kearah sebuah mobil yang baru saja memasuki pintu gerbang.


Siapa yang tidak mengenal mobil hitam itu ? seluruh siswa dan siswi dan juga Dewan guru termasuk sang kepala sekolah sangat akrab dengan pemilik mobil itu.


Siapa lagi jika bukan sang pemilik SMA Persada. SMA dimana mereka menuntut ilmu dan juga sumber mata pencaharian para dewan guru dan kepala sekolah serta yang lainnya.


"Apa maksud mu anak muda ?." tanya sang kepala sekolah.


"Bapak kepala sekolah yang terhormat, mohon pelan kan suara anda, jangan sampai anda menyesal nantinya." jawab pria itu dengan santai.


Tak lama sang pemilik SMA Persada itu datang dan menghampiri pria itu dengan sangat ramah. Setelah itu beliau melihat ke sekeliling.


Satu persatu beliau menatap wajah siswa dan siswi SMA Persada yang pernah menjadi miliknya itu. Setelah itu beliau tersenyum kearah Devira.


"Semuanya silakan kembali ke kelas kalian masing-masing dan lanjutkan aktivitas kalian seperti biasanya."


"Dan satu hal lagi, tidak akan ada yang bisa mengeluarkan Devi dari sekolah ini kecuali ia sendiri yang menghendakinya." jelas sang pemilik SMA Persada itu.


"Bisa anda jelaskan apa alasannya ?." tanya sang kepala sekolah.


"Alasannya adalah kalian semua yang belum mengenal Devi yang sesungguhnya. Sebenarnya ia adalah pemilik SMA Persada ini."


"Selama ini aku hanya bertugas menjalankannya saja. Jadi bagi kalian yang ingin Devi keluar dari SMA Persada ini, silakan kemasi barang-barang kalian dan jangan pernah kembali lagi ke SMA Persada ini !." jelas sang pemilik SMA Persada itu dengan tegas.


Semuanya saling pandang tak percaya, bagaimana mana mungkin semua ini terjadi. Padahal mereka semua mengetahui siap Devi selama ini.


Hanya gadis cupu yang setiap hari menjadi bulan bulanan Melani dan kawan-kawannya. Bahkan mereka tau dimana Devi tinggal selama ini.


Bukan di sebuah istana mewah tetapi hanya disebuah gubuk yang sangat sederhana. Bahkan setiap hari ia harus berjalan kaki atau sesekali naik taksi agar sampai di sekolah.